Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Gorontalo Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Tabung CNG Merah Putih 3 Kg Siap Jadi Pengganti LPG, Ini Hasil Uji dan Tantangan yang Dihadapi

Azis Manansang • Sabtu, 4 Juli 2026 | 16:58 WIB

 

Tampilan, tabung CNG Merah Putih memiliki karakteristik yang berbeda dengan tabung melon LPG 3 kilogram. (F:Istimewa)
Tampilan, tabung CNG Merah Putih memiliki karakteristik yang berbeda dengan tabung melon LPG 3 kilogram. (F:Istimewa)

Gorontalopost, JAKARTA – Pemerintah mulai mempersiapkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) Merah Putih sebagai alternatif energi rumah tangga. 

Melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini tengah menguji

tabung CNG berkapasitas 3 kilogram sebelum nantinya diperkenalkan secara luas kepada masyarakat.

Baca Juga: Pelantikan Srikandi Jaga Desa di Boalemo, Lahmudin Hambali Dorong Perempuan Ambil Peran Strategis

Pengujian dilakukan untuk memastikan aspek keamanan dan kelayakan penggunaan  tabung yang bekerja dengan tekanan jauh lebih tinggi dibandingkan tabung LPG  konvensional.

Secara tampilan, tabung CNG Merah Putih memiliki karakteristik yang berbeda dengan  tabung LPG 3 kilogram. 

Bentuknya silinder dengan dasar datar, sementara bagian atas dilengkapi pelindung berwarna merah yang menyatu dengan badan tabung. 

Warna putih mendominasi bagian luar tabung yang dilengkapi ventilasi bermotif sarang lebah.

Keberadaan casing luar tersebut diduga berfungsi sebagai pelindung tabung bertekanan tinggi.

Selain itu, desain katupnya juga berbeda dari tabung LPG yang selama ini beredar 
di masyarakat.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, 
mengungkapkan bahwa 

tabung tersebut menggunakan teknologi tipe 4 yang berbahan dasar plastik atau polimer dengan penguatan komposit dan fiberglass sehingga mampu menahan tekanan gas dalam jumlah besar.

Meski menggunakan teknologi berbeda, masyarakat tidak perlu mengganti kompor yang  telah dimiliki. 

Baca Juga: Hebat Rum Pagau di Forum Nasional Apkasi, Kepala BKN Sebut Sosok Bupati yang Layak Dicontoh

Pemerintah memastikan kompor LPG saat ini tetap dapat digunakan tanpa 
memerlukan alat konverter tambahan.

“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti  itu. 

Nah, itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, 

dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting,” kata Laode dalam diskusi publik di Jakarta Selatan.

Untuk mendukung tahap awal implementasi, pemerintah berencana mendatangkan sekitar  100.000 unit tabung CNG dari China. 

Baca Juga: Sekda Bone Bolango Optimistis Target CKG Tercapai, Empat Puskesmas Lampaui 50 Persen Capaian

Langkah impor dipilih karena teknologi produksi tabung tersebut belum tersedia di dalam negeri.

"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum," ujar Laode.

"Iya impor dari China, seperti itu tahap awal ya," tambahnya.

Pengujian tabung di Lemigas juga dihadiri sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor  energi dan industri strategis, 

seperti PT Pertamina (Persero), PT PGN Tbk, PT Pertamina Patra Niaga, PT Gagas Energi Indonesia, PT Pindad, serta PT Genko.

Namun, rencana tersebut mendapat perhatian dari kalangan industri migas. Ketua Bidang Investasi dan Kerja Sama Aspermigas, Moshe Rizal, 

menilai biaya pengadaan tabung CNG akan menjadi tantangan karena material carbon fiber yang digunakan memiliki harga jauh lebih tinggi dibandingkan baja pada tabung LPG.

"Harga tabung carbon fiber itu bisa 10 hingga 20 kali lipat lebih mahal dari harga tabung  LPG saat ini. 

Bayangkan berapa besar subsidi yang harus digelontorkan pemerintah hanya 
untuk pengadaan tabungnya saja?” kata Moshe.

Ia menambahkan bahwa tingginya tekanan penyimpanan gas membuat penggunaan  material khusus tidak dapat dihindari.

“Ketika gas tersebut dipaksa masuk ke dalam tabung portabel rumah tangga, tekanan harus dinaikkan hingga puluhan kali lipat dari LPG. 

Lonjakan tekanan inilah yang mengubah prasyarat material menjadi sangat mahal dalam hal ini carbon fiber,” jelasnya.

Data Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM menunjukkan CNG disimpan pada tekanan sekitar 200–250 bar atau setara 3.000–3.600 psi. 

Sebagai pembanding, tekanan LPG rumah tangga hanya berkisar 5–10 bar, sedangkan LNG berada pada rentang 2–10 bar.

Perbedaan tekanan yang sangat signifikan itulah yang membuat pemerintah terus 
melakukan pengujian menyeluruh terhadap tabung CNG Merah Putih sebelum resmi digunakan oleh masyarakat luas.(Mg-01

Editor : Azis Manansang
#energi alternatif #tabung gas #gas melon 3 kg #merah putih #esdm