Gorontalopost, JAKARTA – Dinamika panas mulai terasa di tubuh Partai Golkar menjelang satu tahun kepemimpinan Bahlil Lahadalia.
Bisik-bisik politik di internal partai berlambang beringin itu menyebut, ada dorongan kuat agar trah Soeharto kembali mengambil alih kendali partai lewat Munaslub.
Baca Juga: Merdeka Run 8K Disambut Antusias Warga, Wagub Gorontalo Gaungkan Ayo ke Limboto
Nama Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Soeharto belakangan kembali mencuat sebagai figur potensial.
Sejumlah elite partai hingga akar rumput disebut masih menaruh harapan besar kepada putri sulung Presiden Soeharto itu.
“Pengaruh Mbak Tutut tidak bisa diremehkan. Beliau punya gaya kepemimpinan yang dianggap humanis sekaligus tegas.
Sehingga bisa diterima baik oleh kalangan senior maupun simpatisan di daerah,” ungkap pengamat politik sekaligus Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Riset Persepsi Publik Indonesia, Mohammad Anas, dikutif, kemarin.
Sumber lainnya mengunkapkan, Tutut sendiri bukan nama baru di panggung politik.
Ia pernah menjabat Ketua Umum PMI, anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Golkar, Menteri Sosial RI, bahkan mengemban peran sebagai Ibu Negara menggantikan Tien Soeharto.
Saat menjadi Mensos, Tutut tercatat sebagai pelopor program makan gratis bagi korban PHK di era krisis moneter 1998.
Baca Juga: Aksi Modus Besi Tua Berujung Bui, Polres Gorontalo Tangkap 3 Pemuda Curi Mesin Serut Kayu
Namun, kepastian apakah Tutut benar-benar siap kembali aktif dalam politik praktis masih menjadi tanda tanya. Anas menegaskan, semua kemungkinan bergantung pada restu Presiden Prabowo Subianto.
“Kalau Istana memberi sinyal lampu hijau, posisi Bahlil akan sangat rawan.
Golkar punya sejarah panjang selalu berada dekat dengan penguasa, jadi kuncinya ada pada Prabowo, bukan sekadar di internal partai,” jelas Anas.(RM/JP).
Editor : Azis Manansang