alexametrics
27.1 C
Gorontalo
Sunday, May 29, 2022

Kasihan Banget Novel Baswedan, 5 Tahun Lalu Disiram Air Keras, Kini Dituding…

GORONTALOPOST.ID–Senin (11/4) hari ini tepat lima tahun lalu, mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal dan belakangan pelakunya merupakan anggota kepolisian.

Atas penyiraman air keras tersebut, menindaklanjuti rekomendasi tim Komnas HAM dalam penuntasan kasus Novel Baswedan, Kapolri kala itu, Jenderal Pol. Tito Karnavian, pada (8/1/2019) mengeluarkan surat Nomor Sgas/3/I/HUK.6.6/2019. Surat tersebut berisi pembentukan tim khusus yang berlaku selama enam bulan, terhitung mulai (8/11/2019) sampai dengan (7/7/2019).

Tim gabungan tersebut terdiri dari 65 orang dari berbagai lintas lembaga seperti kepolisian, KPK, hingga para praktisi yang bertindak sebagai pakar.

Meskipun tim gabungan tersebut menyeret dua Anggota Polri, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis sebagai pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Namun, keduanya dihukum sangat ringan.

Rahmat Kadir Mahulette hanya dijatuhi hukuman 2 tahun penjara. Sementara Ronny Bugis mendapat hukuman 1,5 tahun penjara.

Hingga saat ini, kendati telah menyeret aktor lapangannya, namun sampai saat ini pihak kepolisian belum berhasil mengungkap aktor intelektual atau dalang di balik penyiraman air keras, yang membuat mata kiri Kasatgas Kasus Korupsi e-KTP tersebut buta permanen.

“Hari ini tepat 5 tahun lalu sy diserang dgn air keras. Banyak drama, sandiwara, kebohongan dan kemunafikan. Keadaan yg nyaman bagi penjahat/koruptor berlindung. Perlawaan terberat adl perjuangan melawan lupa,” ciut Novel Baswedan dalam akun twitter pribadinya, @Nazaqista, Senin (11/4) pagi.

Meski sudah tak lagi di lembaga antirasuah karena disingkirkan lewat jalur Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Namun hingga kini Novel Baswedan masih kerap dijadikan kambing hitam berbagai peristiwa nasional yang menyita perhatian khalayak.

Terkini, Pria yang pernah menciduk mantan Hakim MK Akil Mochtar tersebut, dituduh sebagai mentor aksi demonstrasi elemen Mahasiswa dari BEM Seluruh Indonesia. Dari pesan berantai yang mengatasnamakan ‘Timsus BAIS’, Novel Baswedan dituduh sebagai mentor para mahasiswa dibidang hukum dan advokasi bersama, Zaenal Arifin (Ketua YLBHI Bidang Advokasi dan Jaringan), Busyro Muqoddas (mantan pimpinan KPK), Isharyanto (Dosen Fakultas Hukum UNS), Hamdan Zoelva (mantan hakim MK).

Atas tuduhan tersebut, Novel Baswedan pun langsung bereaksi keras. Sebab, baru pulang berobat dari Belanda, dituduh ikut mendalangi aksi demontrasi yang mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat.

“Sehubungan adanya pesan berantai melalui group2 WA yang mengatasnamakan “Timsus BAIS” yg menyampaikan bahwa saya sbg mentor/koord aksi terkait isu hukum dan advokasi, saya nyatakan bahwa isu itu tidak bedar & mengada-ada,” ciut Novel dalam akun media sosial twitter @nazaqista.

Novel berharap, dengan adanya kejadian ini, semoga bisa menjaga tali silaturahmi bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Semoga bangsa ini tetap damai dan terbebas dari fitnah2 atau propaganda seperti ini,” jelas Novel dalam ciutannya di akun pribadinya, Nazaqista, Minggu (10/4).(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID–Senin (11/4) hari ini tepat lima tahun lalu, mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal dan belakangan pelakunya merupakan anggota kepolisian.

Atas penyiraman air keras tersebut, menindaklanjuti rekomendasi tim Komnas HAM dalam penuntasan kasus Novel Baswedan, Kapolri kala itu, Jenderal Pol. Tito Karnavian, pada (8/1/2019) mengeluarkan surat Nomor Sgas/3/I/HUK.6.6/2019. Surat tersebut berisi pembentukan tim khusus yang berlaku selama enam bulan, terhitung mulai (8/11/2019) sampai dengan (7/7/2019).

Tim gabungan tersebut terdiri dari 65 orang dari berbagai lintas lembaga seperti kepolisian, KPK, hingga para praktisi yang bertindak sebagai pakar.

Meskipun tim gabungan tersebut menyeret dua Anggota Polri, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis sebagai pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Namun, keduanya dihukum sangat ringan.

Rahmat Kadir Mahulette hanya dijatuhi hukuman 2 tahun penjara. Sementara Ronny Bugis mendapat hukuman 1,5 tahun penjara.

Hingga saat ini, kendati telah menyeret aktor lapangannya, namun sampai saat ini pihak kepolisian belum berhasil mengungkap aktor intelektual atau dalang di balik penyiraman air keras, yang membuat mata kiri Kasatgas Kasus Korupsi e-KTP tersebut buta permanen.

“Hari ini tepat 5 tahun lalu sy diserang dgn air keras. Banyak drama, sandiwara, kebohongan dan kemunafikan. Keadaan yg nyaman bagi penjahat/koruptor berlindung. Perlawaan terberat adl perjuangan melawan lupa,” ciut Novel Baswedan dalam akun twitter pribadinya, @Nazaqista, Senin (11/4) pagi.

Meski sudah tak lagi di lembaga antirasuah karena disingkirkan lewat jalur Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Namun hingga kini Novel Baswedan masih kerap dijadikan kambing hitam berbagai peristiwa nasional yang menyita perhatian khalayak.

Terkini, Pria yang pernah menciduk mantan Hakim MK Akil Mochtar tersebut, dituduh sebagai mentor aksi demonstrasi elemen Mahasiswa dari BEM Seluruh Indonesia. Dari pesan berantai yang mengatasnamakan ‘Timsus BAIS’, Novel Baswedan dituduh sebagai mentor para mahasiswa dibidang hukum dan advokasi bersama, Zaenal Arifin (Ketua YLBHI Bidang Advokasi dan Jaringan), Busyro Muqoddas (mantan pimpinan KPK), Isharyanto (Dosen Fakultas Hukum UNS), Hamdan Zoelva (mantan hakim MK).

Atas tuduhan tersebut, Novel Baswedan pun langsung bereaksi keras. Sebab, baru pulang berobat dari Belanda, dituduh ikut mendalangi aksi demontrasi yang mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat.

“Sehubungan adanya pesan berantai melalui group2 WA yang mengatasnamakan “Timsus BAIS” yg menyampaikan bahwa saya sbg mentor/koord aksi terkait isu hukum dan advokasi, saya nyatakan bahwa isu itu tidak bedar & mengada-ada,” ciut Novel dalam akun media sosial twitter @nazaqista.

Novel berharap, dengan adanya kejadian ini, semoga bisa menjaga tali silaturahmi bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Semoga bangsa ini tetap damai dan terbebas dari fitnah2 atau propaganda seperti ini,” jelas Novel dalam ciutannya di akun pribadinya, Nazaqista, Minggu (10/4).(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/