Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Sepinya Kampanye Pemilu di Sulut, Ini Kemungkinan Penyebabnya

Tina Mamangkey • Senin, 4 Desember 2023 | 20:56 WIB
Ferry Liando
Ferry Liando

GORONTALOPOST - Dalam menghadapi Pemilu 2024 yang hanya tersisa 75 hari, tahapan pelaksanaannya telah dimulai sejak 28 November 2023.

Sayangnya, banyak peserta yang belum sepenuhnya memanfaatkan masa kampanye yang terbatas ini.

Sebagaimana diungkapkan oleh Pengamat Politik, Ferry Liando, pada Senin (4/12), kampanye memiliki beragam metode yang dapat diaplikasikan tanpa harus mengumpulkan massa besar.

Metode tersebut meliputi pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, penyebaran bahan kampanye, pemasangan alat peraga di tempat umum, media sosial, iklan media massa cetak, media massa elektronik, dan internet, rapat umum, debat pasangan calon, dan kegiatan lain yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Meski demikian, Liando menjelaskan bahwa sepinya kampanye, baik oleh partai politik maupun kandidat, dapat disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, kegiatan kampanye memerlukan biaya yang tinggi, mencakup biaya mobilisasi peserta, uang jalan, konsumsi, pengadaan panggung, baliho, sewa sound sistem, dan bahkan penyewaan artis sebagai daya tarik utama.

"Tanpa itu, kampanye akan sepi," ungkapnya.

Kedua, kampanye ternyata tidak selalu efektif dalam mempengaruhi pemilih.

Liando menyoroti perilaku pragmatis, sosiologis, psikologis, dan apatis masyarakat yang dapat mempengaruhi pilihan pemilih.

Pemilih pragmatis cenderung tidak terpengaruh oleh kampanye dan lebih dipengaruhi oleh imbalan atau uang dari calon.

Sementara pemilih sosiologis lebih tertarik pada hubungan emosional dengan calon, seperti kesamaan agama, etnik, atau ras.

Pemilih psikologis lebih cenderung dipengaruhi oleh kondisi fisik calon, seperti penampilan menarik atau gimik yang dapat menarik perhatian pemilih milenial atau ibu-ibu.

Baca Juga: Wamenkumham Eddy Hiariej Selesai Diperiksa KPK, Tidak Langsung Ditahan

Terakhir, Liando menyebut pemilih apatis, yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih namun menyatakan sikap tidak akan memilih karena tidak ada calon yang dipercayainya.

Keempat karakter pemilih ini dapat menyebabkan banyak calon yang urung atau tidak berminat untuk berkampanye karena dianggap tidak efektif dan tidak berpengaruh pada elektabilitas.

Pada Pemilu 2019, fenomena ini terlihat ketika banyak calon legislatif (caleg) yang memilih untuk tidak berkampanye selama tahapan kampanye.

Anggaran kampanye mereka ditabung dan didistribusikan pada hari terakhir sebelum pencoblosan.

Modus tersebut menarik perhatian Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) karena dikhawatirkan dapat menimbulkan praktik curang di masa tenang atau beberapa saat sebelum pencoblosan. (mpo)

Editor : Tina Mamangkey
#Pemilu #Sulut #Kampanye