
GORONTALOPOST -Banyak orang mengira diare selalu disebabkan oleh makanan yang kurang higienis atau infeksi bakteri.
Padahal, kondisi psikis seperti stres juga dapat memicu gangguan pencernaan, termasuk diare. Fenomena ini sering kali tidak disadari karena gejalanya mirip dengan diare akibat penyebab lain.
Hubungan Stres dan Saluran Pencernaan
Stres memiliki hubungan erat dengan kesehatan pencernaan melalui gut brain axis, yaitu jalur komunikasi dua arah antara otak dan sistem pencernaan.
Saat Anda mengalami kecemasan, ketegangan, atau tekanan emosional, otak mengirimkan sinyal ke usus yang memengaruhi gerakan otot pencernaan dan produksi cairan di dalamnya.
Akibatnya, usus dapat bekerja lebih cepat dari biasanya, membuat tinja tidak sempat mengeras, dan terjadilah diare.
Ciri-Ciri Diare Akibat Stres
Meskipun mirip dengan diare biasa, ada beberapa tanda yang bisa membantu membedakannya:
1. Muncul saat stres meningkat Gejala biasanya timbul ketika Anda sedang tegang, cemas, atau menghadapi tekanan.
2. Tidak disertai demam atau muntah parah Berbeda dengan diare akibat infeksi, umumnya tidak ada tanda infeksi berat.
3. Feses cair tapi tidak selalu berbau menyengat Karena bukan disebabkan bakteri tertentu.
4. Disertai keluhan psikis Misalnya sulit tidur, gelisah, atau jantung berdebar.
5. Bisa hilang setelah stres mereda Gejala mereda ketika pikiran dan tubuh mulai rileks.
Cara Mengatasinya
Mengelola stres adalah kunci utama untuk mencegah dan mengurangi diare jenis ini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
-Latihan relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau yoga.
- Istirahat cukup untuk membantu tubuh memulihkan energi dan kestabilan hormon.
-Olahraga teratur guna melepas ketegangan dan meningkatkan mood.
-Mengatur pola makan dengan menghindari makanan pemicu diare seperti makanan pedas, berlemak, atau terlalu asam saat sedang stres.
-Konsultasi ke dokter atau psikolog jika stres berkepanjangan atau gejala pencernaan tidak kunjung membaik.
Kapan Harus Waspada?
Segera cari bantuan medis jika diare berlangsung lebih dari tiga hari, disertai darah, dehidrasi, atau nyeri perut hebat. Meski stres menjadi pemicu utama, tidak menutup kemungkinan ada penyakit lain yang memerlukan penanganan khusus.(*)
