GORONTALOPOST - Perjalanan dakwah para nabi dan rasul dalam menyampaikan wahyu dan kebenaran dari Allah subhanahu wa ta'ala tidak pernah berjalan mulus.
Tak hanya menghadapi perlawanan dari kaumnya yang kafir, beberapa nabi bahkan diuji melalui orang-orang terdekat mereka.
Ujian ini termasuk dari keluarga yang seharusnya mendukung mereka, namun malah memilih untuk tidak beriman kepada Allah.
Di antara kisah-kisah tersebut, ada dua perempuan durhaka yang diabadikan dalam Al-Quran: istri dari Nabi Nuh alaihissalam dan istri dari Nabi Luth alaihissalam.
Keduanya adalah istri nabi yang tidak mengikuti dakwah suaminya, bahkan lebih memilih untuk mengikuti kebiasaan kaum mereka yang sesat.
1. Istri Nabi Nuh: Walihah, Perempuan yang Menolak Kebenaran
Nabi Nuh alaihissalam diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun dan diberi tugas oleh Allah untuk mendakwahi kaumnya yang menyembah berhala.
Selama 950 tahun, Nabi Nuh berdakwah dengan penuh kesabaran, namun hanya segelintir orang saja yang mau menerima petunjuknya.
Salah satu yang tidak mau beriman adalah istri Nabi Nuh, yang dikenal dengan nama Walihah (atau Wakilah, menurut beberapa riwayat).
Walihah lebih memilih mendengarkan ajakan para pembesar kaumnya yang sesat daripada mengikuti dakwah suaminya.
Meski Nabi Nuh dengan sabar terus mengajaknya untuk beriman kepada Allah, Walihah tetap keras kepala dan tidak mempercayai suaminya sebagai nabi.
Bahkan, saat Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun kapal besar sebagai persiapan menghadapi banjir yang akan datang, Walihah tetap tidak mempercayai peringatan tersebut.
Pembangunan kapal yang dipimpin oleh Nabi Nuh dilakukan di atas gunung, sebuah tempat yang jauh dari laut.
Ini jelas sebuah perintah yang tidak masuk akal bagi banyak orang, tetapi Nabi Nuh tetap melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keyakinan.
Meski banyak yang mengolok-oloknya dan menyebutnya gila, Nabi Nuh terus bekerja membangun kapal tersebut selama bertahun-tahun.
Hanya sedikit orang yang membantunya, termasuk keluarganya yang beriman.
Ketika akhirnya perintah Allah datang, Nabi Nuh mengajak keluarga dan orang-orang yang beriman untuk masuk ke dalam kapal, bersama dengan pasangan hewan dari setiap jenis.
Namun, ketika banjir besar mulai datang, istri Nabi Nuh, Walihah, tetap memilih untuk mengikuti kaumnya daripada ikut dengan suaminya.
Walaupun sudah ada tanda-tanda besar bahwa azab Allah akan segera datang, ia menolak untuk masuk ke dalam kapal.
Nabi Nuh berusaha mengajak istrinya untuk masuk ke kapal, namun ia tetap menolak.
Akhirnya, dengan penuh kesedihan, Nabi Nuh meninggalkan istrinya di luar kapal.
Tak lama kemudian, banjir yang sangat besar datang, dan Walihah pun tenggelam bersama orang-orang kafir lainnya.
Azab yang diterima oleh istri Nabi Nuh adalah akibat dari pilihannya yang menolak untuk beriman kepada Allah dan mengikuti suaminya yang merupakan utusan Allah.
2. Istri Nabi Luth: Wa'ilah, Perempuan yang Tergoda oleh Kaumnya
Kisah istri Nabi Luth alaihissalam juga merupakan kisah tentang ketidakmauan untuk beriman kepada Allah.
Nabi Luth diutus untuk mendakwahi kaum Sodom yang dikenal dengan perbuatan keji, yaitu perilaku homoseksual yang sangat menyimpang.
Nabi Luth dengan sabar berusaha mengingatkan mereka tentang azab yang akan datang jika mereka tidak bertobat, namun kaumnya tetap tidak mau mendengar nasihatnya.
Lebih tragis lagi, istri Nabi Luth juga merupakan bagian dari kaum yang sesat tersebut.
Meskipun Nabi Luth telah berusaha mendakwahi istrinya dengan penuh kesabaran, ia tetap memilih untuk tidak mengikuti suaminya dan lebih mendukung perilaku kaum Sodom.
Istri Nabi Luth lebih memilih mengikuti kebiasaan buruk kaumnya daripada menerima ajaran yang dibawa oleh suaminya.
Suatu hari, Allah mengutus malaikat untuk mendatangi Nabi Luth dalam bentuk laki-laki tampan.
Nabi Luth yang khawatir kaum Sodom akan mengetahui kedatangan malaikat ini, segera memerintahkan istrinya untuk merahasiakannya.
Namun, istrinya malah memberitahukan keberadaan tamu-tamu tampan ini kepada sekelompok lelaki Sodom.
Para lelaki ini, yang sudah terkontaminasi dengan perilaku menyimpang, segera bergegas menuju rumah Nabi Luth untuk melihat dan melampiaskan nafsu mereka.
Melihat keributan tersebut, Nabi Luth merasa kecewa dengan sikap istrinya.
Bukannya menjaga amanah suaminya, istri Nabi Luth justru berusaha mencari keuntungan pribadi dari situasi tersebut.
Saat kerumunan orang-orang yang ingin melihat tamunya semakin banyak, Nabi Luth menawarkan putrinya kepada mereka, namun tawaran itu pun ditolak dengan kasar.
Malaikat yang menyamar sebagai tamu Nabi Luth akhirnya mengungkapkan identitasnya dan memerintahkan Nabi Luth untuk segera meninggalkan kota Sodom bersama orang-orang yang beriman, karena azab dari Allah sudah dekat.
Nabi Luth dan keluarganya yang beriman segera meninggalkan kota Sodom, tetapi istri Nabi Luth tetap tinggal.
Ia tidak mengikuti suaminya, dan pada akhirnya, Allah menurunkan azab berupa hujan batu panas yang menghancurkan seluruh kota Sodom.
Baca Juga: Dibongkar Ular yang Keluar, Mengapa Mereka Nekat Ingin Mengambil Jasad Nabi Yusuf ?
Istri Nabi Luth, yang memilih untuk tetap tinggal, ikut tertimpa azab tersebut.
Pelajaran dari Kisah Dua Perempuan Durhaka
Kisah istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth alaihissalam memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam.
Keduanya adalah perempuan yang hidup bersama dengan seorang nabi, namun memilih untuk tidak mengikuti dakwah suaminya dan lebih mendukung kebiasaan buruk yang ada di sekitarnya.
Walaupun mereka memiliki posisi yang dekat dengan para nabi, namun kesesatan mereka tidak bisa menghindarkan mereka dari azab Allah.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa iman dan ketaatan kepada Allah adalah hal yang sangat penting.
Tidak ada yang dapat menyelamatkan seseorang dari azab Allah, kecuali dengan iman dan amal saleh.
Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth adalah contoh nyata bahwa kedekatan dengan seorang nabi atau seorang suami yang saleh tidak menjamin keselamatan, jika seseorang tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh Allah.
Sebagai umat Islam, kita harus belajar dari kisah-kisah ini dan berusaha untuk senantiasa mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, serta mendukung kebaikan dalam kehidupan kita.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa setiap individu bertanggung jawab atas pilihannya sendiri di hadapan Allah. (*)
Sumber: YouTube Jazirah Ilmu
Editor : Tina Mamangkey