Kecelakaan Helikopter Presiden Iran dan Pemicu Kenaikan Harga Minyak Dunia

GORONTALOPOST- Harga minyak naik pada hari Senin di tengah ketidakpastian politik di negara-negara produsen utama setelah Presiden Iran meninggal dalam kecelakaan helikopter dan Putra Mahkota Arab Saudi membatalkan perjalanan ke Jepang, mengutip masalah kesehatan raja.
Presiden Iran Ebrahim Raisi, seorang garis keras yang lama dianggap sebagai calon penerus Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam kecelakaan helikopter di daerah pegunungan dekat perbatasan Azerbaijan, menurut pejabat dan media negara pada hari Senin.
Secara terpisah, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menunda kunjungannya ke Jepang yang dijadwalkan mulai pada hari Senin karena masalah kesehatan ayahnya, Raja Salman, kata Sekretaris Kabinet Jepang Yoshimasa Hayashi.
Kantor berita negara Saudi pada hari Minggu melaporkan bahwa Raja Salman yang berusia 88 tahun akan menjalani perawatan untuk peradangan paru-paru.
"Jika kesehatan ayahnya menurun, hal ini menambah lapisan ketidakpastian yang sudah menyelimuti pasar energi pagi ini setelah berita bahwa Presiden Iran hilang," kata analis IG Markets, Tony Sycamore.
Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan pada Senin (20/5) pagi di daerah pegunungan di Iran barat laut, beberapa jam setelah helikopter yang membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi dan rombongan jatuh. Lebih dari 65 tim penyelamat darurat telah dikerahkan ke Provinsi Azerbaijan Timur, tempat kecelakaan terjadi, meskipun cuaca buruk menghambat upaya mereka.
Radius pencarian terhadap helikopter yang membawa Presiden Raisi dan pejabat lainnya telah dipersempit dari 20 km menjadi 2 km, namun, kondisi pencarian masih sulit karena kabut tebal, hujan lebat, dan medan berat di daerah tersebut.
Pir Hossein Kolivand, kepala Masyarakat Bulan Sabit Merah Iran, menyatakan bahwa tim penyelamat sedang melakukan pencarian di beberapa tempat yang diduga menjadi lokasi jatuhnya helikopter, namun hingga kini belum menemukan jejak apapun.
Meskipun demikian, upaya penyelamatan terus dikoordinasikan dengan anggota angkatan bersenjata, menteri, anggota parlemen, dan pejabat provinsi yang turut hadir di lapangan.
