alexametrics
25.2 C
Gorontalo
Monday, May 23, 2022

Penjelasan Polda Metro Jaya Setelah Tolak Laporan Roy Suryo Terhadap Menteri…

GORONTALOPOST.ID–Polda Metro Jaya menolak laporan pakar Telematika Roy Suryo terhadap Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas. Polisi berdalih laporan tak bisa diterima karena waktu dan tempat peristiwanya bukan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

“Karena locus delictinya di Riau, bukan di Jakarta,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan kepada wartawan, Jumat (25/2).

Atas dasar itu, Polda Metro Jaya mengarahkan pelapor membuat laporan di Polda Riau sesuai waktu dan tempat peristiwa terjadi. Atau membuat laporan di Bareskrim Polri. “Makanya disarankan itu di Bareskrim lapornya,” jelas Zulpan.

Seperti diketahui, Menag mengatakan bahwa suara-suara pengeras suara (toa) di masjid merupakan bentuk syiar, hanya saja, jika dinyalakan dalam waktu bersamaan akan menimbulkan ketidakharmonisan suara.

“Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa?” kata dia di Gedung Daerah Provinsi Riau, Rabu (23/2).

“Suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak jadi gangguan. Speaker di musala-masjid silakan dipakai, tetapi tolong diatur agar tidak ada terganggu,” lanjutnya.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID–Polda Metro Jaya menolak laporan pakar Telematika Roy Suryo terhadap Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas. Polisi berdalih laporan tak bisa diterima karena waktu dan tempat peristiwanya bukan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

“Karena locus delictinya di Riau, bukan di Jakarta,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan kepada wartawan, Jumat (25/2).

Atas dasar itu, Polda Metro Jaya mengarahkan pelapor membuat laporan di Polda Riau sesuai waktu dan tempat peristiwa terjadi. Atau membuat laporan di Bareskrim Polri. “Makanya disarankan itu di Bareskrim lapornya,” jelas Zulpan.

Seperti diketahui, Menag mengatakan bahwa suara-suara pengeras suara (toa) di masjid merupakan bentuk syiar, hanya saja, jika dinyalakan dalam waktu bersamaan akan menimbulkan ketidakharmonisan suara.

“Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa?” kata dia di Gedung Daerah Provinsi Riau, Rabu (23/2).

“Suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak jadi gangguan. Speaker di musala-masjid silakan dipakai, tetapi tolong diatur agar tidak ada terganggu,” lanjutnya.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/