alexametrics
27.4 C
Gorontalo
Friday, May 27, 2022

Persekutuan Gereja di Indonesia Merespon Komentar Saifuddin Ibrahim, Soal…

GORONTALOPOST.ID – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) angkat bicara terkait sosok Saifuddin Ibrahim yang kini tengah viral di media sosial.

 

Kepala Humas PGI, Jeirry Sumampow menyatakan, bahwa pernyataan Saifuddin Ibrahim adalah pernyataan pribadi.

 

Dia juga memastikan bahwa Saifuddin tidak memiliki kaitan apapun dengan PGI atau gereja manapun.

 

“Itu pernyataan pribadi, tidak ada kaitannya dengan PGI dan gereja-gereja pada umumnya,” ujarnya dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (17/3/2022).

 

PGI juga enggan mengomentari status kependetaan Saifuddin Ibrahim.

 

“Kebetulan aja saudara Saifudin Ibrahim dibilang atau menyebut diri pendeta,” sambungnya.

 

Sebaliknya, pihaknya meminta masyarakat tak usah menggubris omongan dan pernyataan yang dilontarkan Saifuddin Ibrahim

 

Pihaknya menilai, apa yang disampaikan Saifuddin ke publik itu tidak lebih sekedar mencari sensasi saja.

 

Selain itu, pernyataan-pernyataannya juga cenderung kontroversial dan provokatif.

 

“Kalau ditanggapi lebih panjang malah dia akan makin senang,” kata Jeirry.

 

Pihaknya juga mengimbau masyarakat, khusunya umat Islam tak terprovokasi dengan omongan Saifuddin Ibrahim.

 

Karena itu, PGI berharap agar seluruh pihak berhenti membahas dan membicarakan Saifuddin.

 

“PGI berharap dihentikan saja membahas dan membicarakan soal itu,” tandasnya.

 

Dalam video yang beredar, Saefudin Ibrahim meminta Menag Yaqut Cholil Qoumas tidak sekadar mengatur azan.

 

Melainkan juga kurikulum di madasrah hingga perguruan tinggi yang berpotensi memunculkan paham radikal.

 

“Atur semua kurikulum yang ada di madrasah, tsanawiyah, aliyah sampai perguruan tinggi,” ujarnya.

 

Ia menyebut bahwa sumber kekacauan yang terjadi di Indonesia itu dipicu kurikulum pendidikan yang tidak benar.

 

“Bahkan kurikulum yang ada di pesantren pak, jangan takut untuk dirombak. Ganti semua kurikulumnya. Karena pesantren itu melahirkan kaum radikal semua,” ujarnya.

 

Tak sampai di situ, Saifuddin juga menyarankan kepada Menag Yaqut menghapus 300 ayat Alquran yang dinilai memicu perilaku intoleransi hingga radikalisme.

 

“Bahkan kalau perlu pak, 300 ayat (Alquran) yang menjadi pemicu hidup intoleran, pemicu hidup radikal dan membenci orang lain karena beda agama, itu di-skip atau direvisi, atau dihapuskan dari Alquran Indonesia. Ini sangat berbahaya sekali,” ujarnya.

 

Mabes Polri pun mulai menyelidiki video viral Pendeta Saefudin Ibrahim.

 

Saat ini tim Direktorat Siber Bareskrim tengah mendalami akun youtube Saefudin Ibrahim itu

 

“Direktorat Siber Bareskrim mendalam isi konten video viral Saefudin Ibrahim,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat dihubungi, Kamis (17/3/2022). (ruh/int/pojoksatu)

MANADOPOST.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) angkat bicara terkait sosok Saifuddin Ibrahim yang kini tengah viral di media sosial.

 

Kepala Humas PGI, Jeirry Sumampow menyatakan, bahwa pernyataan Saifuddin Ibrahim adalah pernyataan pribadi.

 

Dia juga memastikan bahwa Saifuddin tidak memiliki kaitan apapun dengan PGI atau gereja manapun.

 

“Itu pernyataan pribadi, tidak ada kaitannya dengan PGI dan gereja-gereja pada umumnya,” ujarnya dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (17/3/2022).

 

PGI juga enggan mengomentari status kependetaan Saifuddin Ibrahim.

 

“Kebetulan aja saudara Saifudin Ibrahim dibilang atau menyebut diri pendeta,” sambungnya.

 

Sebaliknya, pihaknya meminta masyarakat tak usah menggubris omongan dan pernyataan yang dilontarkan Saifuddin Ibrahim

 

Pihaknya menilai, apa yang disampaikan Saifuddin ke publik itu tidak lebih sekedar mencari sensasi saja.

 

Selain itu, pernyataan-pernyataannya juga cenderung kontroversial dan provokatif.

 

“Kalau ditanggapi lebih panjang malah dia akan makin senang,” kata Jeirry.

 

Pihaknya juga mengimbau masyarakat, khusunya umat Islam tak terprovokasi dengan omongan Saifuddin Ibrahim.

 

Karena itu, PGI berharap agar seluruh pihak berhenti membahas dan membicarakan Saifuddin.

 

“PGI berharap dihentikan saja membahas dan membicarakan soal itu,” tandasnya.

 

Dalam video yang beredar, Saefudin Ibrahim meminta Menag Yaqut Cholil Qoumas tidak sekadar mengatur azan.

 

Melainkan juga kurikulum di madasrah hingga perguruan tinggi yang berpotensi memunculkan paham radikal.

 

“Atur semua kurikulum yang ada di madrasah, tsanawiyah, aliyah sampai perguruan tinggi,” ujarnya.

 

Ia menyebut bahwa sumber kekacauan yang terjadi di Indonesia itu dipicu kurikulum pendidikan yang tidak benar.

 

“Bahkan kurikulum yang ada di pesantren pak, jangan takut untuk dirombak. Ganti semua kurikulumnya. Karena pesantren itu melahirkan kaum radikal semua,” ujarnya.

 

Tak sampai di situ, Saifuddin juga menyarankan kepada Menag Yaqut menghapus 300 ayat Alquran yang dinilai memicu perilaku intoleransi hingga radikalisme.

 

“Bahkan kalau perlu pak, 300 ayat (Alquran) yang menjadi pemicu hidup intoleran, pemicu hidup radikal dan membenci orang lain karena beda agama, itu di-skip atau direvisi, atau dihapuskan dari Alquran Indonesia. Ini sangat berbahaya sekali,” ujarnya.

 

Mabes Polri pun mulai menyelidiki video viral Pendeta Saefudin Ibrahim.

 

Saat ini tim Direktorat Siber Bareskrim tengah mendalami akun youtube Saefudin Ibrahim itu

 

“Direktorat Siber Bareskrim mendalam isi konten video viral Saefudin Ibrahim,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat dihubungi, Kamis (17/3/2022). (ruh/int/pojoksatu)

GORONTALOPOST.ID – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) angkat bicara terkait sosok Saifuddin Ibrahim yang kini tengah viral di media sosial.

 

Kepala Humas PGI, Jeirry Sumampow menyatakan, bahwa pernyataan Saifuddin Ibrahim adalah pernyataan pribadi.

 

Dia juga memastikan bahwa Saifuddin tidak memiliki kaitan apapun dengan PGI atau gereja manapun.

 

“Itu pernyataan pribadi, tidak ada kaitannya dengan PGI dan gereja-gereja pada umumnya,” ujarnya dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (17/3/2022).

 

PGI juga enggan mengomentari status kependetaan Saifuddin Ibrahim.

 

“Kebetulan aja saudara Saifudin Ibrahim dibilang atau menyebut diri pendeta,” sambungnya.

 

Sebaliknya, pihaknya meminta masyarakat tak usah menggubris omongan dan pernyataan yang dilontarkan Saifuddin Ibrahim

 

Pihaknya menilai, apa yang disampaikan Saifuddin ke publik itu tidak lebih sekedar mencari sensasi saja.

 

Selain itu, pernyataan-pernyataannya juga cenderung kontroversial dan provokatif.

 

“Kalau ditanggapi lebih panjang malah dia akan makin senang,” kata Jeirry.

 

Pihaknya juga mengimbau masyarakat, khusunya umat Islam tak terprovokasi dengan omongan Saifuddin Ibrahim.

 

Karena itu, PGI berharap agar seluruh pihak berhenti membahas dan membicarakan Saifuddin.

 

“PGI berharap dihentikan saja membahas dan membicarakan soal itu,” tandasnya.

 

Dalam video yang beredar, Saefudin Ibrahim meminta Menag Yaqut Cholil Qoumas tidak sekadar mengatur azan.

 

Melainkan juga kurikulum di madasrah hingga perguruan tinggi yang berpotensi memunculkan paham radikal.

 

“Atur semua kurikulum yang ada di madrasah, tsanawiyah, aliyah sampai perguruan tinggi,” ujarnya.

 

Ia menyebut bahwa sumber kekacauan yang terjadi di Indonesia itu dipicu kurikulum pendidikan yang tidak benar.

 

“Bahkan kurikulum yang ada di pesantren pak, jangan takut untuk dirombak. Ganti semua kurikulumnya. Karena pesantren itu melahirkan kaum radikal semua,” ujarnya.

 

Tak sampai di situ, Saifuddin juga menyarankan kepada Menag Yaqut menghapus 300 ayat Alquran yang dinilai memicu perilaku intoleransi hingga radikalisme.

 

“Bahkan kalau perlu pak, 300 ayat (Alquran) yang menjadi pemicu hidup intoleran, pemicu hidup radikal dan membenci orang lain karena beda agama, itu di-skip atau direvisi, atau dihapuskan dari Alquran Indonesia. Ini sangat berbahaya sekali,” ujarnya.

 

Mabes Polri pun mulai menyelidiki video viral Pendeta Saefudin Ibrahim.

 

Saat ini tim Direktorat Siber Bareskrim tengah mendalami akun youtube Saefudin Ibrahim itu

 

“Direktorat Siber Bareskrim mendalam isi konten video viral Saefudin Ibrahim,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat dihubungi, Kamis (17/3/2022). (ruh/int/pojoksatu)

MANADOPOST.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) angkat bicara terkait sosok Saifuddin Ibrahim yang kini tengah viral di media sosial.

 

Kepala Humas PGI, Jeirry Sumampow menyatakan, bahwa pernyataan Saifuddin Ibrahim adalah pernyataan pribadi.

 

Dia juga memastikan bahwa Saifuddin tidak memiliki kaitan apapun dengan PGI atau gereja manapun.

 

“Itu pernyataan pribadi, tidak ada kaitannya dengan PGI dan gereja-gereja pada umumnya,” ujarnya dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (17/3/2022).

 

PGI juga enggan mengomentari status kependetaan Saifuddin Ibrahim.

 

“Kebetulan aja saudara Saifudin Ibrahim dibilang atau menyebut diri pendeta,” sambungnya.

 

Sebaliknya, pihaknya meminta masyarakat tak usah menggubris omongan dan pernyataan yang dilontarkan Saifuddin Ibrahim

 

Pihaknya menilai, apa yang disampaikan Saifuddin ke publik itu tidak lebih sekedar mencari sensasi saja.

 

Selain itu, pernyataan-pernyataannya juga cenderung kontroversial dan provokatif.

 

“Kalau ditanggapi lebih panjang malah dia akan makin senang,” kata Jeirry.

 

Pihaknya juga mengimbau masyarakat, khusunya umat Islam tak terprovokasi dengan omongan Saifuddin Ibrahim.

 

Karena itu, PGI berharap agar seluruh pihak berhenti membahas dan membicarakan Saifuddin.

 

“PGI berharap dihentikan saja membahas dan membicarakan soal itu,” tandasnya.

 

Dalam video yang beredar, Saefudin Ibrahim meminta Menag Yaqut Cholil Qoumas tidak sekadar mengatur azan.

 

Melainkan juga kurikulum di madasrah hingga perguruan tinggi yang berpotensi memunculkan paham radikal.

 

“Atur semua kurikulum yang ada di madrasah, tsanawiyah, aliyah sampai perguruan tinggi,” ujarnya.

 

Ia menyebut bahwa sumber kekacauan yang terjadi di Indonesia itu dipicu kurikulum pendidikan yang tidak benar.

 

“Bahkan kurikulum yang ada di pesantren pak, jangan takut untuk dirombak. Ganti semua kurikulumnya. Karena pesantren itu melahirkan kaum radikal semua,” ujarnya.

 

Tak sampai di situ, Saifuddin juga menyarankan kepada Menag Yaqut menghapus 300 ayat Alquran yang dinilai memicu perilaku intoleransi hingga radikalisme.

 

“Bahkan kalau perlu pak, 300 ayat (Alquran) yang menjadi pemicu hidup intoleran, pemicu hidup radikal dan membenci orang lain karena beda agama, itu di-skip atau direvisi, atau dihapuskan dari Alquran Indonesia. Ini sangat berbahaya sekali,” ujarnya.

 

Mabes Polri pun mulai menyelidiki video viral Pendeta Saefudin Ibrahim.

 

Saat ini tim Direktorat Siber Bareskrim tengah mendalami akun youtube Saefudin Ibrahim itu

 

“Direktorat Siber Bareskrim mendalam isi konten video viral Saefudin Ibrahim,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat dihubungi, Kamis (17/3/2022). (ruh/int/pojoksatu)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/