Gorontalopost, GORONTALO – Tradisi Koko’o atau ketuk sahur merupakan tradisi masyarakat Gorontalo yang turun temurun.
Dengan tujuan untuk membangunkan sahur dengan membunyikan pentungan dari bambu yang diiringi lagu religi.
Kali ini berlangsung meriah di Kota Gorontalo pada 1 Ramadhan 1445 Hijriah, Selasa (12/3/2024).
Baca Juga: BWS Sulawesi II Gorontalo Gelar Goes To School
Kegiatan yang digelar oleh Generasi Muda Pabean Ramadhan (Gempar), diikuti ratusan warga.
Dengan membunyikan pentungan diiringi musik religi dan berkeliling di sejumlah ruas jalan utama di Kota Gorontalo.
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Dapil Kota Gorontalo Fikram A.Z Salilama, memberikan dukungan penuh atas pelaksanaan kegiatan yang dimotori oleh anak-anak muda Pabean tersebut.
Sehingga itu, kegiatan Koko’o yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah, Sofyan Ibrahim turut dihadiri Fikram AZ Salilama.
Baca Juga: Samapta Polda Gorontalo Bubarkan Remaja Pesta Miras Jelang Ramadan
Fikram selaku wakil rakyat di Kelurahan Tenda, dalam keterangannya saat diwawancarai pada kegiatan tersebut.
Menjelaskan secara singkat terkait sejarah pelaksanaan dan perkembangan Tradisi Koko’o di Gorontalo.
Ketua Fraksi Golkar ini mengatakan, tradisi Koko’o pertama kali digelar di Kelurahan Tenda, Kota Gorontalo sekitar tahun 1960 oleh sejumlah tokoh yang ada di kelurahan tersebut.
“Pertama kali koko’o itu di Kelurahan Tenda, tepatnya di sabua.
Ada salah seorang tokoh bernama Bapu Neti yang memiliki kebiasaan untuk memukul koko’o atau kentongan di depan rumah warga untuk memberitahu bahwa sudah waktunya sahur,” tuturnya.
Baca Juga: Kebakaran Terjang RS Dunda Limboto, Pasien Panik Keluar Ruangan
Fikram juga menambahkan, waktu di tahun 1969, dirinya menyaksikan sejumlah warga.
Melaksanakan ketuk sahur bersama mengikuti Bapu Neti yang suka membangunkan warga untuk sahur.
“Waktu itu saya masih kelas 2 SD dan tradisi ini terus berlanjut sampai sekarang.
Alhamdulillah ini sudah berkembang di tiap sudut Kota Gorontalo, bahkan Provinsi Gorontalo,” Ucapnya.
Baca Juga: Tuan Rumah Pra-Popnas Tahun 2024. Gorontalo Targetkan Atlet Semua Cabor Lolos ke Nasional
Dirinya berharap, tradisi ini bisa terus dilestarikan sebab selain menjadi kekayaan daerah, pelaksanaan koko’o juga memberikan kontribusi dalam ibadah Ramadhan.
“Tentunya kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk merawat tradisi leluhur.
Apalagi dengan berkembangnya zaman, tradisi ini semakin meriah dan ternyata di terima oleh masyarakat semua kalangan tua hingga yang muda,” pungkasnya.(mg-02)
Editor : Azis Manansang