Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Relawan Literasi dari Pesisir Bone Bolango Gorontalo : Refleksi Perjalanan Relima 2025

Azis Manansang • Kamis, 4 Juni 2026 | 09:32 WIB
Sebagai Relima, peran saya adalah sebagai fasilitator dan katalisator. Saya berkontribusi dalam mengelola Perpustakaan Desa yang sebelumnya pasif, melakukan pengelompokan buku, dan memperbaiki sarana prasarana yang ada.(F:Istimewa)
Sebagai Relima, peran saya adalah sebagai fasilitator dan katalisator. Saya berkontribusi dalam mengelola Perpustakaan Desa yang sebelumnya pasif, melakukan pengelompokan buku, dan memperbaiki sarana prasarana yang ada.(F:Istimewa)

MENJADI relawan literasi “Relima 2025” bukan sekadar menjalankan tugas  organisasi, melainkan sebuah perjalanan menemukan kembali makna membaca di tengah digitalisasi yang pesat. 

Bagi saya, setahun belakangan adalah tentang menyalakan lentera kecil di sudut-sudut desa pesisir pantai yang mungkin selama ini terlupakan oleh akses informasi.

Langkah Nyata: Program Literasi 2025

Tahun ini, fokus kami adalah menjemput bola. Kami tidak menunggu orang datang ke perpustakaan, tapi membawa buku perpustakaan ke mereka. Beberapa program unggulan yang telah saya laksanakan meliputi:

Pesisir Pojok Smart Edu : Membawa koleksi buku tematik ke desa pesisir pantai, setiap seminggu sekali dan mengedukasi bagi remaja, pemuda dan masyarakat pesisir pantai mengenai cara membedakan disinformasi atau (hoax) di media sosial.

Pesisir Bercerita: Sesi membaca nyaring untuk anak-anak di kawasan pesisir pantai Bone Bolango guna menumbuhkan minat baca sejak dini.

Peran dan Kontribusi

Sebagai Relima, peran saya adalah sebagai fasilitator dan katalisator. Saya berkontribusi dalam mengelola Perpustakaan Desa yang sebelumnya pasif, melakukan pengelompokan buku,

dan memperbaiki sarana prasarana yang ada. Lebih dari itu, saya menjadi jembatan antara komunitas TBM (Taman Bacaan Masyarakat) setempat dengan sumber daya literasi. 

Saya aktif mendampingi pengelola TBM untuk mengurus Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) agar mendapat pengakuan nasional. 

Tak hanya itu, sebagai relawan, peran saya tidak terbatas pada kurasi buku. Tugas saya mencakup memetakan wilayah yang minim akses bacaan, menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat setempat, serta mengemas sesi diskusi agar tidak membosankan.

Saya belajar bahwa menjadi penggerak literasi berarti harus menjadi pendengar yang baik sebelum menjadi pembicara.

Capaian Kegiatan

Dalam waktu 2 bulan, dampak positif mulai terlihat. Terdapat peningkatan signifikan pada minat baca anak-anak yang ditandai dengan intensitas peminjaman buku di pojok baca yang meningkat.

Program "Pesisir Bercerita" rutin diikuti oleh 30 anak setiap minggunya. 
Secara kuantitatif, Relima ini berhasil menjangkau lebih dari 76 titik lokasi penerima 
bantuan buku perpustakan dengan partisipasi aktif sekitar 100 anak.

Namun, dampak yang paling bermakna adalah perubahan perilaku; melihat anak-anak yang awalnya asing dengan buku kini mulai antusias bertanya dan meminjam koleksi.

Secara personal, pengalaman ini mengasah empati dan kemampuan kepemimpinan saya dalam menghadapi realitas sosial yang beragam.

Dampak yang Dirasakan

Dampak paling nyata adalah perubahan perilaku anak-anak. Mereka tidak lagi hanya bermain gawai, tetapi mulai mencari buku bacaan.

Warga desa, khususnya orang tua, kini sadar bahwa literasi adalah investasi masa depan, bukan sekadar pelengkap pendidikan. 

Bagi diri saya sendiri, pengalaman ini mengajarkan ketabahan, manajemen konflik, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan baru. Saya merasa lebih peka terhadap 
ketimpangan akses informasi.

Refleksi dan Rencana Keberlanjutan

Refleksi terbesar saya adalah literasi bukan hanya soal mengeja huruf, tapi soal daya nalar untuk memahami kehidupan. Tantangan terbesar masih ada pada konsistensi.

Saya menyadari bahwa kunjungan sekali-dua kali tidaklah cukup. Saya juga menyadari bahwa literasi adalah kerja ikhlas. Saya belajar bahwa keterlibatan masyarakat adalah kunci.

Saya sering menemui kendala berupa kurangnya minat baca orang dewasa, yang membuat saya sadar bahwa literasi keluarga harus diperkuat.

Kegagalan-kegagalan kecil dalam kegiatan mengajar saya untuk lebih kreatif dalam menyampaikan pesan, tidak sekadar monoton membaca buku.

Oleh karena itu, rencana keberlanjutan saya adalah menginisiasi pembentukan "Komunitas Kambungu (Kampung) Literasi Pesisir"

kader pemuda setempat yang akan saya bekali kemampuan manajemen pojok baca mandiri agar semangat ini tetap hidup meski masa penugasan resmi telah berakhir.

(Penulis:  Apris Nawu Relima Lokus Kabupaten Bone Bolango

 

Editor : Azis Manansang
#Gorontalo #Literasi #relima #Bone Bolango #perpustakaan nasional