Gorontalopost, JAKARTA – Muktamar ke-10 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jakarta berubah panas dan diwarnai klaim ganda soal kursi Ketua Umum.
Baca Juga: Viral Isu Mandi Pakai Air Galon, Menpar Widiyanti Putri Angkat Bicara: Itu Hanya Karangan
Di satu sisi, Menteri Perdagangan RI periode 2019–2020, Agus Suparmanto, disebut terpilih secara aklamasi.
Hal itu diumumkan oleh pimpinan Sidang Paripurna VII, Qoyum Abdul Jabbar, yang menegaskan keputusan itu merupakan kehendak muktamirin.
“Aklamasi Pak Agus Suparmanto adalah aspirasi para peserta Muktamar yang bulat mendukung beliau,” ujar Qoyum, Minggu (28/9).
Namun, di tengah riuhnya forum, kubu lain justru mengklaim bahwa Muhammad Mardiono sah menjadi Ketua Umum PPP.
Klaim itu disampaikan langsung oleh pimpinan sidang, Amir Uskara, dalam konferensi pers yang digelar tertutup.
“Saya ucapkan selamat kepada Pak Mardiono yang baru saja terpilih secara aklamasi dalam Muktamar ke-10,” tegas Amir, Sabtu (27/9) malam.
Kontroversi pun makin membesar setelah Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP, Muhammad Romahurmuziy alias Rommy, menolak klaim Mardiono.
Ia menyebut keputusan itu sepihak dan berpotensi memecah belah partai.
“Berita bahwa Mardiono terpilih aklamasi adalah klaim palsu, tidak bertanggung jawab, dan merupakan manuver untuk membelah PPP,” tegas Rommy dalam keterangan tertulis.
Ia menambahkan, saat klaim Mardiono diumumkan, proses Muktamar sebenarnya masih berlangsung.
Bahkan, kata Rommy, pidato pembuka Mardiono justru menuai penolakan peserta forum.
“Tidak masuk akal, atmosfer penolakan yang begitu kuat terhadap Mardiono tiba-tiba berakhir dengan aklamasi. Itu manipulasi,” pungkasnya.
Kini, PPP menghadapi dualisme klaim kepemimpinan yang berpotensi menyeret partai berlambang Ka'bah itu ke dalam pusaran konflik internal berkepanjangan.(JP)
Editor : Azis Manansang