Gorontalopost, MARISA – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Pohuwato mulai memicu kepanikan warga.
Harga Pertalite dan Pertamax di tingkat pengecer melonjak tajam hingga mencapai Rp 15 ribu per liter.
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Pohuwato bergerak cepat melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah Pom Mini di wilayah Marisa dan Duhiadaa.
Tim dari Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM (Perindagkop UKM) Pohuwato diterjunkan langsung ke lapangan sejak siang hari untuk mengecek distribusi dan harga BBM.
Dalam sidak itu, petugas menemukan adanya rantai distribusi tidak normal yang diduga melibatkan perantara atau calo sehingga harga BBM melonjak drastis sebelum sampai ke pengecer.
Sejumlah pemilik Pom Mini mengaku terpaksa menjual BBM dengan harga tinggi karena mereka membeli dari pihak ketiga dengan harga yang sudah mahal.
Bahkan, BBM yang dipasok menggunakan galon ukuran 34 hingga 35 liter dibanderol mencapai Rp450 ribu sampai Rp470 ribu per galon.
Kepala Dinas Perindagkop UKM Pohuwato, Ibrahim Kiraman, mengatakan pihaknya tidak hanya memantau lonjakan harga, tetapi juga memastikan takaran BBM yang diterima masyarakat benar-benar sesuai standar.
Ia menegaskan pemerintah akan mendatangkan alat ukur resmi guna mengecek akurasi literan pada Pom Mini.
“Kami ingin memastikan masyarakat tidak dirugikan dua kali, baik dari sisi harga maupun volume BBM yang diterima.
Pengawasan akan diperketat agar distribusi BBM tidak dimainkan oleh oknum tertentu,” tegas Ibrahim.
Dalam hasil pemantauan, Pertalite eceran dalam botol Aqua dijual hingga Rp25 ribu per botol, sementara botol Coca-Cola mencapai Rp15 ribu.
Pemerintah daerah memastikan pengawasan akan terus dilakukan guna mencegah penimbunan dan permainan harga yang semakin membebani masyarakat Pohuwato.(Mg-08).
Editor : Azis Manansang