Gorontalopost, LIMBOTO - Juni 2026 menjadi momen penting bagi Kabupaten Gorontalo.
Tak hanya menjadi tuan rumah pertemuan nasional petani dan nelayan, daerah ini juga memanfaatkan ajang
PENAS KTNA XVII untuk menampilkan wajah baru sektor pariwisata yang kian berkembang.
Perjalanan wisata di Gorontalo seakan dimulai dari kawasan Puncak Dulamayo. Dikenal sebagai “Bogornya Gorontalo”
kawasan ini menawarkan kesejukan udara, hutan pinus, serta pengalaman wisata alam yang imersif.
Ekowisata di Dulamayo kini berkembang sebagai simbol pariwisata berkelanjutan
yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memberikan pengalaman mendalam bagi pengunjung.
Beranjak ke pusat kota Limboto, Menara Pakaya tampil sebagai ikon modern daerah.
Dari ketinggian 65 meter, pengunjung dapat menikmati panorama kota hingga Danau Limboto.
Saat malam hari, cahaya LED yang menghiasi menara menciptakan nuansa futuristik yang memperkuat daya tarik ruang publik.
Tak jauh dari sana, Masjid Agung Baiturrahman Limboto bersama taman budaya dan kawasan perkantoran menghadirkan harmoni antara modernitas dan nilai spiritual.
Kabupaten Gorontalo menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus meninggalkan akar budaya, melainkan memperkuatnya.
Perjalanan ditutup di kawasan pesisir Desa Wisata Bubohu Bongo. Destinasi ini
menghadirkan konsep wisata religi berbasis alam,
dengan Masjid Walima Emas yang berdiri megah di atas bukit menghadap Teluk Tomini.
Dengan berbagai destinasi tersebut, Kabupaten Gorontalo menjadikan PENAS KTNA XVII sebagai momentum memperkuat pariwisata sebagai motor ekonomi masa depan.(Mg-04).
Editor : Azis Manansang