alexametrics
25.7 C
Gorontalo
Friday, August 12, 2022

Kisruh ACT, Kepala PFI Yakin Warga Indonesia Tetap Dermawan, Sumbangan Tak Akan Berhenti

GORONTALOPOST.ID–Pengurus Filantropi Indonesia (PFI) sejauh ini tidak melihat adanya penurunan kepercayaan publik kepada lembaga filantropi pascakisruh kehidupan mewah petinggi Aksi Cepat Tanggap (ACT). Namun, tak dapat dipungkiri polemik tersebut bisa menimbulkan dampak tertentu.

“Saya rasa tidak (menurun kepercayaan publik),” kata Kepala Badan PFI, Rizal Algamar saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (5/7).

Rizal menilai, kedermawanan warga Indonesia semakin hari terus meningkat. Adanya kisruh ACT, menurutnya, tidak membuat warga berhenti memberikan sumbangan.

“Konsep berbagi, apakah langsung atau melalui intermediary, akan memberikan manfaat dalam bentuk rasa solidaritas dan meningkatnya rasa empati untuk diri kita sendiri. Sehingga dengan sendirinya akan berupaya untuk terus berbagi,” jelasnya.

Dikabarkan sebelumnya, muncul dugaan penyelewengan dana oleh ACT. Dalam laporan yang diterbitkan majalah nasional, disebutkan bahwa pendiri ACT, Ahyudin mendapat gaji sampai dengan Rp 250 juta per bulan.

Selain itu, Ahyudin juga mendapat fasilitas operasional berupa 1 unit Toyota Alphard, Mitsubishi Pajero, dan Honda C-RV. Sedangkan untuk jabatan di bawah Ahyudin, juga mendapat gaji yang fasilitas yang tak kalah mewah.

Para petinggi ACT juga disebut mendulang cuan dari anak perusahaan ACT. Uang miliaran rupiah diduga mengalir ke keluarga Ahyudin untuk kepentingan pribadi, seperti pembelian rumah, pembelian perabot rumah.

Selain itu, Ahyudin bersama istri dan anaknya juga disebut mendapat gaji dari anak perusahaan ACT. Kondisi ini diduga melanggar Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan.

Dugaan penyelewengan dana juga dilaporkan terjadi di luar Jakarta. Misalnya, dugaan penggelapan lumbung ternak wakaf di Blora, Jawa Tengah. Selain itu ada pula laporan penyelewengan duit kompensasi dari Boeing atas jatuhnya Lion Air JT-610 untuk pembangunan sekolah.

Namun sebagian dananya dipakai untuk menutup pembiayaan ACT. Hingga akhirnya pada Januari 2022 lalu, pendiri ACT Ahyudin mengundurkan diri usai diminta oleh para pimpinan.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID–Pengurus Filantropi Indonesia (PFI) sejauh ini tidak melihat adanya penurunan kepercayaan publik kepada lembaga filantropi pascakisruh kehidupan mewah petinggi Aksi Cepat Tanggap (ACT). Namun, tak dapat dipungkiri polemik tersebut bisa menimbulkan dampak tertentu.

“Saya rasa tidak (menurun kepercayaan publik),” kata Kepala Badan PFI, Rizal Algamar saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (5/7).

Rizal menilai, kedermawanan warga Indonesia semakin hari terus meningkat. Adanya kisruh ACT, menurutnya, tidak membuat warga berhenti memberikan sumbangan.

“Konsep berbagi, apakah langsung atau melalui intermediary, akan memberikan manfaat dalam bentuk rasa solidaritas dan meningkatnya rasa empati untuk diri kita sendiri. Sehingga dengan sendirinya akan berupaya untuk terus berbagi,” jelasnya.

Dikabarkan sebelumnya, muncul dugaan penyelewengan dana oleh ACT. Dalam laporan yang diterbitkan majalah nasional, disebutkan bahwa pendiri ACT, Ahyudin mendapat gaji sampai dengan Rp 250 juta per bulan.

Selain itu, Ahyudin juga mendapat fasilitas operasional berupa 1 unit Toyota Alphard, Mitsubishi Pajero, dan Honda C-RV. Sedangkan untuk jabatan di bawah Ahyudin, juga mendapat gaji yang fasilitas yang tak kalah mewah.

Para petinggi ACT juga disebut mendulang cuan dari anak perusahaan ACT. Uang miliaran rupiah diduga mengalir ke keluarga Ahyudin untuk kepentingan pribadi, seperti pembelian rumah, pembelian perabot rumah.

Selain itu, Ahyudin bersama istri dan anaknya juga disebut mendapat gaji dari anak perusahaan ACT. Kondisi ini diduga melanggar Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan.

Dugaan penyelewengan dana juga dilaporkan terjadi di luar Jakarta. Misalnya, dugaan penggelapan lumbung ternak wakaf di Blora, Jawa Tengah. Selain itu ada pula laporan penyelewengan duit kompensasi dari Boeing atas jatuhnya Lion Air JT-610 untuk pembangunan sekolah.

Namun sebagian dananya dipakai untuk menutup pembiayaan ACT. Hingga akhirnya pada Januari 2022 lalu, pendiri ACT Ahyudin mengundurkan diri usai diminta oleh para pimpinan.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/