alexametrics
28.8 C
Gorontalo
Friday, July 1, 2022

Ternyata Sebelum UAS Ditolak Masuk, Pekan lalu Singapura Larang Film…

GORONTALOPOST.ID–Penceramah Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak masuk ke Singapura. UAS disebut memiliki sejarah ajaran ekstremis yang tidak dapat diterima di Singapura. Tak hanya UAS, Singapura pada pekan lalu juga melarang film kontroversial bernuansa agama.

Pekan lalu, Singapura melarang film kontroversial berbahasa Hindi yakni The Kashmir Files dengan alasan dapat menyebabkan permusuhan antara komunitas yang berbeda dan mengganggu kerukunan beragama di negaranya.

Otoritas Pengembangan Media Infokom, yang mengklasifikasikan film, mengatakan telah berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda, dan Dalam Negeri, menemukan bahwa film tersebut berada di luar pedoman klasifikasi filmnya.

“Film ini ditolak klasifikasinya karena penggambaran Muslim yang provokatif dan sepihak dan penggambaran umat Hindu yang dianiaya dalam konflik yang sedang berlangsung di Kashmir,” kata sebuah pernyataan.

“Representasi ini berpotensi menimbulkan permusuhan di antara komunitas yang berbeda, dan mengganggu kohesi sosial dan kerukunan beragama dalam masyarakat multiras dan multiagama kita,” tambahnya.

Keputusan serupa dari pemerintah Singapura yakni Kementerian Dalam Negeri (MHA) pada Selasa (17/5) melarang pendakwah asal Indonesia Ustad Abdul Somad Batubara dan 6 rekannya masuk ke Singapura.

Artinya, mereka ditolak untuk memasuki Singapura. Seorang juru bicara MHA mengatakan rombongan UAS tiba di Terminal Feri Tanah Merah Singapura pada Senin (16/5) usai berangkat dari Batam.

“Ustad Abdul Somad diwawancarai. Setelah itu kelompok itu ditolak masuk ke Singapura dan ditempatkan di feri untuk kembali ke Batam pada hari yang sama,” kata MHA seperti dilansir The Straits Times.

“UAS telah dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima dalam masyarakat multiras dan multi-agama Singapura,” tambah pernyataan itu.

MHA menambahkan bahwa UAS menilai bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dianggap sebagai operasi ‘martir’ atau syahid. MHA menyebut UAS juga membuat komentar yang merendahkan anggota agama lain, seperti Kristen, dengan menggambarkan salib sebagai tempat tinggal ‘jin (roh/setan) kafir’.

UAS juga disebut secara terbuka menyebut non-Muslim sebagai kafir. “Masuknya pengunjung ke Singapura tidak otomatis atau hak,” kata juru bicara MHA.

“Setiap kasus dinilai berdasarkan kategorinya sendiri. Sementara UAS telah berusaha memasuki Singapura seolah-olah untuk kunjungan sosial, Pemerintah Singapura memandang serius setiap orang yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ajaran ekstremis dan segregasi,” katanya.

UAS pada Senin (16/5) memasang posting ditolak masuk ke Singapura di media sosial. Postingannya termasuk foto dan video di area penahanan di Terminal Feri Tanah Merah.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID–Penceramah Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak masuk ke Singapura. UAS disebut memiliki sejarah ajaran ekstremis yang tidak dapat diterima di Singapura. Tak hanya UAS, Singapura pada pekan lalu juga melarang film kontroversial bernuansa agama.

Pekan lalu, Singapura melarang film kontroversial berbahasa Hindi yakni The Kashmir Files dengan alasan dapat menyebabkan permusuhan antara komunitas yang berbeda dan mengganggu kerukunan beragama di negaranya.

Otoritas Pengembangan Media Infokom, yang mengklasifikasikan film, mengatakan telah berkonsultasi dengan Kementerian Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda, dan Dalam Negeri, menemukan bahwa film tersebut berada di luar pedoman klasifikasi filmnya.

“Film ini ditolak klasifikasinya karena penggambaran Muslim yang provokatif dan sepihak dan penggambaran umat Hindu yang dianiaya dalam konflik yang sedang berlangsung di Kashmir,” kata sebuah pernyataan.

“Representasi ini berpotensi menimbulkan permusuhan di antara komunitas yang berbeda, dan mengganggu kohesi sosial dan kerukunan beragama dalam masyarakat multiras dan multiagama kita,” tambahnya.

Keputusan serupa dari pemerintah Singapura yakni Kementerian Dalam Negeri (MHA) pada Selasa (17/5) melarang pendakwah asal Indonesia Ustad Abdul Somad Batubara dan 6 rekannya masuk ke Singapura.

Artinya, mereka ditolak untuk memasuki Singapura. Seorang juru bicara MHA mengatakan rombongan UAS tiba di Terminal Feri Tanah Merah Singapura pada Senin (16/5) usai berangkat dari Batam.

“Ustad Abdul Somad diwawancarai. Setelah itu kelompok itu ditolak masuk ke Singapura dan ditempatkan di feri untuk kembali ke Batam pada hari yang sama,” kata MHA seperti dilansir The Straits Times.

“UAS telah dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima dalam masyarakat multiras dan multi-agama Singapura,” tambah pernyataan itu.

MHA menambahkan bahwa UAS menilai bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dianggap sebagai operasi ‘martir’ atau syahid. MHA menyebut UAS juga membuat komentar yang merendahkan anggota agama lain, seperti Kristen, dengan menggambarkan salib sebagai tempat tinggal ‘jin (roh/setan) kafir’.

UAS juga disebut secara terbuka menyebut non-Muslim sebagai kafir. “Masuknya pengunjung ke Singapura tidak otomatis atau hak,” kata juru bicara MHA.

“Setiap kasus dinilai berdasarkan kategorinya sendiri. Sementara UAS telah berusaha memasuki Singapura seolah-olah untuk kunjungan sosial, Pemerintah Singapura memandang serius setiap orang yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ajaran ekstremis dan segregasi,” katanya.

UAS pada Senin (16/5) memasang posting ditolak masuk ke Singapura di media sosial. Postingannya termasuk foto dan video di area penahanan di Terminal Feri Tanah Merah.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/