Biden dan Netanyahu Saling Tuding Pernah Lakukan Pembunuhan Massal

GORONTALOPOST - Agresi militer Israel di Jalur Gaza telah menyebabkan lebih dari 18.000 warga Palestina tewas, dan reaksi negara Amerika Serikat (AS) sebagai sekutu Tel Aviv semakin tajam.
Presiden AS, Joe Biden, pada Selasa (12/12), mengkritik keras tindakan Israel di Gaza, menyatakan bahwa Israel kehilangan dukungan internasional karena pemboman yang dianggap "sembarangan".
Biden juga menyerukan perubahan dalam kepemimpinan Benjamin Netanyahu, menunjukkan ketegangan baru dalam hubungan bilateral.
Dalam pernyataannya kepada para donor kampanye, Biden menekankan perubahan dinamika dukungan internasional terhadap Israel.
"Keamanan Israel bisa saja bergantung pada Amerika Serikat, namun saat ini Israel memiliki lebih dari Amerika Serikat.
Namun mereka mulai kehilangan dukungan tersebut dengan pemboman tanpa pandang bulu yang terjadi," kata Biden.
Pernyataan ini mencerminkan perubahan sikap Biden terhadap cara Netanyahu menangani konflik di Gaza, setelah sebelumnya menunjukkan dukungan setelah serangan militan Hamas pada 7 Oktober di selatan.
Biden juga menyentuh isu serius, yakni percakapan pribadi di mana pemimpin Israel membahas pembunuhan massal yang dilakukan AS.
Dalam konteks ini, Biden mengingatkan tentang pembentukan lembaga-lembaga internasional pasca Perang Dunia Kedua untuk mencegah tragedi serupa.
Komentar tajam Biden ini bersamaan dengan rencana penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, untuk melakukan perjalanan ke Israel guna membahas situasi perang di Gaza.
Sullivan menyalahkan Hamas atas kegagalan gencatan senjata pada November hingga Desember, menyoroti penolakan militan untuk melepaskan sandera. (jpg)



