Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Apakah Cuci Darah Beneran Dicuci? Fakta Menarik yang Harus Anda Ketahui!

Tina Mamangkey • Selasa, 13 Agustus 2024 | 08:15 WIB
Ilustrasi - Apakah cuci darah benar-benar melibatkan proses pencucian?
Ilustrasi - Apakah cuci darah benar-benar melibatkan proses pencucian?

GORONTALOPOST - Mungkin kita sering mendengar istilah "cuci darah."

Sekilas, bayangan tentang proses ini bisa terdengar menyeramkan, terutama jika kita membayangkan ada mesin cuci yang berisi darah berwarna merah.

Namun, pertanyaannya adalah: apakah cuci darah benar-benar melibatkan proses pencucian?

Atau ini hanya istilah yang digunakan layaknya "cuci otak" atau "cuci mata"?

Apa Itu Cuci Darah?

Sederhananya, cuci darah memang berarti "mencuci" darah, tetapi bukan dengan deterjen atau dijemur seperti pakaian.

Proses medis ini dikenal dengan nama hemodialisis. Istilah ini berasal dari dua kata: "hemo" yang berarti darah dan "dialisis" yang berarti pemisahan.

Prosedur ini digunakan untuk membersihkan darah dari zat-zat berbahaya yang tidak dapat dibuang oleh ginjal, terutama pada pasien yang mengalami gangguan fungsi ginjal.

Mengapa Darah Perlu Dicuci?

Darah kita perlu "dicuci" karena terkadang mengandung zat-zat buangan yang tidak bisa diolah atau dibuang oleh tubuh secara alami, seperti dalam kasus penyakit ginjal.

Ginjal berfungsi sebagai filter, mengeluarkan limbah dan cairan berlebih melalui urine.

Namun, jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, zat-zat tersebut bisa menumpuk dan menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

Sebagai contoh, ketika seseorang mengalami penyakit ginjal seperti batu ginjal atau gagal ginjal, ginjal tidak dapat berfungsi secara optimal.

Ini menyebabkan akumulasi limbah dalam darah, yang pada gilirannya bisa berujung pada kerusakan organ dan komplikasi kesehatan lainnya.

Proses Cuci Darah

Pada saat melakukan hemodialisis, dua jarum akan disuntikkan ke lengan pasien.

Jarum pertama akan mengambil darah dari tubuh dan mengalirkannya ke mesin dialisis.

Di dalam mesin ini, darah melewati filter yang terdiri dari ribuan serat halus yang berfungsi menyaring zat-zat berbahaya, seperti urea dan kreatinin.

Setelah proses penyaringan, darah yang telah bersih akan dialirkan kembali ke tubuh melalui jarum kedua.

Proses ini bisa diibaratkan seperti masuk ke ruang bimbingan konseling dengan masalah dan keluar dengan solusi.

Namun, penting untuk diingat bahwa hemodialisis tidak dapat sepenuhnya menggantikan fungsi ginjal.

Sebaiknya, jika memungkinkan, pasien yang mengalami gagal ginjal sebaiknya mencari donor ginjal yang sehat.

Inovasi dalam Transplantasi Ginjal

Namun, perkembangan terbaru dalam dunia medis menunjukkan harapan baru.

Penelitian selama puluhan tahun telah membuahkan hasil ketika para dokter berhasil melakukan operasi untuk memasang ginjal babi ke tubuh manusia yang mengalami mati otak.

Ginjal babi ini telah dimodifikasi secara genetik agar sesuai dengan sistem imun manusia.

Menariknya, ginjal yang ditransplantasikan berhasil berfungsi dengan baik tanpa diserang oleh sistem imun tubuh.

Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan untuk mengatasi kekurangan organ donor bisa menjadi lebih nyata di masa depan.

Kesimpulan

Meskipun cuci darah bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah ginjal, mendapatkan ginjal baru yang sehat adalah pilihan terbaik.

Namun, mengingat langkanya organ donor, menjaga kesehatan ginjal kita adalah hal yang paling bijaksana.

Mencegah penyakit ginjal dengan gaya hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi, dan rutin berolahraga adalah langkah-langkah yang dapat kita ambil untuk menjaga ginjal tetap berfungsi dengan baik.

Ingat, ginjal yang sehat adalah aset berharga bagi tubuh kita.

Jadi, jaga baik-baik organ kembar berbentuk kacang merah ini agar tetap berfungsi optimal!

***

Sumber: YouTube Kok Bisa?

Editor : Tina Mamangkey
#cuci darah #ginjal