Gorontalopost, GORONTALO - Gorontalo kembali membuka ruang diplomasi antar daerah di penghujung 2025.
Pemprov Gorontalo menggelar ramah tamah bersama Pemkot Kotamobagu di aula rumah jabatan gubernur.
Baca Juga: 39 Pejabat Fungsional Dilantik, Pemprov Gorontalo Percepat Reformasi Tata Kelola ASN
Pertemuan itu menjadi sinyal bahwa batas administratif bukan penghalang untuk membangun kerja sama strategis,
terutama bagi daerah yang memiliki irisan sejarah dan kultur yang kuat.
Gubernur Gusnar Ismail menyambut rombongan Kotamobagu dengan pesan persaudaraan yang diperbarui dalam nada kolaboratif.
Ia menekankan bahwa hubungan antar daerah harus dibangun di atas modal emosional, kepercayaan, dan visi yang saling menguntungkan.
Menurutnya, kerja sama masa depan tidak hanya soal MoU, tetapi bagaimana daerah bisa tumbuh bersama dalam satu ekosistem pembangunan regional.
Gusnar mengungkap kembali ikatan historis Gorontalo dan Bolaang Mongondow
yang pernah berada dalam satu provinsi, namun dengan pernyataan yang lebih segar.
Ia menyebut hubungan itu sebagai “akar yang tak mungkin tercerabut, meski peta berubah.”
Baca Juga: Bahasa Gorontalo Resmi Masuk Sekolah, Identitas Budaya Diperkuat Lewat Pendidikan
Pesan itu menegaskan bahwa kolaborasi harus terus dirawat, terutama dalam memperkuat pemerintahan, kepemimpinan daerah, dan sinergi lintas program.
Di sisi lain, Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib menempatkan kunjungan itu sebagai ruang belajar dan transfer tata kelola.
Ia menilai lompatan pembangunan Gorontalo setelah pemekaran menjadi referensi penting.
Pertemuan itu memperlihatkan bahwa kolaborasi antar daerah kini mulai masuk pada dimensi saling mentoring
dalam pengelolaan potensi lokal, bukan sekadar agenda seremonial.
Forum ditutup dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol komitmen, bukan sekadar tradisi.
Hadir pula unsur penggerak sosial seperti PKK dan organisasi perangkat daerah kedua belah pihak.
Gorontalo menegaskan diri sebagai provinsi yang mengedepankan diplomasi pembangunan berbasis sejarah,
persaudaraan, dan kerja sama yang lebih berdampak pada masyarakat kawasan utara Sulawesi. (Mg-02).
Editor : Azis Manansang