Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

“Memory vs Phone”: Perseteruan Internal di Samsung Bisa Picu Harga Galaxy S26 Naik

P
Penulis: Priska Watung❯
Samsung Galaxy A56
Samsung Galaxy A56

GORONTALOPOST - Samsung Electronics, produsen smartphone dan chip memori terbesar dunia, kabarnya kini menghadapi ketegangan internal serius antara divisi ponsel dan divisi memori — konflik yang berpotensi berdampak negatif dalam jangka panjang.

Konflik Internal: Divisi Memory Tolak Pasokan DRAM untuk Galaxy

  • Sejak dulu, ponsel dan tablet Galaxy biasanya memakai RAM (DRAM) dan storage (NAND) buatan Samsung sendiri.

  • Namun belakangan Samsung mulai memakai DRAM dari pabrikan lain (misalnya Micron) di ponsel kelas atas.

  • Kini, divisi memori dikabarkan menolak penawaran kontrak pasokan jangka panjang (≥ 1 tahun) dari divisi ponsel. Sebagai gantinya mereka hanya mau menyetujui kontrak jangka pendek (per kuartal).

Alasan utama: dengan lonjakan harga DRAM global dan permintaan memori yang melambung akibat ledakan AI, divisi memori ingin mengambil keuntungan maksimal — dibandingkan komitmen harga stabil jangka panjang.

Kenapa Harga dan Permintaan DRAM Melonjak

  • Dalam beberapa waktu terakhir, harga DRAM dan NAND melonjak dratis karena kekurangan pasokan dan permintaan besar dari sektor AI dan server.

  • Banyak pabrik memori — termasuk Samsung — mulai mengalihkan fokusnya dari memori biasa ke memori berbandwidth tinggi (HBM) dan DRAM kelas server untuk kebutuhan AI/data center.

  • Akibatnya, pasokan DRAM untuk perangkat mobile menjadi makin sempit, dan harga kontrak meningkat besar-besaran.

Implikasi bagi Galaxy & Konsumen

  • Karena pasokan internal dari divisi memori ditolak, divisi ponsel Samsung kemungkinan harus mencari DRAM dari pihak luar — seperti Micron — yang bisa membuat biaya produksi meningkat.

  • Di tengah naiknya biaya komponen (DRAM, prosesor), ini menyulitkan Samsung untuk menawarkan peningkatan hardware signifikan sambil menjaga harga lama.

  • Ada laporan bahwa hal ini dapat memaksa harga seri flagship mendatang (misalnya Galaxy S26) naik meskipun peningkatan spesifikasi tidak besar.

Pandangan ke Depan

Situasi ini menunjukkan bahwa saat industri chip dan memori tengah dibanjiri permintaan akibat “boom AI,” prioritas profit bagi pembuat chip (termasuk Samsung) bisa berbenturan dengan kebutuhan stabil supply untuk perangkat konsumer. Bila terus berlangsung, hal ini bisa mengubah strategi produksi dan harga smartphone — tidak hanya untuk Samsung, tapi seluruh industri.


Advertisement

Para pengguna dan pengamat industri pun kini memperhatikan: apakah Samsung akan kembali menyeimbangkan antara supply internal & keuntungan, atau terus mengejar margin tinggi dengan risiko fragmentasi lini produksi dan harga naik.

(HL)

 

Advertisement
Editor : Priska Watung
Sumber : WCCFTECH, sammyguru.com, SamMobile

Artikel Terkait

Samsung Hadapi Tekanan Biaya Komponen, Produksi Ponsel Bisa Dipangkas

Samsung Hadapi Tekanan Biaya Komponen, Produksi Ponsel Bisa Dipangkas

Laporan media Korea Selatan menyebut pemangkasan tersebut dapat mencapai 20 hingga 30 persen pada kuartal IV 2026, terutama karena kenaikan.

Samsung Pertahankan Posisi Teratas di Pasar Smartphone Global

Samsung Pertahankan Posisi Teratas di Pasar Smartphone Global

Di bawah Samsung, Apple menempati posisi kedua dengan pangsa pasar sebesar 21 persen. Selisih keduanya hanya satu poin persentase,

Samsung Siapkan Galaxy S27 Ultra dengan Baterai Lebih Jumbo

Samsung Siapkan Galaxy S27 Ultra dengan Baterai Lebih Jumbo

Galaxy S27 Ultra sendiri diperkirakan meluncur pada awal 2027. Hingga Samsung memberikan pengumuman resmi, berbagai spesifikasi yang beredar

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer