GORONTALOPOST -Ribuan warga memadati sejumlah jalan protokol di Kota Gorontalo, Kamis (19/2), untuk meramaikan tradisi Koko’o atau ketuk sahur.
Dentuman kentungan bambu yang saling bersahutan berpadu dengan semangat para peserta, menghadirkan nuansa Ramadan yang kental dengan kebersamaan dan keceriaan.
Tradisi membangunkan sahur ini kembali digelar pada 2026 dengan skala yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Jika biasanya hanya diikuti ratusan orang, tahun ini jumlah peserta melonjak drastis hingga mendekati 2.000 orang di titik start.
Ketua Koko’o Gorontalo, Fiqram Idrus, mengatakan perayaan tahun ini bertepatan dengan 1477 Hijriah dan dikemas dengan konsep yang lebih kreatif.
Ribuan peserta berjalan kaki sambil membawa kentungan bambu, diiringi truk yang dihias dengan desain panggung menarik, sistem suara, serta permainan cahaya lampu yang memukau.
“Setiap tahun kita update terus konsep Koko’o Gorontalo. Kita bermain di desain panggung dan menambah elemen-elemen baru agar selalu ada pembaruan,” ujar Fiqram.
Menurutnya, lonjakan jumlah peserta menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, khususnya generasi muda. Membunyikan kentungan kayu saat sahur bukan sekadar membangunkan warga, tetapi juga simbol pelestarian budaya Gorontalo.
“Tradisi itu kita tetap bangun dari mulai anak kecil sampai dewasa. Mereka harus tahu tradisi Gorontalo itu seperti apa,” katanya.
Pelaksanaan Koko’o tahun ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Gorontalo dan secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel. Dukungan tersebut semakin memperkuat posisi Koko’o sebagai agenda budaya tahunan yang dinanti-nantikan.
Antusiasme tak hanya datang dari warga lokal. Sri Desni Anjani Laia, warga asal Nias, Sumatera Utara, mengaku terkejut melihat besarnya partisipasi masyarakat.
“First time saya lihat Koko’o ini, saya agak terkejut karena banyak masyarakat yang antusias dalam melihat dan ikut serta,” ujarnya.
Meski terkesan dengan kemeriahan acara, ia berharap aspek keamanan dan ketertiban tetap menjadi perhatian bersama, terutama bagi pejalan kaki dan pengendara motor yang melintas.
Di tengah deru modernisasi, Koko’o menjadi pengingat bahwa tradisi tak pernah benar-benar hilang. Ia hidup, tumbuh, dan bertransformasi mengikuti zaman namun tetap berakar pada nilai kebersamaan dan semangat membangun budaya lokal.
Ramadan di Gorontalo pun terasa lebih berwarna, bukan hanya karena ibadahnya, tetapi juga karena tradisi yang terus dijaga dan dirayakan bersama.(antara)
Editor : Nur Fadilah