GORONTALOPOST -Ma’asyiral muslimin, jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah.
Mengawali khutbah ini, khatib mengajak diri pribadi dan segenap jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Marilah kita berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk dosa serta maksiat. Sebab, dengan ketakwaan itulah, Allah akan membukakan jalan keluar dari setiap kesulitan dan melimpahkan rezeki dari arah yang tak kita duga-duga.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)
Apapun kondisi keuangan yang sedang kita hadapi, dari susahnya mencari pekerjaan, keinginan kuat untuk menikah, namun belum memiliki rezeki yang mencukupi ataupun permasalahan ekonomi lainnya, maka tidak ada jalan lain kecuali bertakwa kepada Allah Ta’ala.
Inilah janji Allah kepada kita semua yang mau terus istikamah di atas jalan ketaatan kepada-Nya serta berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang mengandung unsur kemaksiatan kepada Allah serta perbuatan-perbuatan yang menjadikan kita berpaling dari peringatan Allah Ta’ala.
Karena selain Allah Ta’ala menjanjikan kesejahteraan dan kemudahan rezeki bagi mereka yang bertakwa, Allah juga memberikan ancaman bagi siapa saja yang tidak mau mengindahkan perintah dan peringatan Allah Ta’ala, masih mencari rezeki dengan cara-cara yang Allah haramkan dan Allah larang, masih bermuamalah dengan harta ribawi ataupun bekerja dengan menipu manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)
Jemaah salat Jumat sekalian, di antara keistimewaan kaum muslimin dari yang lainnya adalah bahwa Allah Ta’ala telah membekali kita dengan pengetahuan bahwa Allah telah menetapkan semua takdir manusia. Jauh sebelum diri kita terlahir di dunia ini. Sehingga sudah sepantasnya perkara rezeki ini bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan oleh seorang muslim. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ
“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu ditiupkan padanya ruh, dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya …” (HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643)
Artinya, jatah rezeki telah dibagi dan ditetapkan. Semua telah ditentukan dengan kadar yang Allah beri. Karena itu, perbaguslah cara kita menjemput rezeki dengan selalu meminta tolong kepada Allah Ta’ala. Bersangka baiklah kepada-Nya. Karena apabila seseorang berburuk sangka kepada Allah, maka hal ini sama sekali tak bermanfaat untuknya.
Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, berikut ini adalah beberapa langkah terbaik seorang muslim di dalam menjemput rezeki yang telah Allah tentukan kepada-Nya.
Pertama, berbaik sangka kepada Allah. Karena Allah tergantung dengan persangkaan hamba-Nya kepada-Nya.
قال اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Jika ia bersangka baik kepadaku, maka (kebaikan) itu untuknya; dan jika ia bersangka buruk, maka itu untuknya.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 9076 dan Al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih Al-Jami’, no. 4315)
Kedua, kita harus yakin, sesungguhnya Allah Ta’ala menjamin rezeki semua ciptaan-Nya. Allah sendiri yang menyatakan hal itu dalam firman-Nya,
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi ini, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud: 6)
Jangankan manusia yang sudah mampu berusaha, seorang manusia, saat dia belum mampu berbuat apa-apa berupa janin dalam rahim ibunya saja, Allah telah menjamin rezeki untuknya. Bahkan hewan-hewan di dalam samudera dan semut-semut di dalam tanah sekalipun, Allah telah jamin semua rezeki mereka. Allah tidak menciptakan makhluk untuk kemudian menelantarkan mereka. Allah akan mengurus seluruh urusan mereka karena Allah adalah Al-Mudabbir, Yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya.
Jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah.
Ketiga, ketahuilah bahwa rezeki adalah ujian Allah kepada hamba-Nya. Dia lapangkan rezeki seseorang, untuk melihat apakah hamba tersebut memuji dan bersyukur kepada-Nya. Dan di sisi lain, Allah menyempitkan rezeki kepada yang lainnya, bukan karena lupa terhadap mereka, tapi ingin melihat apakah mereka termasuk hamba-hamba yang bersabar, berusaha, dan tidak meminta-minta.
Sabar saat mendapatkan rezeki yang sempit dan menghadapi masalah adalah kewajiban. Karena Allah mencela orang-orang yang tidak sabar dan menuduh Allah dengan tuduhan buruk. Allah Ta’ala berfirman,
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)
“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya, lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun apabila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al-Fajr: 15-16)
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Sumber :Muslim.or.id
Editor : Nur Fadilah