alexametrics
24.1 C
Gorontalo
Wednesday, August 17, 2022

Selain Dugaan Pelecehan Seksual, Istri Kadivpropam Mengaku Terguncang Lantaran Publikasi Media

GORONTALOPOST.ID- Komnas Perempuan mengagendakan pertemuan dengan P, istri Kadivpropam Irjen Pol Ferdy Sambo. Tujuannya, mendengarkan secara langsung dugaan pelecehan seksual yang dialami.

Tapi, Wakil Ketua Komnas Perempuan Mariana Amiruddin belum bisa menyebut kapan pastinya pertemuan akan dilakukan. ”Dalam waktu dekat, ya,” kata Mariana kepada Jawa Pos kemarin (15/7).

Di tengah-tengah insiden di rumah Ferdy pada Jumat (8/7) sore lalu, polisi menyebut P menjadi korban pelecehan oleh Brigadir Nofryansyah Yosua (Brigadir Y). Y tewas setelah terlibat adu tembak dengan Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E).

Sejumlah pihak mempertanyakan kronologi versi polisi itu. Salah satunya, keluarga Brigadir Y yang heran dalam kontak tembak sedekat itu tapi Bharada E sama sekali tak terluka, padahal Y disebut menembak duluan.

Sampai saat ini Komnas Perempuan belum mendapatkan perkembangan terbaru tentang kondisi P setelah insiden berdarah yang menyedot perhatian luas tersebut. ”Belum ada perkembangan karena perlu ada pertemuan dengan beliau (istri Kadivpropam, Red) untuk langsung mendengarkan,” paparnya.

Sebelumnya, Komnas Perempuan telah mendatangi Polda Metro Jaya (PMJ) pada Rabu (13/7). Mariana menjelaskan, dalam undangan pertemuan tersebut, pihaknya mendengarkan keterangan penyidik dan psikolog terkait laporan P tentang kekerasan seksual yang ditengarai dilakukan oleh Brigadir Yosua. ”P tidak hadir karena masih dalam kondisi terguncang,” ujarnya.

Komnas Perempuan kemudian memperoleh beberapa informasi. Di antaranya, kondisi P yang terguncang bukan hanya karena menjadi korban pelecehan, tapi juga akibat publikasi media yang menyudutkannya. ”Korban P mengkhawatirkan dampak peristiwa dan publikasinya bagi keluarga, khususnya pada anak-anaknya. Tiga (dari empat anak) di antaranya masih berusia di bawah 18 tahun,” ungkapnya.

Mariana menerangkan, berdasar keterangan yang diperoleh dari PMJ itu, Komnas Perempuan mengidentifikasi adanya indikasi kasus kekerasan seksual yang dialami P. Meski demikian, Mariana menegaskan bahwa pendalaman kasus masih dibutuhkan untuk mengenali lebih utuh tindak kekerasan seksual yang terjadi di rumah dinas Kadivpropam tersebut. (tyo/c6/ttg/jawapos)

GORONTALOPOST.ID- Komnas Perempuan mengagendakan pertemuan dengan P, istri Kadivpropam Irjen Pol Ferdy Sambo. Tujuannya, mendengarkan secara langsung dugaan pelecehan seksual yang dialami.

Tapi, Wakil Ketua Komnas Perempuan Mariana Amiruddin belum bisa menyebut kapan pastinya pertemuan akan dilakukan. ”Dalam waktu dekat, ya,” kata Mariana kepada Jawa Pos kemarin (15/7).

Di tengah-tengah insiden di rumah Ferdy pada Jumat (8/7) sore lalu, polisi menyebut P menjadi korban pelecehan oleh Brigadir Nofryansyah Yosua (Brigadir Y). Y tewas setelah terlibat adu tembak dengan Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E).

Sejumlah pihak mempertanyakan kronologi versi polisi itu. Salah satunya, keluarga Brigadir Y yang heran dalam kontak tembak sedekat itu tapi Bharada E sama sekali tak terluka, padahal Y disebut menembak duluan.

Sampai saat ini Komnas Perempuan belum mendapatkan perkembangan terbaru tentang kondisi P setelah insiden berdarah yang menyedot perhatian luas tersebut. ”Belum ada perkembangan karena perlu ada pertemuan dengan beliau (istri Kadivpropam, Red) untuk langsung mendengarkan,” paparnya.

Sebelumnya, Komnas Perempuan telah mendatangi Polda Metro Jaya (PMJ) pada Rabu (13/7). Mariana menjelaskan, dalam undangan pertemuan tersebut, pihaknya mendengarkan keterangan penyidik dan psikolog terkait laporan P tentang kekerasan seksual yang ditengarai dilakukan oleh Brigadir Yosua. ”P tidak hadir karena masih dalam kondisi terguncang,” ujarnya.

Komnas Perempuan kemudian memperoleh beberapa informasi. Di antaranya, kondisi P yang terguncang bukan hanya karena menjadi korban pelecehan, tapi juga akibat publikasi media yang menyudutkannya. ”Korban P mengkhawatirkan dampak peristiwa dan publikasinya bagi keluarga, khususnya pada anak-anaknya. Tiga (dari empat anak) di antaranya masih berusia di bawah 18 tahun,” ungkapnya.

Mariana menerangkan, berdasar keterangan yang diperoleh dari PMJ itu, Komnas Perempuan mengidentifikasi adanya indikasi kasus kekerasan seksual yang dialami P. Meski demikian, Mariana menegaskan bahwa pendalaman kasus masih dibutuhkan untuk mengenali lebih utuh tindak kekerasan seksual yang terjadi di rumah dinas Kadivpropam tersebut. (tyo/c6/ttg/jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/