Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Dua Kunci Surga: Takwa dan Akhlak Mulia, Pelajaran Berharga dari Khutbah Jumat

Nur Fadilah • Jumat, 18 Juli 2025 | 14:08 WIB

Dok. Ilustrasi by google.
Dok. Ilustrasi by google.

GORONTALOPOST
-Tak bisa dimungkiri bahwa setiap muslim pasti mendambakan surga sebagai tempat kembali terbaik setelah kehidupan dunia yang penuh ujian.

Namun, jalan menuju surga tidak selalu mudah dan lurus. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan petunjuk agar manusia tidak tersesat di tengah hiruk-pikuk kehidupan: dua kunci penting yang membuka pintu surga adalah takwa dan akhlak yang mulia.

Hal ini menjadi pesan utama dalam khutbah Jumat yang disampaikan di banyak mimbar hari ini khutbah yang tak hanya mengingatkan kita, tapi juga memberi panduan konkret untuk mencapainya.

Mengapa Takwa Begitu Penting?

Takwa bukan hanya soal ketakutan pada siksa Allah, tapi lebih dari itu: ia adalah kesadaran spiritual yang mengakar kuat dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa bentuk takwa yang sejati dimulai dari menjaga lisan karena banyak dosa yang berasal dari ucapan yang tak dijaga.

Sementara itu, Ibnu Rajab Al-Hambali menguraikan bahwa takwa tidak berhenti pada meninggalkan yang haram. Derajat takwa tertinggi mencakup:

-Menjalankan semua kewajiban
-Menjauhi semua larangan
-Menghindari perkara syubhat (samar)
-Menjauhi yang makruh
-Menunaikan amalan sunnah dengan konsisten

Takwa sejati berarti hidup dalam ketaatan penuh, tidak bermaksiat kepada-Nya, selalu mengingat Allah, serta mensyukuri nikmat-Nya tanpa mengingkarinya.

 

Ada dua hal yang memudahkan kita masuk surga yaitu: takwa dan akhlak yang mulia. Bagaimana mewujudkannya? Bisa dipelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.

Khutbah Pertama

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

 

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

 

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

 

Amma ba’du …

 

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

 

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Selain bertakwa, Allah memerintahkan kita pula untuk berakhlak yang mulia kepada sesama. Dengan menjalankan kebaikan dan ketaatan itulah bentuk syukur kita kepada Sang Khaliq, Rabbal ‘Alamin. Tanpa ketaatan, seseorang tidak disebut bersyukur walaupun dia memiliki harta yang melimpah dan berbagai nikmat lainnya di tangannya.

 

Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman.

 

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

 

Perintah takwa inilah yang sering kita dengar dalam khutbah Jumat berulang kali,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.“ (QS. Ali Imran: 102)

 

Apa bentuk takwa yang sebenarnya?

 

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim oleh Ibnu Katsir, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata mengenai takwa yang sebenarnya,

 

لاَ يَتَّقِي العَبْدُ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ حَتَّى يَخْزُنُ مِنْ لِسَانِهِ

 

“Tidaklah seseorang disebut bertakwa dengan sebenar-benarnya kepada Allah sampai ia bisa menjaga lisannya.”

 

Kata Ibnu Katsir rahimahullah,

 

وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ

 

“Siapa yang meninggal dunia dengan suatu keadaan, maka ia akan dibangkitkan seperti keadaan itu pula.”

 

Perlu diingat bahwa ada dua amalan yang membuat seseorang mudah masuk surga, yaitu takwa dan akhlak yang mulia.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

 

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ»

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.’ Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, ‘Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.’” (HR. Tirmidzi, no. 2004 dan Ibnu Majah, no. 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Apa itu Takwa?

 

Takwa asalnya adalah menjadikan antara seorang hamba dan sesuatu yang ditakuti suatu penghalang. Sehingga takwa kepada Allah berarti menjadikan antara hamba dan Allah suatu benteng yang dapat menghalangi dari kemarahan, murka dan siksa Allah. Takwa ini dilakukan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat.

 

Namun takwa yang sempurna kata Ibnu Rajab Al-Hambali adalah dengan mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara syubhat, juga mengerjakan perkara sunnah, dan meninggalkan yang makruh. Inilah derajat takwa yang paling tinggi.

 

Ibnu Mas’ud ketika menafsirkan ayat “bertakwalah pada Allah dengan sebenar-benarnya takwa” yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat 102, beliau berkata,

 

أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى ، وَيُذْكَرُ فَلاَ يُنْسَى ، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكَفَّرُ

 

“Maksud ayat tersebut adalah Allah itu ditaati, tidak bermaksiat pada-Nya. Allah itu terus diingat, tidak melupakan-Nya. Nikmat Allah itu disyukuri, tidak diingkari.” (HR. Al-Hakim secara marfu’, namun mauquf lebih shahih, berarti hanya perkataan Ibnu Mas’ud). Yang dimaksud bersyukur kepada Allah di sini adalah dengan melakukan segala ketaatan pada-Nya.

 

Adapun maksud mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya adalah selalu mengingat Allah dengan hati pada setiap gerakan dan diamnya, begitu saat berucap. Semuanya dilakukan hanya untuk meraih pahala dari Allah. Begitu pula larangan-Nya pun dijauhi. (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:397-402)

Apa itu Akhlak yang Baik?

 

Ibnu Rajab mengatakan bahwa berakhlak yang baik termasuk bagian dari takwa. Akhlak disebutkan secara bersendirian karena ingin ditunjukkan pentingnya akhlak. Sebab banyak yang menyangka bahwa takwa hanyalah menunaikan hak Allah tanpa memperhatikan hak sesama. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:454).

 

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

 

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4682 dan Ibnu Majah, no. 1162. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Bentuk Akhlak yang Baik

 

Akhlak yang baik (husnul khuluq) ditafsirkan oleh para salaf dengan menyebutkan beberapa contoh.

 

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,

 

حُسْنُ الخُلُقِ : الكَرَمُ وَالبَذْلَةُ وَالاِحْتِمَالُ

 

“Akhlak yang baik adalah ramah, dermawan, dan bisa menahan amarah.”

 

Asy-Sya’bi berkata bahwa akhlak yang baik adalah,

 

البَذْلَةُ وَالعَطِيَّةُ وَالبِشرُ الحَسَنُ ، وَكَانَ الشَّعْبِي كَذَلِكَ

 

“Bersikap dermawan, suka memberi, dan memberi kegembiraan pada orang lain.” Demikianlah Asy-Sya’bi, ia gemar melakukan hal itu.

 

Ibnul Mubarak mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah,

 

هُوَ بَسْطُ الوَجْهِ ، وَبَذْلُ المَعْرُوْفِ ، وَكَفُّ الأَذَى

 

“Bermuka manis, gemar melakukan kebaikan, dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

 

Imam Ahmad berkata,

 

حُسْنُ الخُلُقِ أَنْ لاَ تَغْضَبَ وَلاَ تَحْتَدَّ ، وَعَنْهُ أنَّهُ قَالَ : حُسْنُ الخُلُقِ أَنْ تَحْتَمِلَ مَا يَكُوْنُ مِنَ النَّاسِ

 

“Akhlak yang baik adalah tidak mudah marah dan cepat naik darah.” Beliau juga berkata, “Berakhlak yang baik adalah bisa menahan amarah di hadapan manusia.”

 

Ishaq bin Rohuwyah berkata tentang akhlak yang baik,

 

هُوَ بَسْطُ الوَجْهِ ، وَأَنْ لاَ تَغْضَبَ

 

“Bermuka manis dan tidak marah.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:457-458)

 

Demikian khutbah pertama ini. Semoga kita bisa memiliki ketakwaan dan akhlak yang mulia yang memudahkan kita ke surga.

Editor : Nur Fadilah
#takwa #ahlak