alexametrics
24.1 C
Gorontalo
Friday, May 27, 2022

Anak Buahnya Tewas Lagi di Tangan KKB, Ini Instruksi Jenderal Dudung

GORONTALOPOST.ID- Prajurit TNI kembali menjadi korban aksi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Kelompok Separatis Teroris (KST) di Papua. Kamis pagi (31/3) personel TNI bersama Sertu Eka Andrianto Hasugian gugur. KST menyerang Eka dan keluarga di kios milik mereka yang terletak di Jalan Trans Elelim, Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua.

Dalam serangan tersebut, tidak hanya Eka yang meninggal dunia. Istri Eka yang bernama Sri Lestari Indah Putri juga ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Sementara anak dari pasangan Eka dan Sri selamat. Namun mengalami luka yang cukup serius di bagian jari-jari tangannya.

Atas peristiwa tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman menyatakan bahwa pihaknya mengutuk keras para pelaku. Melalui keterangan resmi yang dia sampaikan kepada awak media di Jakarta, Dudung menyatakan, pihaknya sudah memerintahkan Kodam XVII/Cenderawasih mengejar para pelaku.

Dudung ingin para pelaku diproses hukum. Selain itu, orang nomor satu di TNI AD tersebut meminta anak buahnya yang bertugas di daerah operasi bertindak tegas bila nyawa dan keselamatan mereka terancam. ”Untuk tidak ragu-ragu bertindak tegas terhadap pihak-pihak tertentu yang mengancam keselamatan pribadi maupun masyarakat sekitar,” ungkap Dudung dalam keterangan resmi.

Mantan panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu meminta para prajurit TNI AD selalu waspada dalam melaksanakan tugas. Dia berjanji instansinya akan mengurus hak-hak Eka. Juga menjamin masa depan keluarganya. Terutama anak Eka yang masih berusia di bawah lima tahun.

Berdasar informasi dari Wakil Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Infanteri Candra Kurniawan, Eka merupakan prajurit TNI AD yang bertugas sebagai babinsa di Koramil 1702-70/Kurulu. Sedangkan Sri merupakan seorang bidang yang sehari-hari bekerja di Puskesmas Elim. Dia merupakan pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Yalimo.

Eka dan keluarganya diserang KST sekitar pukul 06.15 WIT. ”Korban yang merupakan Nakes dan PNS Puskesmas Elim Yalimo sering membantu masyarakat, khususnya dalam persalinan Ibu-ibu,” terang Candra. Tidak hanya itu, kini Sri juga berperan memeriksa para pengungsi yang berada di Kabupaten Yalimo. ”Almarhum sebagai tenaga kesehatan terjun langsung membantu para pengungsi,” tambah dia.

Sementara Eka, lanjut Candra, dikenal sebagai babinsa yang aktif. ”Selalu membantu masyarakat sekitar,” ujar dia. Saat ditemukan, lanjut perwira menengah dengan dua kembang di pundak itu, jari tangan anak Eka dan Sri sudah tidak ada. ”Jari tangannya dipotong,” sesalnya. Untuk mengungkap secara terang peristiwa tersebut, aparat kepolisian langsung memeriksa saksi-saksi. Perintah KSAD pun dilaksanakan oleh Kodam XVII/Cenderawasih.

Tidak hanya di Yalimo, KST juga berulah di Kabupaten Intan Jaya. Di sana mereka membakar bangunan atap Sekolah YPPGI dan SMPN 2 Hitadipa. Dipastikan sembilan kelas rusak akibat pembakaran tersebut. Kabidhumas Polda Papua A. M. Kamal menjelaskan, kejadian pembakaran bermula Rabu (30/3) pukul 17.50. “Petugas melihat kepulan asap dari arah kampung Hitadipa,” ujarnya.

Dari keterangan saksi diketahui bahwa satu jam sebelumnya puluhan orang masuk ke kampung Hitadipa. Mereka melakukan pembakaran gedung sekolah yang terdiri dari sekolah dasar dan SMP. “Pembakar dari kelompok separatis teroris,” tuturnya. Tak hanya itu, puluhan anggota KST itu juga melakukan penganiayaan terhadap seorang guru. Dia mengatakan, setelah melakukan pembakaran dan penganiayaan, anggota KST ini kabur keluar kampung Hitadipa. “Mereka lari setelahnya,” jelasnya.(idr/syn/jawapos)

GORONTALOPOST.ID- Prajurit TNI kembali menjadi korban aksi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Kelompok Separatis Teroris (KST) di Papua. Kamis pagi (31/3) personel TNI bersama Sertu Eka Andrianto Hasugian gugur. KST menyerang Eka dan keluarga di kios milik mereka yang terletak di Jalan Trans Elelim, Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua.

Dalam serangan tersebut, tidak hanya Eka yang meninggal dunia. Istri Eka yang bernama Sri Lestari Indah Putri juga ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Sementara anak dari pasangan Eka dan Sri selamat. Namun mengalami luka yang cukup serius di bagian jari-jari tangannya.

Atas peristiwa tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman menyatakan bahwa pihaknya mengutuk keras para pelaku. Melalui keterangan resmi yang dia sampaikan kepada awak media di Jakarta, Dudung menyatakan, pihaknya sudah memerintahkan Kodam XVII/Cenderawasih mengejar para pelaku.

Dudung ingin para pelaku diproses hukum. Selain itu, orang nomor satu di TNI AD tersebut meminta anak buahnya yang bertugas di daerah operasi bertindak tegas bila nyawa dan keselamatan mereka terancam. ”Untuk tidak ragu-ragu bertindak tegas terhadap pihak-pihak tertentu yang mengancam keselamatan pribadi maupun masyarakat sekitar,” ungkap Dudung dalam keterangan resmi.

Mantan panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu meminta para prajurit TNI AD selalu waspada dalam melaksanakan tugas. Dia berjanji instansinya akan mengurus hak-hak Eka. Juga menjamin masa depan keluarganya. Terutama anak Eka yang masih berusia di bawah lima tahun.

Berdasar informasi dari Wakil Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Infanteri Candra Kurniawan, Eka merupakan prajurit TNI AD yang bertugas sebagai babinsa di Koramil 1702-70/Kurulu. Sedangkan Sri merupakan seorang bidang yang sehari-hari bekerja di Puskesmas Elim. Dia merupakan pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Yalimo.

Eka dan keluarganya diserang KST sekitar pukul 06.15 WIT. ”Korban yang merupakan Nakes dan PNS Puskesmas Elim Yalimo sering membantu masyarakat, khususnya dalam persalinan Ibu-ibu,” terang Candra. Tidak hanya itu, kini Sri juga berperan memeriksa para pengungsi yang berada di Kabupaten Yalimo. ”Almarhum sebagai tenaga kesehatan terjun langsung membantu para pengungsi,” tambah dia.

Sementara Eka, lanjut Candra, dikenal sebagai babinsa yang aktif. ”Selalu membantu masyarakat sekitar,” ujar dia. Saat ditemukan, lanjut perwira menengah dengan dua kembang di pundak itu, jari tangan anak Eka dan Sri sudah tidak ada. ”Jari tangannya dipotong,” sesalnya. Untuk mengungkap secara terang peristiwa tersebut, aparat kepolisian langsung memeriksa saksi-saksi. Perintah KSAD pun dilaksanakan oleh Kodam XVII/Cenderawasih.

Tidak hanya di Yalimo, KST juga berulah di Kabupaten Intan Jaya. Di sana mereka membakar bangunan atap Sekolah YPPGI dan SMPN 2 Hitadipa. Dipastikan sembilan kelas rusak akibat pembakaran tersebut. Kabidhumas Polda Papua A. M. Kamal menjelaskan, kejadian pembakaran bermula Rabu (30/3) pukul 17.50. “Petugas melihat kepulan asap dari arah kampung Hitadipa,” ujarnya.

Dari keterangan saksi diketahui bahwa satu jam sebelumnya puluhan orang masuk ke kampung Hitadipa. Mereka melakukan pembakaran gedung sekolah yang terdiri dari sekolah dasar dan SMP. “Pembakar dari kelompok separatis teroris,” tuturnya. Tak hanya itu, puluhan anggota KST itu juga melakukan penganiayaan terhadap seorang guru. Dia mengatakan, setelah melakukan pembakaran dan penganiayaan, anggota KST ini kabur keluar kampung Hitadipa. “Mereka lari setelahnya,” jelasnya.(idr/syn/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/