Konferensi Kerja PGRI Pohuwato Dibuka, Iwan Adam Minta Guru Adaptif Hadapi Era AI

Azis Manansang • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 21:46 WIB

 

Konferensi Kerja I PGRI Kabupaten Pohuwato masa bakti 2025-2030 yang digelar di Aula Kantor Kemenag Pohuwato.(F:PGRI)
Konferensi Kerja I PGRI Kabupaten Pohuwato masa bakti 2025-2030 yang digelar di Aula Kantor Kemenag Pohuwato.(F:PGRI)

Gorontalopost, MARISA — Masa depan pendidikan Kabupaten Pohuwato menghadapi tantangan yang semakin dinamis. 

Perkembangan kecerdasan buatan (AI), teknologi digital hingga perubahan karakter peserta didik menuntut guru untuk terus meningkatkan kemampuan.

Wakil Bupati Pohuwato Iwan S. Adam menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri Konferensi Kerja I PGRI Kabupaten Pohuwato masa bakti 2025-2030 yang digelar di Aula Kantor Kemenag Pohuwato.

Konferensi Kerja I PGRI Kabupaten Pohuwato masa bakti 2025-2030 yang digelar di Aula Kantor Kemenag Pohuwato.(F:PGRI)
Konferensi Kerja I PGRI Kabupaten Pohuwato masa bakti 2025-2030 yang digelar di Aula Kantor Kemenag Pohuwato.(F:PGRI)

Gorontalopost, MARISA — Masa depan pendidikan Kabupaten Pohuwato menghadapi tantangan yang semakin dinamis. 

Iwan menilai konferensi kerja memiliki posisi penting dalam perjalanan organisasi PGRI. 

Selain menjadi ruang evaluasi terhadap program yang sudah berjalan, forum tersebut juga harus mampu menghasilkan rencana kerja yang sesuai dengan persoalan nyata yang dihadapi guru dan tenaga kependidikan.

Baca Juga: Enam KADIN Kabupaten/Kota Gorontalo Masuk Masa Transisi, Yuliandre Darwis Tunjuk Karateker

“Yang paling penting dari konferensi ini adalah adanya keputusan dan program yang realistis serta bisa menjawab kebutuhan anggota PGRI. 

Jangan sampai hasil konferensi berhenti sebagai dokumen, tetapi harus bisa diterapkan,” ujar Iwan.

Ia mengatakan kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru. Karena itu, Pemkab Pohuwato akan terus mendorong peningkatan mutu pendidikan 

serta memberikan perhatian terhadap profesionalisme dan kesejahteraan tenaga pendidik sesuai kemampuan dan kewenangan pemerintah daerah.

Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, Iwan mengingatkan guru agar tidak melihat AI sebagai ancaman. 

Baca Juga: Harga Tomat Anjlok, Gorontalo Catat Deflasi 0,34 Persen pada Agustus 2026

Sebaliknya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai perkembangan zaman.

“Guru harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Teknologi bisa menjadi alat bantu pembelajaran yang kuat, tetapi sentuhan manusia, keteladanan dan peran guru tetap tidak tergantikan,” ungkapnya.

Iwan turut meminta PGRI membangun kerja sama yang semakin erat dengan pemerintah daerah. Ia menilai kemajuan pendidikan tidak mungkin hanya ditopang satu pihak, tetapi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga dan masyarakat.

Menurutnya, soliditas organisasi juga harus menjadi perhatian. Dengan organisasi yang kuat, 

PGRI diharapkan mampu memperjuangkan kepentingan anggotanya sekaligus memberikan kontribusi lebih besar bagi peningkatan kualitas pendidikan di Pohuwato.

Konferensi Kerja I tersebut dihadiri Wakil Ketua II PGRI Provinsi Gorontalo Hamka Manopo, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pohuwato Arman Mohamad, 
Wakil Rektor I Universitas Pohuwato Hikman Katohidar, Ketua PGRI Pohuwato Coleng Tandomada, perwakilan Kemenag, 

para ketua delegasi dan pengurus cabang PGRI se-Kabupaten Pohuwato, serta unsur dewan pembina, dewan pakar dan dewan kehormatan PGRI.

Iwan juga menyampaikan salam dari Bupati Pohuwato yang berhalangan hadir karena menjalankan tugas kedinasan di luar daerah. 

Bupati berharap forum tersebut menghasilkan keputusan yang mampu memperkuat organisasi PGRI sekaligus mendorong kemajuan pendidikan di Kabupaten Pohuwato.(Mg-08).

Editor : Azis Manansang
Konferda POHUWATO Pendidikan kecerdasan buatan PGRI