GORONTALOPOST -Pemerintah Provinsi Gorontalo terus berupaya menjawab keterbatasan jumlah dokter spesialis di daerah dengan menyiapkan terobosan baru di sektor kesehatan.
Salah satunya melalui rencana penerapan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital based) yang ditargetkan mulai terealisasi paling cepat pada tahun 2027.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S Otoluwa, mengatakan skema ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis, sekaligus mendekatkan layanan kesehatan spesialistik kepada masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Anang saat memimpin rapat persiapan akselerasi penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit di Provinsi Gorontalo, Rabu.
Dalam rapat itu, Anang menekankan pentingnya dukungan penuh dari kolegium dan organisasi profesi agar pengembangan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis dapat berjalan optimal.
“Sinergi antara pemerintah daerah, rumah sakit, kolegium, dan organisasi profesi menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit. Kami sangat mengharapkan dukungan semua pihak agar program ini berjalan sesuai standar dan berkelanjutan,” ujar Anang.
Rapat tersebut digelar untuk memetakan kesiapan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta kurikulum rumah sakit yang akan ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU). Langkah ini mengacu pada surat Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor DP.01.08/028/2025.
Menurut Anang, percepatan penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit di Gorontalo menjadi kebutuhan mendesak, mengingat keterbatasan jumlah dokter spesialis masih menjadi tantangan utama pelayanan kesehatan di daerah.
“Dengan percepatan ini, kami berharap masyarakat Gorontalo tidak lagi kesulitan mengakses pelayanan spesialistik dan kualitas layanan kesehatan semakin meningkat,” katanya.
Ia menambahkan, langkah tersebut sejalan dengan komitmen Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie dalam memperkuat sektor kesehatan, terutama menghadirkan layanan yang berkualitas dan mudah dijangkau oleh masyarakat.
“Komitmen gubernur dan wakil gubernur sangat jelas, yakni mendekatkan pelayanan dokter spesialis kepada masyarakat Gorontalo,” tegas Anang.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah lulusan dokter spesialis di Indonesia saat ini hanya sekitar 2.700 orang per tahun, sementara kebutuhan nasional mencapai kurang lebih 70.000 dokter spesialis. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga medis spesialistik.
“Jika hanya mengandalkan pola pendidikan konvensional, tentu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menutup kekurangan tersebut. Karena itu, pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit menjadi solusi strategis yang harus didorong,” jelas Anang.
Rapat persiapan ini turut dihadiri perwakilan RSUD Prof Dr Aloei Saboe Kota Gorontalo, RSUD Otanaha Kota Gorontalo, RSUD MM Dunda Limboto Kabupaten Gorontalo, RSUD Hasri Ainun Habibie, serta sejumlah organisasi profesi seperti PAPDI, PERDAMI, PERDOSNI, IDI wilayah, Ikatan Ahli Bedah Indonesia, Kepala Dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten Gorontalo, serta jajaran administrator Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo.
Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, Pemerintah Provinsi Gorontalo optimistis pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit dapat menjadi tonggak penting dalam memperkuat layanan kesehatan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(antara)
Editor : Nur Fadilah