Dua puluh enam tahun setelah datang sebagai mahasiswa dan peserta MTQ nasional, Fajar kembali ke daerah ini dengan jabatan sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Baca Juga: Doa 40 Hari Rachmat Gobel Warnai Tasyakuran HUT RI di Kabupaten Gorontalo
Kunjungan ketiga Fajar ke Gorontalo berlangsung Selasa (18/8/2026). Kali ini, Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) menjadi salah satu tujuannya
untuk memperkuat penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan memastikan program tersebut mampu melahirkan guru-guru profesional.
Kenangan lama pun kembali muncul. Fajar mengingat bagaimana dirinya pada 2000 harus menempuh perjalanan selama dua hari menggunakan kapal dari Surabaya menuju Gorontalo.
Saat itu, ia datang sebagai mahasiswa UMS sekaligus peserta MTQ nasional dengan biaya perjalanan yang ditanggung kampus.
“Kalau mengingat perjalanan pertama saya ke Gorontalo, rasanya seperti kembali membuka lembaran lama.
Dulu saya datang sebagai mahasiswa, sekarang saya datang membawa amanah yang berbeda untuk ikut memperkuat dunia pendidikan,” ujar Fajar.
Pada kunjungan kali ini, Fajar disambut melalui prosesi adat Gorontalo. Ia diterima Ketua PWM Gorontalo Sabara Karim, Rektor UMGO Prof. Abd. Kadim Masaong, jajaran pimpinan Muhammadiyah dan universitas, serta mahasiswa yang sedang mengikuti PPG.
Ketua PWM Gorontalo Sabara Karim menyampaikan bahwa Muhammadiyah memiliki komitmen panjang dalam membangun pendidikan.
Sebanyak 58 sekolah Muhammadiyah kini tersebar di Gorontalo, meskipun tingkat perkembangan dan kemandiriannya masih beragam.
Sabara berharap dukungan dan sinergi dengan pemerintah terus diperkuat.
Menurutnya, sebagian sekolah Muhammadiyah sudah mampu berkembang secara mandiri, sementara sekolah lainnya masih membutuhkan perhatian dan penguatan.
Baca Juga: Polisi Bongkar Paket Obat Keras di JNT Bone Bolango, 700 Trihexyphenidyl dan 50 Tramadol Disita
“Kehadiran pemerintah, termasuk Pak Wamen, menjadi dorongan bagi kami. Kami ingin seluruh sekolah Muhammadiyah di Gorontalo terus bergerak maju, memperbaiki kualitas dan menjawab tantangan pendidikan yang semakin kompleks,” ungkap Sabara.
Rektor UMGO Prof. Abd. Kadim Masaong juga menegaskan bahwa kampusnya siap mengambil bagian dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.
Penyelenggaraan PPG menjadi salah satu bentuk kepercayaan pemerintah sekaligus tanggung jawab besar yang harus dijawab dengan peningkatan kualitas layanan.
“UMGO berkomitmen menyiapkan guru yang tidak hanya memenuhi standar profesional, tetapi juga memiliki kemampuan dan karakter untuk menjalankan tugas pendidikan dengan baik,” kata Abd. Kadim.
Fajar mengapresiasi peran UMGO tersebut. Ia menilai PPG membuat UMGO semakin strategis karena kebutuhan terhadap guru profesional terus meningkat.
Menurutnya, peserta PPG harus memanfaatkan program tersebut sebagai ruang untuk mengasah kemampuan, memperluas wawasan dan memperkuat panggilan pengabdian sebagai pendidik.
“Guru bukan hanya membutuhkan kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki profesionalisme dan panggilan untuk mendidik.
Karena itu, saya meminta peserta PPG terus meningkatkan kompetensi dan membangun keyakinan untuk menjadi guru terbaik,” ujar Fajar.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mengembangkan kebijakan yang menyentuh kesejahteraan guru.
Baca Juga: Dari Pulubala Menuju Indonesia Emas, Sofyan Puhi Dorong Pramuka Jadi Generasi Tangguh
Selain memperluas PPG dan sertifikasi, Tunjangan Profesi Guru (TPG) kini disalurkan langsung ke rekening guru dengan tujuan membuat distribusi lebih cepat, efisien dan tepat sasaran.
Fajar mengatakan peningkatan kualitas guru tidak dapat dipisahkan dari persoalan kesejahteraan. Pemerintah ingin memastikan guru mendapatkan dukungan yang memadai agar dapat berkonsentrasi meningkatkan kualitas pembelajaran.
“PPG memperkuat kemampuan profesional guru, sementara TPG menjadi salah satu instrumen untuk mendukung kesejahteraan mereka.
Keduanya harus berjalan bersama dan menghasilkan dampak nyata terhadap mutu pembelajaran,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Fajar juga memberikan perhatian khusus terhadap peran Muhammadiyah sebagai lembaga pendidikan masyarakat. Ia menyebut kontribusi sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah telah membantu negara memperluas akses pendidikan.
“Memperkuat Muhammadiyah berarti juga memperkuat kerja pemerintah dalam mencerdaskan bangsa. Lembaga pendidikan masyarakat adalah mitra negara yang memiliki kontribusi besar,” tegas Fajar.
Ia berharap Muhammadiyah Gorontalo semakin memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak.
Menurutnya, keberhasilan Muhammadiyah tidak cukup diukur dari jumlah amal usaha, tetapi juga dari kontribusi kader dan alumninya dalam kehidupan masyarakat.
Kunjungan Fajar juga membawa pesan dari Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir agar kader Muhammadiyah yang kini mendapat amanah di pemerintahan tetap menjaga hubungan dengan Persyarikatan.
“Jangan pernah melupakan dari mana kita berasal. Saya ingin Muhammadiyah terus memperkuat kiprahnya, membangun kemitraan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tutur Fajar.
Kini, perjalanan Fajar dan Gorontalo kembali bertemu dalam cerita yang berbeda. Dari seorang mahasiswa yang datang menempuh perjalanan laut pada 2000,
ia kembali sebagai pejabat negara dengan satu misi yang tetap memiliki garis merah yang sama: menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian dan mencetak generasi yang mampu membawa bangsa menuju masa depan.(Mg-02).
Editor : Azis Manansang