GORONTALOPOST - Pakaian adat Sangihe dan Talaud bukan hanya sekadar busana tradisional, tetapi juga merupakan simbol kebanggaan dan warisan budaya yang kaya akan makna. Pakaian ini sering digunakan dalam upacara adat Tulude, sebuah perayaan yang diadakan setiap tahun oleh masyarakat suku Sangihe dan Talaud di Kepulauan Nusa Utara, Sulawesi Utara. Upacara Tulude bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga cara masyarakat lokal melestarikan nilai-nilai leluhur, adat istiadat, serta kearifan lokal yang sudah turun-temurun diwarisi dari generasi ke generasi.
Pakaian adat Sangihe dan Talaud dibuat dari serat pohon kofo, yang dikenal sebagai bahan tradisional khas dari daerah tersebut. Pohon kofo, sejenis pohon pisang, banyak tumbuh di daerah Sangihe dan Talaud. Serat pohon ini kemudian ditenun menggunakan alat tradisional bernama kahuwang, menghasilkan kain tenun bernama laku tepu. Istilah laku tepu berarti pakaian dengan leher yang agak sempit atau tidak terbuka. Kain ini tidak hanya memanfaatkan bahan alami dari alam sekitar tetapi juga menunjukkan kerja keras dan keterampilan tinggi para pengrajin lokal.
Untuk pakaian pria, laku tepu memiliki desain yang panjang hingga sebatas tumit, dengan bentuk leher setengah lingkaran. Aksesori seperti popehe dan paporong melengkapi penampilan mereka, memberikan kesan keagungan dan kehormatan. Sementara itu, untuk pakaian wanita, laku tepu dirancang dalam bentuk baju terusan hingga betis, dengan lipatan segitiga di bagian leher yang menyerupai huruf V. Para wanita juga mengenakan aksesori tambahan seperti kahiwu, bandang, dan botu pusige, yang menambah keanggunan dan keindahan pakaian adat tersebut.
Melalui pakaian adat Sangihe dan Talaud, masyarakat lokal tidak hanya menunjukkan identitas budaya mereka tetapi juga menegaskan komitmen untuk menjaga kelestarian tradisi yang diwarisi dari leluhur. Pakaian ini juga menjadi simbol persatuan dan keharmonisan antara manusia, alam, serta masyarakat lokal yang hidup berdampingan secara harmonis di Kepulauan Nusa Utara.
Kesimpulan
Pakaian adat Sangihe dan Talaud bukan hanya sekadar busana tradisional, tetapi juga simbol kebanggaan, kehormatan, dan identitas budaya masyarakat lokal. Melalui penggunaan serat pohon kofo yang dipadukan dengan keterampilan tenun tradisional, pakaian ini menciptakan keindahan serta makna yang mendalam tentang kerja keras, kearifan lokal, dan kepercayaan masyarakat. Melestarikan pakaian adat ini bukan hanya soal menjaga penampilan tradisional, tetapi juga tentang menjaga warisan nilai, keagungan leluhur, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dengan memahami pakaian adat ini, kita dapat lebih menghargai betapa pentingnya menjaga tradisi dan kearifan lokal sebagai fondasi sebuah identitas budaya yang kaya dan unik. (Artha)
Editor : Priska Watung