Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) makin cepat di seluruh dunia. Namun, di Indonesia ternyata penggunaannya masih sangat terbatas.
Menurut hasil survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, hanya 27,34 persen orang Indonesia yang sudah memakai teknologi AI.
Artinya, lebih dari 72 persen atau sekitar 3 dari 4 masyarakat Indonesia masih belum memanfaatkan teknologi ini sama sekali.
Data ini cukup mengejutkan mengingat AI saat ini dipakai di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga hiburan.
Dilansir dari Kontan.co.id, jumlah pengguna AI memang meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 23,84 persen. Meski naik, angka tersebut masih tergolong rendah.
AI sendiri adalah teknologi yang membuat komputer atau mesin bisa “berpikir” dan belajar seperti manusia. Contohnya seperti ChatGPT, Google Gemini, atau asisten virtual di ponsel pintar.
Sayangnya, banyak masyarakat yang masih belum tahu kegunaan AI atau bahkan belum mengenal istilah ini.
Kurangnya literasi digital menjadi salah satu penyebab lambatnya adopsi AI di Indonesia.
Selain itu, akses internet yang belum merata di seluruh daerah juga membuat sebagian masyarakat belum bisa mencoba teknologi ini.
Padahal, AI bisa membantu pekerjaan sehari-hari menjadi lebih cepat dan efisien. Misalnya untuk meringkas materi pelajaran, membuat desain, atau sekadar mencari ide.
Di dunia kerja, AI juga mulai dipakai untuk menganalisis data, menulis laporan, hingga membantu perusahaan mengambil keputusan.
Jika masyarakat tidak cepat beradaptasi, maka bisa saja Indonesia tertinggal jauh dari negara lain dalam memanfaatkan AI.
Menurut para ahli, AI bukan hanya tren sementara, tapi akan jadi bagian penting dari kehidupan manusia di masa depan.
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan sudah lama menggunakan AI dalam industri besar mereka.
Sementara itu, di Indonesia, pemanfaatan AI baru sebatas pada aplikasi-aplikasi ringan yang mudah diakses lewat smartphone.
Padahal, jika dikembangkan lebih jauh, AI bisa mendukung bidang pertanian, transportasi, bahkan pelayanan publik.
Baca Juga: 10 Teknologi 2025 yang Belum Kamu Tahu—Termasuk Baterai Super dan Sensor Tak Terlihat!
Kuncinya ada pada edukasi dan penyediaan infrastruktur internet yang lebih baik di seluruh daerah.
Pemerintah, sekolah, dan komunitas digital juga diharapkan aktif memberikan pelatihan serta sosialisasi tentang manfaat AI.
Dengan begitu, masyarakat bisa memahami bahwa AI bukan hal yang menakutkan, melainkan alat yang bisa mempermudah hidup mereka.
Jika kesadaran ini meningkat, bukan tidak mungkin jumlah pengguna AI di Indonesia akan melonjak drastis dalam beberapa tahun ke depan.
(at)
Editor : Priska Watung