GORONTALOPOST - Nabi Yusuf alaih salam, putra dari Nabi Yakub alaih salam, dikenal sebagai sosok yang sangat tampan dan bijaksana.
Beliau diberkahi dengan kemampuan menafsirkan mimpi dan memiliki kebijaksanaan luar biasa.
Salah satu kisah menarik terkait dengan kehidupan Nabi Yusuf adalah mengenai makamnya, yang hingga kini menjadi perdebatan dan perebutan di antara banyak pihak.
Nabi Yusuf dilahirkan di Palestina, namun hidupnya berubah drastis ketika saudara-saudaranya yang dengki terhadapnya menjebaknya ke dalam sumur.
Setelah beberapa hari, Nabi Yusuf ditemukan oleh rombongan musafir dan dibawa ke Mesir, di mana dia dijual sebagai budak.
Namun, Allah memiliki takdir lain untuknya. Yusuf dibeli oleh seorang pejabat kerajaan Mesir bernama Potifar dan kemudian menjadi orang yang sangat berpengaruh di kerajaan Mesir.
Selama menjabat di kerajaan Mesir, Nabi Yusuf dikenal dengan kebijaksanaannya.
Dia tidak hanya mengatur pemerintahan dengan baik, tetapi juga memperlakukan kaum Bani Israil yang tinggal di Mesir dengan penuh kebaikan, meskipun mereka pernah berbuat jahat kepadanya.
Setelah mencapai puncak kariernya, Nabi Yusuf merasa rindu untuk bertemu dengan Allah dan memohon agar Allah mengakhiri hidupnya dengan baik.
Dalam sebuah riwayat, doa Nabi Yusuf tercantum dalam Al-Qur'an, tepatnya di dalam Surat Yusuf, ayat 101:
"Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah memberikan sebagian kekuasaan kepadaku dan telah mengajarkan kepadaku penafsiran mimpi. Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkau adalah pelindungku di dunia dan di akhirat. Matikanlah aku sebagai seorang Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang salih."
Wasiat Nabi Yusuf Sebelum Wafat
Ketika ajal Nabi Yusuf sudah dekat, beliau memanggil beberapa orang dari kaum Bani Israil untuk memberikan wasiat penting.
Dalam wasiatnya, beliau meminta agar jasadnya dibawa bersama kaum Bani Israil saat mereka meninggalkan Mesir.
Hal ini menjadi bagian dari sejarah besar, karena menjadi alasan mengapa makam Nabi Yusuf terletak di Mesir, meskipun beliau lahir di Palestina.
Setelah Nabi Yusuf wafat, jenazahnya dimasukkan ke dalam peti batu marmer dan dimakamkan di tengah-tengah Sungai Nil.
Keputusan ini diambil karena pada saat itu banyak kabilah yang bersaing untuk mendapatkan keberkahan dari jasad Nabi Yusuf.
Agar tidak ada satu pun kabilah yang merasa lebih berhak, mereka memutuskan untuk memakamkannya di tengah-tengah Sungai Nil, yang alirannya melewati banyak wilayah kabilah, sehingga keberkahannya bisa dirasakan secara merata.
Berabad-abad setelah kematian Nabi Yusuf, pada zaman Nabi Musa alaih salam, kaum Bani Israil yang hidup di Mesir berada di bawah penindasan Firaun.
Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk menyelamatkan kaumnya dan memimpin mereka keluar dari Mesir menuju Baitul Maqdis. Namun, perjalanan mereka selalu tersesat.
Saat itulah, ada seorang dari kaum Bani Israil yang mengingatkan Nabi Musa akan wasiat Nabi Yusuf untuk membawa jasadnya saat meninggalkan Mesir.
Setelah mengetahui wasiat tersebut, Nabi Musa mulai mencari makam Nabi Yusuf.
Namun, karena sudah banyak generasi yang berlalu dan makam tersebut telah terlupakan, tak ada seorang pun yang tahu di mana jasad Nabi Yusuf disemayamkan.
Sampai suatu hari, seorang nenek dari kaum Bani Israil menyebutkan bahwa ia mengetahui lokasi makam tersebut, tetapi dengan satu syarat: ia ingin tinggal bersama Nabi Musa di surga.
Musa yang mendengarnya berdoa kepada Allah untuk mengabulkan permintaan nenek tersebut.
Setelah doa itu, nenek ini membawa Nabi Musa ke sebuah danau, tempat di mana dasar tanahnya terlihat setelah air dibendung.
Di tempat itulah, mereka menemukan makam Nabi Yusuf yang telah terkubur ratusan tahun.
Setelah itu, jasad Nabi Yusuf dibawa oleh Nabi Musa dan kaum Bani Israil menuju Baitul Maqdis.
Namun, kisah mengenai makam Nabi Yusuf tidak berhenti di situ. Di masa kini, makam yang diyakini sebagai makam Nabi Yusuf menjadi sumber ketegangan antara Israel dan Palestina.
Di daerah Nablus, Palestina, terdapat sebuah makam yang diperebutkan antara kaum Muslim dan Yahudi.
Israel percaya bahwa makam tersebut adalah makam Nabi Yusuf, sementara penduduk Muslim di sana meyakini bahwa makam itu adalah makam seorang ulama Palestina bernama Syekh Yusuf.
Pemukim Zionis telah berusaha membongkar makam tersebut, namun setiap kali mereka melakukannya, selalu ada ular yang muncul, yang dianggap sebagai tanda dari Allah.
Beberapa arkeolog yang melakukan penelitian terhadap makam itu menyatakan bahwa makam tersebut tidak berusia ribuan tahun, melainkan hanya beberapa ratus tahun saja.
Hal ini membuat banyak orang percaya bahwa makam itu bukanlah makam Nabi Yusuf, melainkan makam Yusuf yang lain dengan nama yang sama.
Apa yang Dicari oleh Israel?
Menurut beberapa sejarawan, Israel saat ini sedang mencari dua benda kuno yang sangat penting bagi mereka: jasad Nabi Yusuf bin Yaakub dan Tabut Perjanjian Nabi Musa as.
Kedua benda tersebut diyakini membawa berkah dan akan memberikan keberuntungan besar bagi bangsa Israel.
Mereka percaya bahwa setelah menemukan kedua benda ini, mereka akan memiliki kekuatan untuk membangun kuil suci ketiga, yang nantinya akan digunakan untuk menyambut "Juru Selamat" versi mereka, yang dalam pandangan kaum Muslim adalah Dajjal.
---
Kisah mengenai Nabi Yusuf alaih salam dan makamnya menyimpan banyak pelajaran dan misteri.
Baik sejarah Nabi Yusuf maupun upaya-upaya saat ini untuk mencari jasad beliau, menggambarkan bagaimana sebuah warisan agama dan sejarah dapat memengaruhi politik dan konflik antarbangsa.
Semoga kisah ini memberi kita pemahaman yang lebih dalam tentang betapa pentingnya nilai sejarah dan agama, serta bagaimana kita dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi dalam sejarah umat manusia.
Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah pengetahuan kita. Wallahu a'lam bissawab. (*)
Sumber: Youtube Jazirah Ilmu
Editor : Tina Mamangkey