Tiongkok Sebut Subvarian Baru Omicron dari Eropa dan AS

0
69
Ilustrasi pekerja medis dengan pakaian pelindung melihat warga yang antre untuk tes Covid-19 di Shanghai, Tiongkok. (Aly Song/Reuters/Antara)

GORONTALOPOST.ID – Tiongkok menyatakan, subvarian Omicron BQ.1 dan XBB yang terdeteksi di Kota Shanghai dan Provinsi Zhejiang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Dua subvarian itu sebelumnya menyebar luas di Eropa dan AS.

Kepala Rumah Sakit Kelas Tiga Shenzhen Lu Hongzhou seperti dikutip media Tiongkok seperti dilansir dari Antara, Rabu (4/1) mengatakan, BQ.1 merupakan turunan dari BA.5. sedangkan, XBB mampu menembus kekebalan tubuh karena hanya membutuhkan waktu dua pekan untuk menjadi induk virus seperti kasus di Singapura.

Sebelumnya pada Senin (2/1), Shanghai mendeteksi subvarian BQ.1 dan XBB di kawasan tertutup yang menjadi tempat karantina beberapa pelaku perjalanan dari negara lain. Dari 25 sampel XBB yang terdeteksi di Shanghai, beberapa di antaranya teridentifikasi mengandung subvarian XBB.1.5 yang dominan di AS.

Otoritas Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, pada Selasa (3/1) juga mendapati kasus XBB dan BQ.1 dari orang yang berada di kawasan tertutup. Kasus tersebut memicu kekhawatiran yang sangat tinggi karena penularannya sangat cepat dan orang yang pernah positif Covid-19 bisa tertular lagi.

Otoritas kesehatan Hangzhou berupaya menenangkan warganya dengan menyatakan bahwa patogen XBB dan BQ.1 tidak jauh berbeda dengan subvarian sebelumnya dan tingkat fatalitasnya juga rendah, seperti yang terjadi di beberapa negara.

Sementara itu, Selandia Baru mengumumkan tidak akan memberlakukan pembatasan Covid-19 apa pun bagi pelaku perjalanan asal Tiongkok dan menyebut pembatasan semacam itu tidak diperlukan atau dibenarkan. Lewat pernyataan, Menteri Penanggulangan Covid-19 Ayesha Verrall menjelaskan, risiko kesehatan masyarakat terhadap Selandia Baru kecil.

”Sebagai tanggapan, para pejabat telah melakukan penilaian risiko kesehatan masyarakat termasuk menggunakan skenario jumlah kasus potensial di kalangan pelaku perjalanan asal Tiongkok,” ujar Ayesha Verrall.

Hal ini, lanjut Verall, mengonfirmasi bahwa pengunjung ini tidak akan berkontribusi secara signifikan terhadap jumlah kasus Covid-19 di Selandia Baru. Sehingga, pembatasan masuk tidak diperlukan atau dibenarkan.

Pernyataannya itu disampaikan setelah sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Italia, Malaysia, Spanyol, Maroko, Qatar, Kanada, Korea Selatan, dan Taiwan, mengumumkan syarat hasil negatif tes Covid-19 bagi pelaku perjalanan dari Tiongkok.

”Ada risiko kesehatan masyarakat yang minimal terhadap Selandia Baru. Kami tahu bahwa BF7 adalah varian yang umum di Tiongkok dan itu tidak menyebabkan wabah yang signifikan di negara lain yang, seperti Selandia Baru, sudah terpapar varian BA5. Sehingga aturan kesehatan masyarakat tidak diperlukan untuk melindungi warga Selandia Baru,” kata Ayesha Verrall. (JPG)