alexametrics
27.4 C
Gorontalo
Friday, May 27, 2022

PANAS! Ahli Kriminologi Ungkap Eskalasi Radikalisme Naik Usai 212, Said Didu…

GORONTALOPOST.ID–Ahli Kriminologi UI, Arijani Lasmawati menilai aksi massa 212 munculkan paham radikalisme. Hal itu langsung ditanggapi Mantan sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu.

Dilansir dari Fajar.co,id,  Said Didu mengatakan, pernyataan Lasmawati berdasarkan kesimpulan yang dipaksakan. “Ibu Doktor yth Anda buat kesimpulan yang dipaksakan (jumping conclusion),” tulis Didu di Twitter-nya, Kamis 27 Januari 2022.

Didu mengatakan, Lasmawati menyimpulkan hanya dengan melihat beberapa sampel yang dia temui di aksi 212.

Analisa Lasmawati dianggap salah fatal. Sebab aksi 212 terbuka bagi siapa saja. “Sampel hanya 4 orang. Analisis casual salah sangat fatal karena 212 kejadian terbuka, siapa saja bisa datang,” sebutnya.

Didu menilai, jika sampel hanya diambil satu dua orang, maka itu belum bisa diambil satu kesimpulan dari sebuah penelitian.

“Jika Ibu wawancara pencopet yang datang ke 212, Ibu simpulkan bahwa 212 kelompok pencopet? Belajar lagi ya Bu,” tutur Said Didu.

Arijani Lasmawati sebelumnya menyarankan pemerintah untuk waspadai gerakan radikalisme menjelang Pemilu 2024. Dia mencontohkan pada Pilgub DKI Jakarta 2017 dengan aksi 212.

“Kontestasi politik di Pilgub DKI Jakarta dan Pilpres 2019, terutama dengan adanya aksi massa 212, mengeskalasi perkembangan radikalisme di Indonesia,” kata Arijani lewat meeting zoom di Jakarta.

Pernyataan tersebut ia utarakan ketika dalam seminar riset bertajuk, “Pelibatan Remaja dalam Kejahatan Terorisme di Indonesia sebagai Designated Victim.”

Arijani, mewawancarai empat orang perwakilan mantan anggota kelompok teror. Melalui wawancara tersebut, ia memperoleh informasi bahwa kelompok-kelompok radikal secara aktif membawa keempat orang tersebut untuk turut serta masuk ke pusaran kontestasi politik.

“Aksi massa 212 tidak bisa dimungkiri merupakan sebuah peristiwa yang muncul akibat carut-marutnya Pilgub DKI waktu itu,” ucap dia.

“Perkumpulan massa dalam kondisi yang sangat besar dan padat, serta di dalam media sosial menjadi perbincangan. Itulah yang saya potret sebagai eskalasi,” tuturnya.(fin/fajar)

GORONTALOPOST.ID–Ahli Kriminologi UI, Arijani Lasmawati menilai aksi massa 212 munculkan paham radikalisme. Hal itu langsung ditanggapi Mantan sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu.

Dilansir dari Fajar.co,id,  Said Didu mengatakan, pernyataan Lasmawati berdasarkan kesimpulan yang dipaksakan. “Ibu Doktor yth Anda buat kesimpulan yang dipaksakan (jumping conclusion),” tulis Didu di Twitter-nya, Kamis 27 Januari 2022.

Didu mengatakan, Lasmawati menyimpulkan hanya dengan melihat beberapa sampel yang dia temui di aksi 212.

Analisa Lasmawati dianggap salah fatal. Sebab aksi 212 terbuka bagi siapa saja. “Sampel hanya 4 orang. Analisis casual salah sangat fatal karena 212 kejadian terbuka, siapa saja bisa datang,” sebutnya.

Didu menilai, jika sampel hanya diambil satu dua orang, maka itu belum bisa diambil satu kesimpulan dari sebuah penelitian.

“Jika Ibu wawancara pencopet yang datang ke 212, Ibu simpulkan bahwa 212 kelompok pencopet? Belajar lagi ya Bu,” tutur Said Didu.

Arijani Lasmawati sebelumnya menyarankan pemerintah untuk waspadai gerakan radikalisme menjelang Pemilu 2024. Dia mencontohkan pada Pilgub DKI Jakarta 2017 dengan aksi 212.

“Kontestasi politik di Pilgub DKI Jakarta dan Pilpres 2019, terutama dengan adanya aksi massa 212, mengeskalasi perkembangan radikalisme di Indonesia,” kata Arijani lewat meeting zoom di Jakarta.

Pernyataan tersebut ia utarakan ketika dalam seminar riset bertajuk, “Pelibatan Remaja dalam Kejahatan Terorisme di Indonesia sebagai Designated Victim.”

Arijani, mewawancarai empat orang perwakilan mantan anggota kelompok teror. Melalui wawancara tersebut, ia memperoleh informasi bahwa kelompok-kelompok radikal secara aktif membawa keempat orang tersebut untuk turut serta masuk ke pusaran kontestasi politik.

“Aksi massa 212 tidak bisa dimungkiri merupakan sebuah peristiwa yang muncul akibat carut-marutnya Pilgub DKI waktu itu,” ucap dia.

“Perkumpulan massa dalam kondisi yang sangat besar dan padat, serta di dalam media sosial menjadi perbincangan. Itulah yang saya potret sebagai eskalasi,” tuturnya.(fin/fajar)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/