Gorontalopost, MANADO – Pintu rumah duka di Desa Ranomerut, Minahasa, terbuka perlahan saat peti jenazah Pramugari ATR 42-500 Florencia Lolita Wibisono tiba.
Baca Juga: Duka di Lereng Bulusaraung, Korban Pesawat ATR Dipulangkan ke Jakarta
Tangis yang sejak pagi tertahan pecah seketika. Beberapa anggota keluarga memeluk peti jenazah,
seolah berharap kehadiran Florencia masih bisa dirasakan, meski hanya untuk terakhir kali.
Di sudut ruangan, seorang anggota keluarga duduk terpaku sambil menunduk, menggenggam sapu tangan yang telah basah oleh air mata.
Tak banyak kata terucap. Nama Florencia dipanggil lirih, berulang kali, di antara isak dan doa yang terputus-putus.
Kehilangan itu terasa nyata, menyisakan sunyi yang berat di rumah yang biasanya penuh cerita kepulangannya.
Florencia dikenal keluarga sebagai pribadi yang selalu pulang membawa senyum.
Setiap kepulangan dari tugas, ia menyempatkan diri menyapa satu per satu anggota keluarga.
Kini, kenangan sederhana itu justru menjadi yang paling menyakitkan, karena tak akan terulang kembali.
Prosesi pengantaran jenazah yang dikawal Tim Pangkalan PSDKP Bitung berlangsung dalam suasana hening.
Keluarga Besar Ditjen PSDKP berdiri mendampingi, memberi kekuatan di tengah duka yang sulit dibendung.
Baca Juga: Kabupaten Gorontalo Bersiap Jadi Tuan Rumah PENAS 2026, Pemda Matangkan Skema Pelaksanaan
Beberapa pelayat hanya bisa mengusap bahu keluarga, tak sanggup berkata-kata.
Tragedi pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung telah merenggut Florencia dari keluarga yang mencintainya.
Di rumah duka itu, duka bukan sekadar air mata, melainkan kehilangan masa depan, percakapan, dan kebiasaan kecil yang tak akan kembali.
Namun di tengah kepedihan, keluarga mencoba menguatkan diri dengan doa.
Mereka percaya, ketulusan Florencia dalam menjalani tugas adalah bagian dari pengabdiannya.
Dan di rumah duka Ranomerut, kenangan tentang Florencia kini dijaga dalam doa, air mata, dan cinta yang tak akan pernah hilang.(MP/*)
Editor : Azis Manansang