GORONTALOPOST - Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengingatkan Prabowo Subianto, calon presiden potensial dalam Pilpres 2024, bahwa saatnya untuk memilih pasangan cawapresnya. Dalam pernyataannya kepada wartawan pada Senin (9/10), Adi Prayitno menggarisbawahi bahwa sekarang adalah saat yang krusial karena daftar calon cawapres sudah semakin menyempit.
"Mengingat nama-namanya pun sudah semakin mengerucut pada Airlangga Hartarto dan Erick Thohir. Juga ada Khofifah yang belakangan ikut menyeruak muncul di antara dua nama yang selama ini sering dikaitkan dengan Prabowo," kata Adi.
Adi juga menyatakan kekhawatirannya bahwa penundaan dalam pemilihan cawapres oleh Prabowo dapat berdampak negatif pada dirinya sendiri dan berpotensi meningkatkan ketidakstabilan dalam Koalisi Indonesia Maju.
Dia menyarankan bahwa dengan membuat keputusan lebih cepat, Prabowo dan pasangan cawapres yang dipilihnya akan dapat dengan lebih efektif membangun hubungan dengan anggota Koalisi Indonesia Maju serta memulai sosialisasi kepada calon pemilih sebelum batas waktu pendaftaran capres-cawapres.
Menurut Adi, Prabowo harus memberikan pertimbangan pertama kepada Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. Ia mencatat bahwa Partai Golkar adalah partai besar dengan jaringan yang kuat yang dapat mendukung Prabowo Subianto, ditambah lagi dengan kemampuan kepemimpinan politik dan ekonomi Airlangga Hartarto.
"Menurut saya Pak Prabowo pertama-tama harus mempertimbangkan variabel politik dan kapasitas sosok Airlangga Hartarto. Bagi Airlangga dan Partai Golkar, bukan tidak mungkin mereka akan punya opsi politik lain jika pada akhirnya Prabowo tidak memilihnya," ucapnya.
Adi juga mencatat bahwa PDIP telah mulai menjalin kontak dengan tokoh-tokoh senior dari Partai Golkar seperti Luhut dan Jusuf Kalla. Menurutnya, ini bisa menjadi sinyal bahwa Golkar mungkin akan berpindah haluan. Bahkan PAN, menurutnya, juga memiliki potensi besar untuk berpindah haluan, dan tidak ada yang dapat memastikan bahwa mereka akan tetap bersama Prabowo.
"Lagi-lagi ini tergantung tawaran yang diberikan PDIP. Tawaran tertingginya bisa saja membuka ruang Ketua Umum Golkar Airlangga menjadi cawapres dari Ganjar, apalagi jika kekuatan PDIP dan Golkar menyatu mengingat keduanya adalah partai terkuat," ujar Adi.
Dia juga mencatat bahwa jika Golkar berpindah dari Partai Gerindra, itu akan berdampak pada kekuatan koalisi yang mendukung Prabowo. Meskipun demikian, Partai Golkar sebagai partai besar memiliki suara hampir 12 persen dalam Pemilu Legislatif 2019 dan harus dianggap sebagai pemain yang penting dalam dinamika politik.
"Ditambah lagi mesin politik dan pengalaman tempur Partai Golkar yang cukup luar biasa. Ya saya pikir Prabowo bisa belajar dari pengalaman hengkangnya Cak Imin dan PKB," pungkas Adi. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey