Gorontalopost, JAKARTA – Polemik kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta kembali menjadi perhatian publik.
Meski kargo BBM milik Pertamina telah tiba di Tanah Air, masih banyak SPBU swasta yang kosong sehingga masyarakat sulit mendapatkan pasokan.
Baca Juga: Komisi I DPRD Gorontalo Gandeng KPI Pusat, Seleksi KPID 2026–2029 Dipastikan Transparan
Pemerintah pun turun tangan dengan menawarkan kerja sama antara SPBU swasta dan Pertamina agar distribusi kembali normal.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, belum semua SPBU swasta menyetujui pembelian BBM dari Pertamina.
Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan pihaknya terus menekan agar kesepakatan segera dijalankan.
“Sudah ada beberapa pihak swasta yang mulai menyetujui poin-poin kerja sama.
Tinggal menunggu realisasi di lapangan. Kami rutin bersurat ke Pertamina dan swasta untuk memastikan segera diimplementasikan,” ujarnya.
Sebelumnya, empat perusahaan besar pengelola SPBU swasta – Shell Indonesia, BP-AKR, ExxonMobil, dan Vivo telah bertemu Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa mereka bersedia mengambil suplai BBM dari Pertamina.
Menurut Bahlil, langkah ini penting agar masyarakat tidak lagi terjebak dalam antrean panjang akibat stok kosong.
Dalam pertemuan itu, Bahlil juga membeberkan tiga syarat utama kolaborasi.
Baca Juga: Atlet Pencak Silat Gorontalo Borong Medali di Kejuaraan Internasional, Raih Gelar Kontingen Terbaik
Pertama, SPBU swasta membeli base fuel atau bahan bakar dasar yang nantinya akan dicampur sendiri di tangki masing-masing.
Kedua, adanya joint surveyor yang berfungsi mengawasi kualitas BBM agar tetap terjamin.
Ketiga, adanya kesepakatan harga yang adil bagi kedua belah pihak, di mana stabilitas harga tetap mengikuti tren Indonesia Crude Price (ICP) dunia.
Pemerintah optimistis kolaborasi ini akan segera mengakhiri krisis BBM di SPBU swasta.
“Kita ingin harga tetap stabil dan tidak ada pihak yang dirugikan, baik Pertamina maupun swasta.
Pada akhirnya, yang terpenting adalah kebutuhan energi masyarakat terpenuhi,” tegas Bahlil.
Dengan kesepakatan ini, publik menanti realisasi di lapangan agar antrean panjang di SPBU segera menjadi sejarah.(JP).
Editor : Azis Manansang