alexametrics
25.9 C
Gorontalo
Friday, August 12, 2022

OMG!! Anak Buah Egianus Kogoya Kembali Beraksi di Papua, 10 Warga Tewas Termasuk Pendeta dan Ustad 

GORONTALOPOST.ID–Setelah menjalani visum di RSUD Mimika, jenazah para korban penembakan kelompok separatis teroris (KST) di Nduga, Papua, diserahkan kepada pihak keluarga kemarin (17/7).

Delapan di antara sepuluh korban meninggal telah dibawa keluarga masing-masing kembali ke kampung halaman.

Satu korban lainnya atas nama Alexander dimakamkan di Timika, Papua. Pdt Eliaser Baye yang juga menjadi korban meninggal dikebumikan di Kenyam, Nduga, karena merupakan warga setempat.

Ada dua tokoh agama yang turut jadi korban meninggal. Keduanya adalah Pdt Eliaser Baye S.Th dan Ustad Daeng Marannu. Pendeta Eliaser merupakan gembala GKII Kemah Injil di Yeretma, sedangkan Daeng Marannu adalah da’i yang biasa berdakwah di Masjid Kenyam, Kampung Nogolait, Nduga.

Keduanya tewas bersama 8 orang lain setelah diberondong peluru KST yang diduga dipimpin oleh kelompok Army Tabuni yang merupakan anak buah dari Egianus Kogoya.

Ustad Daeng Marannu tercatat mengisi khutbah Idul Adha pada Minggu (10/7) lalu di Masjid Kenyam. ”Iya ada dua tokoh agama yang ikut tewas saat kejadian. Kami menyesalkan dan mengutuk kejadian ini karena yang mereka tembak adalah warga sipil dan tak bersenjata,” beber Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal kemarin (17/7).

Seluruh penanganan hingga pemulangan jenazah ditanggung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nduga. Penjabat Bupati Nduga Namia Gwijangge hadir langsung dalam penyerahan jenazah kepada keluarga korban di Bandara Mozes Kilangin, Timika, kemarin. Termasuk berkunjung ke rumah duka Alexander di Nawaripi, Timika, ibu kota Mimika.

Namia Gwijangge sangat mengecam teror KST yang kembali menelan korban. Nduga, kata dia, sangat terbuka kepada siapa pun yang datang, tinggal, dan bersama-sama bekerja. Apa pun profesinya, baik itu sopir, pedagang, karyawan kapal, buruh bangunan, karyawan toko, maupun lainnya.

”Mereka datang di Nduga untuk membangun, membantu kami bersama-sama dengan masyarakat di Nduga. Mereka cari makan, cari hidup, sama dengan yang lain,” ujar Namia ketika ditemui di RSUD Mimika.

Aksi berdarah KST itu terjadi pada Sabtu (16/7). Mereka melakukan penyerangan dan penembakan terhadap warga sipil yang mengakibatkan 10 nyawa melayang dan dua orang luka-luka.

Jenazah para korban diberangkatkan dengan dua penerbangan. Kemarin sekitar pukul 12.00 WIT, lima jenazah di antaranya diterbangkan dengan Lion Air ke Makassar.

Di antaranya, jenazah Taufan Amir, 42; Daeng Marannu/Maramli, 42; dan Sirajuddin, 27. Lalu, Mahmud Ismaun, 53, diterbangkan ke Palu, Sulawesi Tengah, dan Yuda Gurusinga, 22, dengan tujuan Medan, Sumatera Utara.

Jenazah Yulius Watu, 23; Hubertus Goti, 41; dan Johanes, 26; dengan tujuan Nusa Tenggara Timur diterbangkan dengan pesawat Batik Air melalui Makassar untuk selanjutnya ke Surabaya dan tujuan akhir Labuan Bajo.

Namia menuturkan, semua masyarakat di Nduga berhak dilindungi dan mendapat pengayoman dari pemerintah. Pemkab Nduga juga akan bekerja sama dengan TNI dan Polri serta seluruh elemen yang ada untuk mengambil langkah dalam melindungi masyarakat. Diharapkan, teror pada Sabtu lalu merupakan peristiwa terakhir di Nduga.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID–Setelah menjalani visum di RSUD Mimika, jenazah para korban penembakan kelompok separatis teroris (KST) di Nduga, Papua, diserahkan kepada pihak keluarga kemarin (17/7).

Delapan di antara sepuluh korban meninggal telah dibawa keluarga masing-masing kembali ke kampung halaman.

Satu korban lainnya atas nama Alexander dimakamkan di Timika, Papua. Pdt Eliaser Baye yang juga menjadi korban meninggal dikebumikan di Kenyam, Nduga, karena merupakan warga setempat.

Ada dua tokoh agama yang turut jadi korban meninggal. Keduanya adalah Pdt Eliaser Baye S.Th dan Ustad Daeng Marannu. Pendeta Eliaser merupakan gembala GKII Kemah Injil di Yeretma, sedangkan Daeng Marannu adalah da’i yang biasa berdakwah di Masjid Kenyam, Kampung Nogolait, Nduga.

Keduanya tewas bersama 8 orang lain setelah diberondong peluru KST yang diduga dipimpin oleh kelompok Army Tabuni yang merupakan anak buah dari Egianus Kogoya.

Ustad Daeng Marannu tercatat mengisi khutbah Idul Adha pada Minggu (10/7) lalu di Masjid Kenyam. ”Iya ada dua tokoh agama yang ikut tewas saat kejadian. Kami menyesalkan dan mengutuk kejadian ini karena yang mereka tembak adalah warga sipil dan tak bersenjata,” beber Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal kemarin (17/7).

Seluruh penanganan hingga pemulangan jenazah ditanggung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nduga. Penjabat Bupati Nduga Namia Gwijangge hadir langsung dalam penyerahan jenazah kepada keluarga korban di Bandara Mozes Kilangin, Timika, kemarin. Termasuk berkunjung ke rumah duka Alexander di Nawaripi, Timika, ibu kota Mimika.

Namia Gwijangge sangat mengecam teror KST yang kembali menelan korban. Nduga, kata dia, sangat terbuka kepada siapa pun yang datang, tinggal, dan bersama-sama bekerja. Apa pun profesinya, baik itu sopir, pedagang, karyawan kapal, buruh bangunan, karyawan toko, maupun lainnya.

”Mereka datang di Nduga untuk membangun, membantu kami bersama-sama dengan masyarakat di Nduga. Mereka cari makan, cari hidup, sama dengan yang lain,” ujar Namia ketika ditemui di RSUD Mimika.

Aksi berdarah KST itu terjadi pada Sabtu (16/7). Mereka melakukan penyerangan dan penembakan terhadap warga sipil yang mengakibatkan 10 nyawa melayang dan dua orang luka-luka.

Jenazah para korban diberangkatkan dengan dua penerbangan. Kemarin sekitar pukul 12.00 WIT, lima jenazah di antaranya diterbangkan dengan Lion Air ke Makassar.

Di antaranya, jenazah Taufan Amir, 42; Daeng Marannu/Maramli, 42; dan Sirajuddin, 27. Lalu, Mahmud Ismaun, 53, diterbangkan ke Palu, Sulawesi Tengah, dan Yuda Gurusinga, 22, dengan tujuan Medan, Sumatera Utara.

Jenazah Yulius Watu, 23; Hubertus Goti, 41; dan Johanes, 26; dengan tujuan Nusa Tenggara Timur diterbangkan dengan pesawat Batik Air melalui Makassar untuk selanjutnya ke Surabaya dan tujuan akhir Labuan Bajo.

Namia menuturkan, semua masyarakat di Nduga berhak dilindungi dan mendapat pengayoman dari pemerintah. Pemkab Nduga juga akan bekerja sama dengan TNI dan Polri serta seluruh elemen yang ada untuk mengambil langkah dalam melindungi masyarakat. Diharapkan, teror pada Sabtu lalu merupakan peristiwa terakhir di Nduga.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/