Gorontalopost, MANADO –"Kami sayang Joel, tapi Tuhan lebih sayang. Kami tahu Firman Tuhan. Apa yang kami tabur, itu juga yang kami tuai," ujar Meyling, dengan suara bergetar, menunjukkan keteguhan hati dan keyakinan pada hukum tabur-tuai dalam agama.
Di tengah duka mendalam atas kepergian cucunya yang tewas secara tragis.
Meyling Tampi, nenek dari Joel Alberto Tanos (18), menunjukkan sikap yang luar biasa dan menginspirasi banyak orang: ia memilih untuk memaafkan pelaku pembunuhan.
Keputusan yang jarang terjadi ini diungkapkan Meyling dalam ibadah penghiburan mendiang Joel, yang berlangsung pada Selasa, 5 Agustus di Manado.
Ucapannya yang sarat makna dan keteguhan hati langsung menyebar luas dan memicu perbincangan nasional.
"Kami percaya cinta Tuhan lebih besar dari rasa kehilangan kami. Pengampunan adalah bagian dari iman kami," tutur Meyling dengan suara tenang namun penuh haru.
Joel merupakan cucu dari Tony Tanos, pengusaha sukses dan tokoh berpengaruh di
Sulawesi Utara.
Sebagai pendiri PT Marga Dwita Guna, Tony dikenal luas di kalangan bisnis dan politik.
Namun, kali ini, bukan pengaruh atau kekuasaan yang menjadi sorotan, melainkan ketulusan seorang nenek dalam menghadapi tragedi.
Meyling, yang selama ini hidup jauh dari sorotan publik, tiba-tiba menjadi pusat
perhatian.
Akun Instagram-nya @tampimeyling hanya memiliki ratusan pengikut, mencerminkan kehidupannya yang lebih banyak dijalani di balik layar.
Namun dalam masa paling sulit hidupnya, ia tampil kuat. Tak hanya memilih jalan damai,
Meyling bahkan menyatakan niat untuk bertemu langsung dengan keluarga pelaku guna
membicarakan peristiwa ini secara kekeluargaan.
"Kami tidak akan membalas, karena kami percaya Tuhan yang akan mengatur segalanya.
Dendam tak akan menghidupkan Joel kembali, ungkapnya, menggambarkan ketulusan
hati yang jarang ditemui dalam kasus seberat ini.
Baca Juga: Komisi I DPRD Gorontalo Serius Perjuangkan Hak Guru, TPG, TKG, dan Tamsil Jadi Fokus Utama
Tindakan Meyling Tampi memantik pujian publik. Banyak yang melihat ini sebagai contoh
nyata kekuatan spiritual dan keberanian untuk berdamai, bahkan dalam situasi yang paling
menyakitkan.
Namun, di sisi lain, muncul pula pertanyaan soal keadilan. Apakah pengampunan berarti
pelaku bisa lolos dari proses hukum? Perdebatan pun merebak antara nilai kemanusiaan
dan sistem keadilan formal.
Yang pasti, sikap Meyling membawa napas baru dalam tragedi ini. Di tengah gelombang
emosi, ia menjadi simbol keteguhan, pengampunan, dan kekuatan seorang ibu dan nenek
yang memilih kasih, bukan amarah.(MP).