alexametrics
30 C
Gorontalo
Thursday, May 26, 2022

Seorang Polisi Ikut Jadi Korban Ritual di Pantai Payangan, Pemimpin Kelompok…

GORONTALOPOST.ID– Febriyan Dwi, personel Polsek Pujer, Bondowoso, Jawa Timur, kepada Kasiman, ayah mertuanya, pamit mau pergi ke Jember. Polisi berpangkat bripda itu tak menyebut ke mana persisnya dan bersama siapa.

Sabtu itu (12/2), Novita Andiana, bertugas di puskesmas tempatnya bekerja sedari siang. Bondowoso dan Jember, dua kabupaten di Jawa Timur, bertetangga. ”Kalau lagi libur, mungkin istrinya juga akan ikut Febri ke Jember,” kata Kasiman kepada Jawa Pos Radar Jember yang menemuinya di Puskesmas Ambulu, Jember, kemarin (13/2).

Seandainya ikut, entah bagaimana nasib Novita. Sebab, kemarin sang suami ditemukan tak bernyawa di Pantai Payangan, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember. Polisi 27 tahun itu termasuk dalam 11 korban meninggal di antara total 24 anggota Kelompok Tunggal Jati Nusantara yang mengadakan ritual di tepi pantai.

Ritual yang seharusnya tak dilakukan di tempat tersebut seandainya mereka mau mendengarkan Saladin. Pengelola Bukit Samboja, bukit tempat kelompok yang dipimpin Nurhasan beritual, itu mengingatkan bahwa ombak sedang tinggi.

Peta maritim BMKG memang menunjukkan kondisi gelombang tinggi di sepanjang lepas pantai selatan Jawa. Pada 13 Februari 2022, tinggi gelombang mencapai rata-rata 3,5–4 meter. Kondisi itu diperkirakan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Di beberapa titik perairan lepas barat Australia, tinggi gelombang bahkan bisa mencapai hingga 10 meter.

Namun, peringatan itu tak didengarkan. Memasuki pukul 00.30, mereka bersemedi, lalu mandi di bibir pantai. ”Setelah kami berbicara dengan ketua kelompoknya, itu ritual untuk menenangkan diri. Mayoritas berasal dari sekitar Jember kota seperti Panti, Sukorambi, Patrang, dan Ajung,” jelas Kapolsek Ambulu AKP Makruf.

Tak semua anggota rombongan langsung ikut ritual. Ada empat orang yang menunggu giliran di gazebo. Dan, petaka pun benar-benar datang. Ombak besar datang tanpa permisi, seketika menggulung para jemaah yang tengah bersemedi di bibir pantai itu. Yang sempat melihat datangnya ombak seketika berlari dan meminta pertolongan warga. Namun, banyak yang tak sempat menyelamatkan diri dan terseret ombak hingga ditemukan tewas kemarin siang.

Payangan bertetangga dengan dua destinasi wisata terkenal di Jember: Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma. Secara umum, pantai selatan Jember yang menghadap Samudra Hindia itu memang dikenal berombak ganas dan telah berkali-kali menelan korban.

Pada 23 Maret 2021, misalnya, ada empat kapal yang karam dihajar ombak di Plawangan Puger dan mengakibatkan kru salah satu kapal hilang. Kira-kira setahun sebelumnya, tiga jukung hancur di tempat yang sama.

Di instalasi gawat darurat (IGD) Puskesmas Ambulu, jarum infus masih menempel di lengan kiri M. Feri Luhur Febrianto. Sesekali, salah seorang korban selamat ritual di Pantai Payangan itu memegangi perutnya karena terasa sakit setelah bagian tubuhnya dihantam ke karang di sekitar Bukit Samboja.

Dari bed perawatan, dia memanggil anggota keluarga yang saat itu berada di luar ruang IGD puskesmas. Dia meminta makanan lantaran perutnya lapar. Saudaranya langsung berlari mencari makanan dan balik membawa roti. Feri sedikit demi sedikit mulai memakannya.

”Saya sudah sekitar setahun sering melakukan ritual yang dipimpin Nurhasan, asal Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi (Kabupaten Jember),” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Awalnya, dia ikut ritual karena ingin menenangkan diri saja. ”Sebelumnya, tubuh saya ini gemuk, tapi setelah ikut ritual menjadi kecil alias kurus. Saya memang niat menguruskan badan,” ucapnya.

Dia sudah setahun lebih menjadi anggota Kelompok Tunggal Jati Nusantara. ”Ikut ritualnya sebulan dua kali. Bukan hanya di Jember, tapi juga di Banyuwangi,” katanya.

Tim SAR Rimba Laut binaan Polairud Polres Jember bersama Basarnas dan anggota Polsek Ambulu beserta polairud bersama-sama melakukan pencarian. Korban meninggal terakhir ditemukan pada pukul 11.45, hampir 24 jam sejak ritual dimulai.

Nurhasan lolos dari maut. Namun, Polres Jember belum melakukan pemeriksaan lebih jauh terhadap pria 35 tahun itu. ”Sementara diketahui, ritual itu untuk menenangkan diri. Namun, hal itu masih kami dikembangkan lagi,” ujar Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo di lokasi kejadian.

Mengapa kelompok tersebut nekat beritual kendati sudah diperingatkan soal ombak tinggi? Itu tugas polisi untuk mencari tahu. Namun, apa pun alasannya, duka lara kadung terkembang.

Di Puskesmas Ambulu, Kasiman hanya bisa menarik napas lega karena setidaknya jenazah sang menantu yang baru dua tahun menikahi putrinya telah ditemukan. ”Dia baru mulai bikin rumah, baru dapat fondasinya. Ya, inilah takdir Allah,” tuturnya. (jum/mau/tau/c14/ttg/jawapos)

GORONTALOPOST.ID– Febriyan Dwi, personel Polsek Pujer, Bondowoso, Jawa Timur, kepada Kasiman, ayah mertuanya, pamit mau pergi ke Jember. Polisi berpangkat bripda itu tak menyebut ke mana persisnya dan bersama siapa.

Sabtu itu (12/2), Novita Andiana, bertugas di puskesmas tempatnya bekerja sedari siang. Bondowoso dan Jember, dua kabupaten di Jawa Timur, bertetangga. ”Kalau lagi libur, mungkin istrinya juga akan ikut Febri ke Jember,” kata Kasiman kepada Jawa Pos Radar Jember yang menemuinya di Puskesmas Ambulu, Jember, kemarin (13/2).

Seandainya ikut, entah bagaimana nasib Novita. Sebab, kemarin sang suami ditemukan tak bernyawa di Pantai Payangan, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember. Polisi 27 tahun itu termasuk dalam 11 korban meninggal di antara total 24 anggota Kelompok Tunggal Jati Nusantara yang mengadakan ritual di tepi pantai.

Ritual yang seharusnya tak dilakukan di tempat tersebut seandainya mereka mau mendengarkan Saladin. Pengelola Bukit Samboja, bukit tempat kelompok yang dipimpin Nurhasan beritual, itu mengingatkan bahwa ombak sedang tinggi.

Peta maritim BMKG memang menunjukkan kondisi gelombang tinggi di sepanjang lepas pantai selatan Jawa. Pada 13 Februari 2022, tinggi gelombang mencapai rata-rata 3,5–4 meter. Kondisi itu diperkirakan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Di beberapa titik perairan lepas barat Australia, tinggi gelombang bahkan bisa mencapai hingga 10 meter.

Namun, peringatan itu tak didengarkan. Memasuki pukul 00.30, mereka bersemedi, lalu mandi di bibir pantai. ”Setelah kami berbicara dengan ketua kelompoknya, itu ritual untuk menenangkan diri. Mayoritas berasal dari sekitar Jember kota seperti Panti, Sukorambi, Patrang, dan Ajung,” jelas Kapolsek Ambulu AKP Makruf.

Tak semua anggota rombongan langsung ikut ritual. Ada empat orang yang menunggu giliran di gazebo. Dan, petaka pun benar-benar datang. Ombak besar datang tanpa permisi, seketika menggulung para jemaah yang tengah bersemedi di bibir pantai itu. Yang sempat melihat datangnya ombak seketika berlari dan meminta pertolongan warga. Namun, banyak yang tak sempat menyelamatkan diri dan terseret ombak hingga ditemukan tewas kemarin siang.

Payangan bertetangga dengan dua destinasi wisata terkenal di Jember: Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma. Secara umum, pantai selatan Jember yang menghadap Samudra Hindia itu memang dikenal berombak ganas dan telah berkali-kali menelan korban.

Pada 23 Maret 2021, misalnya, ada empat kapal yang karam dihajar ombak di Plawangan Puger dan mengakibatkan kru salah satu kapal hilang. Kira-kira setahun sebelumnya, tiga jukung hancur di tempat yang sama.

Di instalasi gawat darurat (IGD) Puskesmas Ambulu, jarum infus masih menempel di lengan kiri M. Feri Luhur Febrianto. Sesekali, salah seorang korban selamat ritual di Pantai Payangan itu memegangi perutnya karena terasa sakit setelah bagian tubuhnya dihantam ke karang di sekitar Bukit Samboja.

Dari bed perawatan, dia memanggil anggota keluarga yang saat itu berada di luar ruang IGD puskesmas. Dia meminta makanan lantaran perutnya lapar. Saudaranya langsung berlari mencari makanan dan balik membawa roti. Feri sedikit demi sedikit mulai memakannya.

”Saya sudah sekitar setahun sering melakukan ritual yang dipimpin Nurhasan, asal Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi (Kabupaten Jember),” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Awalnya, dia ikut ritual karena ingin menenangkan diri saja. ”Sebelumnya, tubuh saya ini gemuk, tapi setelah ikut ritual menjadi kecil alias kurus. Saya memang niat menguruskan badan,” ucapnya.

Dia sudah setahun lebih menjadi anggota Kelompok Tunggal Jati Nusantara. ”Ikut ritualnya sebulan dua kali. Bukan hanya di Jember, tapi juga di Banyuwangi,” katanya.

Tim SAR Rimba Laut binaan Polairud Polres Jember bersama Basarnas dan anggota Polsek Ambulu beserta polairud bersama-sama melakukan pencarian. Korban meninggal terakhir ditemukan pada pukul 11.45, hampir 24 jam sejak ritual dimulai.

Nurhasan lolos dari maut. Namun, Polres Jember belum melakukan pemeriksaan lebih jauh terhadap pria 35 tahun itu. ”Sementara diketahui, ritual itu untuk menenangkan diri. Namun, hal itu masih kami dikembangkan lagi,” ujar Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo di lokasi kejadian.

Mengapa kelompok tersebut nekat beritual kendati sudah diperingatkan soal ombak tinggi? Itu tugas polisi untuk mencari tahu. Namun, apa pun alasannya, duka lara kadung terkembang.

Di Puskesmas Ambulu, Kasiman hanya bisa menarik napas lega karena setidaknya jenazah sang menantu yang baru dua tahun menikahi putrinya telah ditemukan. ”Dia baru mulai bikin rumah, baru dapat fondasinya. Ya, inilah takdir Allah,” tuturnya. (jum/mau/tau/c14/ttg/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/