Kasus Diabetes Harus Ditekan, Angka Obesitas Anak Naik 70 Kali Lipat

0
86
Proses evakuasi warga penderita obesitas di Kelurahan Pabuaran, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (ANTARA/HO-Humas Pemkab Bogor)

GORONTALOPOST.ID – Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam membantu menekan angka kegemukan pada anak-anak usia SD hingga SMA. Diperlukan edukasi yang bersifat menyeluruh dan konsisten terhadap orang tua dan guru yang merupakan agent of change untuk mencegah kegemukan pada anak-anak, dikutip dari ANTARA.

“Orang tua dan guru pasti didengarkan oleh anak-anak. Orang tua bisa mengatur pola makan, tidur, dan aktivitas anak-anak di rumah. Sedangkan guru yang mengingatkan karena mereka disegani oleh siswa-siswanya. Jangan lupa bahwa anak-anak sejak usia SMP sudah mulai bisa mengelola uang jajan mereka sendiri,” kata Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia, PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Hardinsyah, di Jakarta, Rabu (15/2) malam kemarin.

Seperti diketahui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa jumlah penderita diabetes anak di Indonesia mencapai 1.645 pasien per Januari 2023. Kasus diabetes melitus tipe 1 pada anak meningkat sebanyak 70 kali lipat sepanjang periode 2010 hingga 2023 dengan mengacu laporan dari 13 kota di Indonesia.

Karena itu, lanjut Hardinsyah, orang tua dan guru yang teredukasi dengan baik akan dapat membantu menahan bahkan menekan laju angka obesitas pada anak-anak.

Hardinsyah menyebutkan beberapa upaya yang bisa dilakukan orang tua kepada anak adalah giat melakukan aktivitas fisik, meminimalisasi lemak jahat pada makanan, membatasi minuman bergula manis, serta tidur yang cukup.

“Dari sisi makanan, mulai membiasakan mengkonsumsi pangan hewani seperti sayuran hijau, kacang-kacangan termasuk tempe. Dari sisi gaya hidup, generasi muda saat ini semakin hari semakin berkurang waktu tidurnya karena semakin banyak yang ditonton. Kurang tidur juga menyebabkan kegemukan karena nafsu makan meningkat,” jelasnya.

Kegemukan, lanjutnya, adalah permasalahan kompleks yang tidak hanya cukup dengan membatasi kalori, namun juga mencermati pola tidur dan tingkat stres pada anak-anak.

“Berbagai penelitian global menyatakan anak-anak generasi Z lebih gampang stres bila dibandingkan generasi sebelumnya. Maka anak-anak butuh lingkungan rumah dan sekolah jauh dari stres,” katanya.

Hardinsyah menilai Pemerintah juga ikut berperan dengan mengandalkan persebaran informasi lewat media massa secara terstruktur untuk menggaungkan pentingnya gizi ke segala lapisan masyarakat. Inovasi dan intervensi, katanya, menjadi kata kunci untuk menurunkan angka kegemukan pada anak-anak.

Ia lantas mengambil contoh negara Singapura yang sukses menerapkan program latihan khusus bagi anak-anak yang memiliki kelebihan berat badan di sekolah.

“Singapura yang punya program bagi siapa yang berat badannya berlebih maka dia harus pulang lebih sore. Di situ orang tua menyetujui dan tanda tangan. Maka, satu jam di akhir pelajaran, khusus bagi anak-anak yang kelebihan berat diberikan latihan fisik. Meskipun secara psikologi mungkin ada konflik karena orang nggak boleh dipisah-pisah, tetapi Pemerintah di sana melakukan itu dan berhasil,” paparnya.

Di lain sisi, PERGIZI PANGAN Indonesia, kata Hardinsyah, memiliki webinar yang sejak tiga tahun terakhir selalu konsisten memberikan edukasi kepada ratusan peserta. Pihaknya juga berkolaborasi dengan tim penggerak PKK di beberapa provinsi yang bisa melibatkan 2.000 orang ibu-ibu.

“Ini tentu bagus sekali dan harus lebih dibumikan agar mencapai tingkat Posyandu, RT, dan RW. Di sinilah peran Pemerintah menjadi penting karena memiliki infrastruktur seperti Puskesmas, kader-kader di Posyandu, atau pendamping di BKKBN yang bisa memberikan intervensi,” tutupnya.(Jawapos)