GORONTALOPOST - Sungai Gangga, atau Ganga dalam bahasa Hindi, adalah salah satu sungai paling ikonis di dunia.
Lebih dari sekadar aliran air, Gangga adalah simbol kehidupan, kematian, dan pembaruan bagi jutaan umat Hindu.
Sungai yang membentang sejauh 2.525 km ini mengalir dari Pegunungan Himalaya yang megah hingga bermuara di Teluk Benggala.
Keindahannya yang megah sekaligus ironis karena menyimpan realitas pahit pencemaran dan kontroversi di balik statusnya sebagai sungai suci.
Asal-usul dan Jalur Aliran Sungai Gangga
Secara geologis, Sungai Gangga berawal dari Glasier Gangotri di Himalaya, sebuah kawasan es abadi yang dikenal sebagai Gomukh, atau "Mulut Sapi." Pada ketinggian 3.892 meter di atas permukaan laut, aliran es mencair membentuk Sungai Bhagirathi yang kemudian bertemu dengan Sungai Alaknanda di Devprayag, menciptakan Sungai Gangga yang kita kenal.
Gangga mengalir melintasi lima negara bagian di India—Uttarakhand, Uttar Pradesh, Bihar, Jharkhand, dan Benggala Barat—sebelum mencapai Bangladesh.
Di wilayah Sundarbans, bentuk delta sungai ini menjadi salah satu yang terbesar dan paling subur di dunia, mendukung kehidupan ekosistem yang kaya dan beragam.
Bagi umat Hindu, Gangga bukan hanya entitas alam, tetapi juga dewi hidup yang memberikan kesucian dan harapan.
Dalam epik Mahabharata dan Ramayana, Gangga digambarkan sebagai personifikasi kebaikan.
Mitos Hindu menyebutkan bahwa Gangga berasal dari surga dan diturunkan ke bumi melalui doa Raja Bhagiratha untuk menyucikan abu leluhurnya yang terkena kutukan.
Legenda mengatakan bahwa aliran deras Gangga dapat menghancurkan bumi.
Oleh karena itu, Dewa Siwa menangkap alirannya dengan rambutnya, mengalirkan airnya secara perlahan.
Gangga sering digambarkan mengalir dari rambut Siwa, melambangkan kesucian dan kemurahan hati.
Air Gangga diyakini mampu menyucikan dosa, memberikan keberuntungan, dan bahkan membimbing jiwa menuju moksha (pembebasan dari siklus kelahiran kembali).
Tradisi mandi di Gangga saat festival besar seperti Kumbh Mela bertujuan untuk membersihkan dosa dan memperbarui jiwa.
Selain itu, abu jenazah sering dilarutkan ke dalam sungai ini dengan harapan membawa jiwa menuju pembebasan.
Peran Sungai Gangga tidak hanya terbatas pada aspek spiritual. Sungai ini menjadi tulang punggung kehidupan ekonomi, budaya, dan pertanian di wilayah sekitarnya.
Dalam teks-teks Weda, Gangga disebut sebagai sumber kehidupan dan pertanian. Kota-kota kuno seperti Kashi (sekarang Varanasi) dan Prayag (sekarang Allahabad) tumbuh di tepiannya, menjadikannya pusat ekonomi dan budaya.
Ritual keagamaan di Gangga beragam, di antaranya:
- Mandi Ritual (Snan): Setiap pagi, ribuan orang mandi di sungai ini untuk penyucian diri, percaya bahwa airnya dapat membersihkan dosa dan membawa keberuntungan.
- Pelepasan Abu Jenazah: Abu jenazah yang telah dikremasi sering dilepaskan ke Gangga dengan keyakinan bahwa jiwa almarhum akan mencapai moksha.
- Doa dan Persembahan (Aarti): Upacara Ganga Aarti di kota-kota seperti Haridwar dan Varanasi menjadi atraksi spiritual dan wisata. Api, bunga, dan doa dipersembahkan kepada Dewi Gangga dalam perayaan harian.
- Festival Keagamaan: Festival seperti Chhath Puja di Bihar melibatkan umat Hindu berpuasa dan menyembah Dewi Matahari di tepi Gangga.
Meskipun dianggap suci, Sungai Gangga menghadapi masalah pencemaran serius akibat aktivitas manusia. Berikut beberapa faktor yang menyebabkan pencemaran:
- Limbah Domestik: Kota-kota besar seperti Varanasi membuang jutaan liter air limbah ke Gangga setiap hari, termasuk limbah rumah tangga dan produk kimiawi.
- Limbah Industri: Ribuan pabrik, terutama penyamakan kulit di Kanpur, membuang bahan kimia berbahaya seperti kromium dan arsenik ke sungai tanpa pengolahan yang memadai.
- Penggunaan Pupuk dan Pestisida: Aktivitas pertanian di sekitar Gangga menyebabkan bahan kimia terbawa hujan ke sungai, menciptakan eutrofikasi yang merusak ekosistem akuatik.
- Praktik Keagamaan: Pembuangan abu jenazah, bunga, dan benda-benda ritual lainnya berkontribusi pada pencemaran sungai.
Sampah plastik juga menjadi ancaman besar, mencemari air dan mengganggu habitat hewan. Spesies seperti lumba-lumba Gangga kini terancam punah akibat kualitas air yang menurun.
Kondisi buruk Gangga mempengaruhi kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.
- Kesehatan Masyarakat: Air tercemar menyebabkan penyakit seperti diare, kolera, dan tifus. WHO mencatat bahwa lebih dari 80% penyakit di kawasan ini terkait dengan kualitas air yang buruk.
- Kerugian Ekonomi: Sektor perikanan dan pariwisata di sepanjang Gangga mengalami penurunan. Wisatawan mulai enggan mengunjungi kota seperti Varanasi karena kebersihan yang buruk.
- Kerusakan Ekosistem: Limbah kimia mempengaruhi kesuburan tanah dan kehidupan akuatik, menciptakan zona mati di sungai yang hampir tidak memiliki oksigen.
Pemerintah India telah meluncurkan berbagai proyek untuk membersihkan sungai ini, seperti "Namami Gange Programme." Namun, implementasi sering terhambat oleh korupsi dan kurangnya pengawasan.
Edukasi masyarakat dan penegakan hukum yang tegas menjadi kunci keberhasilan pelestarian Gangga.
---
Sungai Gangga adalah paradoks hidup—sebuah sungai suci yang sekaligus menjadi salah satu yang paling tercemar di dunia.
Sebagai simbol spiritual dan sumber kehidupan, Gangga mengajarkan manusia untuk menghargai alam sekaligus menantang mereka untuk menjaga kesucian dan kelestarian lingkungan.
Usaha pelestarian tidak hanya penting bagi masyarakat India, tetapi juga bagi warisan dunia. (*)
Sumber: Youtube @Jazirah Ilmu
Editor : Tina Mamangkey