Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Menarik! Berikut Jejak Sejarah dan Perkembangan Alat Musik Tradisional Kolintang

Priska Watung • Selasa, 26 November 2024 | 12:07 WIB
seorang sedang memainkan kolintang
seorang sedang memainkan kolintang

GORONTALOPOST - Kolintang adalah alat musik tradisional yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, dan menjadi salah satu kebanggaan budaya daerah tersebut. Alat musik ini memiliki suara yang merdu dan khas, serta telah melewati proses panjang dalam perkembangan bentuk dan fungsinya. Dari cerita rakyat hingga ke peranannya dalam upacara adat dan acara budaya, kolintang tetap menjadi simbol identitas dan kebudayaan Minahasa.

Asal-usul kolintang dapat ditelusuri melalui cerita rakyat yang menceritakan tentang seorang pemuda bernama Makasiga yang berkelana mencari alat musik lebih merdu dari seruling emas untuk meminang gadis cantik bernama Lintang. Dalam perjalanan, Makasiga akhirnya menemukan bunyi merdu dari potongan kayu yang dilemparkan, yang kemudian ia bentuk menjadi alat musik kolintang. Alat musik ini terbuat dari bilah kayu yang disusun rapi di atas rak, menghasilkan nada yang bervariasi berdasarkan panjang pendeknya bilah kayu. Kolintang termasuk dalam kategori perkusi bernada, di mana suara dihasilkan dari getaran tubuh kayu yang dipukul dengan pemukul khusus.

Perkembangan kolintang tidak berhenti pada penemuan awal tersebut. Pada tahun 1830, ketika Pangeran Diponegoro dan pengikutnya diasingkan di Minahasa, mereka membawa gamelan yang kemudian menginspirasi penggunaan peti resonator pada kolintang. Seiring waktu, kolintang mengalami perubahan signifikan, salah satunya adalah penambahan tangga nada diatonis oleh seorang tunanetra, Nelwan Katuuk, pada tahun 1940. Dalam perkembangannya, kolintang mulai memiliki jarak nada yang lebih luas, dengan peningkatan hingga empat setengah oktaf pada 1960.

Kolintang pada masa kini dimainkan dalam berbagai fungsi, tidak hanya sebagai alat musik pengiring dalam upacara adat, tetapi juga dalam pertunjukan seni, musik tradisional, dan penyambutan tamu. Alat musik ini kini memiliki hingga sembilan jenis instrumen dalam satu set kolintang lengkap, termasuk melodi, cello, bass, dan alto, yang dimainkan secara bersamaan untuk menciptakan harmoni yang indah. Setiap instrumen memiliki peranannya masing-masing, dengan melodi membawa lagu utama, bass menghasilkan suara rendah, dan alto menciptakan treble yang sedang.

Kolintang kini bukan hanya alat musik, tetapi juga menjadi simbol kebudayaan yang mempesona. Sebagai bagian dari warisan budaya Minahasa, kolintang tetap mengandung nilai sejarah, spiritual, dan sosial yang mendalam. Alat musik ini mengajarkan kita pentingnya melestarikan tradisi, serta menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dan budaya. Hingga kini, kolintang terus dimainkan dalam berbagai acara budaya dan menjadi kebanggaan masyarakat Minahasa, sebagai bukti dari kekayaan budaya Indonesia yang harus terus dijaga dan dilestarikan. (Artha)

Editor : Priska Watung
#musik #Alat music tradisional #simbol #alat #budaya #Asal-usul #nada #kebanggan #daerah #tradisional