GORONTALOPOST - Alkisah, dalam panjang dan melelahkannya perjalanan sejarah Islam, terdapat satu kisah cinta yang melambungkan romantisme hingga menjadi salah satu kisah paling memukau dalam warisan agama Islam: kisah cinta diam-diam antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra, putri tercinta Rasulullah SAW.
Sebelum kita menyelami lebih dalam tentang kisah ini, penting untuk memahami kedua sosok yang menjadi tokoh utamanya.
Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah SAW, seorang sahabat yang sangat dihormati dan diakui dalam Islam.
Lahir di Mekah pada tahun 601 Masehi, Ali telah hidup bersama Rasulullah sejak usia 6 tahun, diangkat sebagai putra oleh Rasulullah sendiri.
Fatimah Az-Zahra, di sisi lain, adalah putri termuda Rasulullah dari istrinya, Khadijah binti Khuwailid.
Dia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian Rasulullah dan tumbuh dalam bayang-bayang kasih sayang Sang Rasul.
Kedua pribadi ini, Ali dan Fatimah, tumbuh bersama dan memiliki ikatan yang kuat. Namun, cinta mereka tak pernah diungkapkan secara terang-terangan.
Mereka menyimpan perasaan itu dalam hati, menjaga rahasia yang begitu rapat sehingga bahkan setan pun tidak bisa mengetahui.
Dalam diam, cinta mereka tumbuh, mekar seperti bunga yang indah di kebun Islam.
Namun, tantangan segera menghadang. Fatimah, sebagai putri Rasulullah, adalah sosok yang amat terhormat dan diinginkan banyak orang.
Tapi setiap lamaran yang datang ditolak oleh Rasulullah dengan alasan bahwa Fatimah masih terlalu muda.
Bahkan para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, Abdurrahman bin Auf, dan Utsman bin Affan, semua menemui pintu penolakan.
Ali, yang awalnya pasrah dan merasa tidak layak, kemudian diarahkan oleh Umar bin Khattab untuk mencoba melamar Fatimah.
Dengan perasaan campur aduk, Ali akhirnya memutuskan untuk melangkah maju.
Ketika akhirnya dia mengungkapkan niatnya kepada Rasulullah, beliau menyambutnya dengan hangat.
Ali, yang hanya memiliki sebilah pedang dan seekor unta, dianggap oleh Rasulullah sebagai pilihan yang tepat untuk Fatimah.
Rasulullah, dengan penuh kasih sayang, menerima mahar yang sederhana itu sebagai tanda persetujuan atas pernikahan mereka.
Pernikahan mereka menjadi contoh yang sempurna tentang kesederhanaan, kesetiaan, dan cinta yang mendalam.
Dalam rumah tangga mereka, mereka menjalani hidup yang penuh berkah meskipun sederhana. Fatimah, meski putri Rasulullah, tidak pernah mengeluh tentang kehidupan yang sederhana, dan Ali, meski awalnya meragukan dirinya, menjadi suami yang setia dan penyayang.
Namun, kebahagiaan mereka tidak luput dari cobaan. Suatu hari, Ali diminta untuk berpoligami, tetapi Fatimah sangat terpukul oleh permintaan tersebut.
Rasulullah dengan tegas menolak permintaan tersebut, mengatakan bahwa Fatimah adalah bagian dari dirinya dan menyakiti hatinya berarti juga menyakiti Rasulullah sendiri.
Kepergian Fatimah dari dunia ini, meski menyedihkan, juga dipenuhi dengan momen yang penuh makna.
Sebelum wafatnya, Rasulullah memberikan pesan yang menyentuh hati kepada Fatimah, memberi tahu tentang dekatnya ajal dan menenangkan hatinya.
Fatimah, dengan tangis dan senyum, menerima pesan tersebut, menunjukkan ketabahan dan kepasrahan yang luar biasa.
Dari kisah ini, kita belajar tentang cinta yang tulus, kesetiaan yang tanpa pamrih, dan kekuatan dalam menghadapi cobaan.
Kisah cinta antara Ali dan Fatimah tidak hanya tentang romantisme, tetapi juga tentang pengorbanan, kesetiaan, dan keimanan.***
Sumber: Youtube @Tafakkur Fiddin
Editor : Tina Mamangkey