alexametrics
24.1 C
Gorontalo
Saturday, May 21, 2022

TERBONGKAR! PWI Sebut Edy Mulyadi Bukan Wartawan, Tidak Terdaftar di Dewan Pers

GORONTALOPOST.ID – Kuasa hukum Edy Mulyadi menginginkan, kasus hukum dugaan ujaran kebencian yang dialami kliennya dapat diselesaikan dengan Undang-Undang Pers (UU Pers).

Alasannya, karena Edy Mulyadi mengaku kapasitasnya sebagai wartawan senior yang mengeluarkan pernyataan Kalimantan ‘tempat jin buang anak’ dalam sebuah video viral. Masyarakat Kalimantan pun merasa terhina dan melaporkan Edy ke polisi.

Dilansir dari Republika, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah mengungkapkan, bahwa Edy Mulyadi tak terdaftar sebagai wartawan di website Dewan Pers, www.dewanpers.or.id.

“Nama Edy Mulyadi tidak terdaftar sebagai wartawan di website Dewan Pers. Edy katanya pernah terdaftar sebagai anggota PWI pada 1995, kalau tidak diperpanjang status keanggotaannya, berarti bukan anggota PWI lagi,” ujar Rusdy di Kantor PWI Kota Depok, Ahad (30/1).

Apalagi, Edy pernah ikut pileg pada 2019, otomatis juga gugur keanggotaannya. Saat ini, profesi wartawan itu wajib ikut Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dengan syarat bernaung di media yang terverifikasi dan tersertifikasi Dewan Pers.

Peraih Press Card Number One (PCNO) PWI yang akan diserahkan Presiden Jokowi pada Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2022 di Kendari, Sulawesi Tenggara ini mengatakan, seorang wartawan senior itu menunjukan kinerja profesional, independen, memiliki integritas, aktif dalam komunitas dan organisasi kewartawanan terutama PWI. Serta juga memiliki jejaring yang luas, selalu menjaga hubungan baik dengan nara sumber dan masyarakat serta diakui masyarakat pers sebagai teladan dengan kinerja profesional dan prestasi yang dicapai.

“Anda itu jangan ngaku-ngaku sebagai wartawan senior. Ada ukurannya seseorang itu sebagai wartawan senior atau bukan. Minimal 25 tahun mengabdi di dunia jurnalistik tanpa henti,” terang Rusdy

Rusdy yang memulai karir jurnalistiknya sejak 1991 dan pada 1993 hingga saat ini bernaung di media Harian Umum Republika mengutarakan, seorang wartawan senior itu, selama karirnya pernah bertugas di beberapa tempat, baik lokal, nasional dan internasional serta di wilayah bencana alam, konflik maupun perang

GORONTALOPOST.ID – Kuasa hukum Edy Mulyadi menginginkan, kasus hukum dugaan ujaran kebencian yang dialami kliennya dapat diselesaikan dengan Undang-Undang Pers (UU Pers).

Alasannya, karena Edy Mulyadi mengaku kapasitasnya sebagai wartawan senior yang mengeluarkan pernyataan Kalimantan ‘tempat jin buang anak’ dalam sebuah video viral. Masyarakat Kalimantan pun merasa terhina dan melaporkan Edy ke polisi.

Dilansir dari Republika, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah mengungkapkan, bahwa Edy Mulyadi tak terdaftar sebagai wartawan di website Dewan Pers, www.dewanpers.or.id.

“Nama Edy Mulyadi tidak terdaftar sebagai wartawan di website Dewan Pers. Edy katanya pernah terdaftar sebagai anggota PWI pada 1995, kalau tidak diperpanjang status keanggotaannya, berarti bukan anggota PWI lagi,” ujar Rusdy di Kantor PWI Kota Depok, Ahad (30/1).

Apalagi, Edy pernah ikut pileg pada 2019, otomatis juga gugur keanggotaannya. Saat ini, profesi wartawan itu wajib ikut Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dengan syarat bernaung di media yang terverifikasi dan tersertifikasi Dewan Pers.

Peraih Press Card Number One (PCNO) PWI yang akan diserahkan Presiden Jokowi pada Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2022 di Kendari, Sulawesi Tenggara ini mengatakan, seorang wartawan senior itu menunjukan kinerja profesional, independen, memiliki integritas, aktif dalam komunitas dan organisasi kewartawanan terutama PWI. Serta juga memiliki jejaring yang luas, selalu menjaga hubungan baik dengan nara sumber dan masyarakat serta diakui masyarakat pers sebagai teladan dengan kinerja profesional dan prestasi yang dicapai.

“Anda itu jangan ngaku-ngaku sebagai wartawan senior. Ada ukurannya seseorang itu sebagai wartawan senior atau bukan. Minimal 25 tahun mengabdi di dunia jurnalistik tanpa henti,” terang Rusdy

Rusdy yang memulai karir jurnalistiknya sejak 1991 dan pada 1993 hingga saat ini bernaung di media Harian Umum Republika mengutarakan, seorang wartawan senior itu, selama karirnya pernah bertugas di beberapa tempat, baik lokal, nasional dan internasional serta di wilayah bencana alam, konflik maupun perang

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/