alexametrics
23 C
Gorontalo
Friday, August 19, 2022

BESAR BANGET! Dua Tersangka Baru Kasus Garuda Bikin Negara Alami Kerugian Hingga Rp 8,8 Triliun

GORONTALOPOST.ID–Kejaksaan Agung (Kejagung) mengumumkan dua tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat di Garuda Indonesia.

Mereka adalah Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo. Keduanya disangkakan terlibat dalam praktik rasuah yang mengakibatkan kerugian keuangan negara mencapai Rp 8,8 triliun.

Angka sebesar itu muncul setelah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyelesaikan audit.

”Kami mendapat penyerahan hasil audit kerugian negara (dalam kasus dugaan korupsi di Garuda Indonesia) senilai Rp 8,8 triliun,” ungkap Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dalam jumpa pers di Jakarta kemarin (27/6).

Emirsyah merupakan mantan direktur utama Garuda Indonesia, sedangkan Soetikno eks direktur utama PT Mugi Rekso Abadi.

Garuda Indonesia merugi Rp 8,8 triliun setelah maskapai pelat merah itu melakukan pengadaan pesawat Bombardier CRJ 1000 NG dan ATR 72-600 sebanyak 23 unit.

Menurut Burhanuddin, penetapan tersangka Emirsyah dan Soetikno dilakukan melalui ekspose oleh tim penyidik pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejagung.

Dua nama tersebut pernah diproses hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat. Emirsyah divonis delapan tahun penjara, sedangkan Soetikno dihukum enam tahun penjara.

Keduanya juga masih menjalani hukuman penjara di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin. Karena itu, Kejagung tidak menahan mereka berdua meski sudah diumumkan sebagai tersangka.

Lebih lanjut, Burhanuddin menyampaikan, dalam menangani kasus-kasus di badan usaha milik negara (BUMN), Kejagung tidak hanya melakukan tindakan represif. Mereka juga membantu pemerintah membersihkan BUMN dari praktik curang seperti korupsi.

”Kami, selain represif, juga melakukan restrukturisasi perusahaan-perusahaan yang menimbulkan kerugian,” katanya. ’’Contohnya, PT Jiwasraya dan PT ASABRI,” lanjutnya.

Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi kolaborasi antara Kejaksaan Agung dan kementerian yang dirinya pimpin yang kembali berhasil mengungkap kasus di BUMN.

”Ini bukti bahwa kita mau berkolaborasi dengan baik antarinstansi pemerintah. Dengan dikelola secara profesional dan transparan, mampu menghasilkan yang terbaik bagi negara,” ujarnya.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID–Kejaksaan Agung (Kejagung) mengumumkan dua tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat di Garuda Indonesia.

Mereka adalah Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo. Keduanya disangkakan terlibat dalam praktik rasuah yang mengakibatkan kerugian keuangan negara mencapai Rp 8,8 triliun.

Angka sebesar itu muncul setelah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyelesaikan audit.

”Kami mendapat penyerahan hasil audit kerugian negara (dalam kasus dugaan korupsi di Garuda Indonesia) senilai Rp 8,8 triliun,” ungkap Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dalam jumpa pers di Jakarta kemarin (27/6).

Emirsyah merupakan mantan direktur utama Garuda Indonesia, sedangkan Soetikno eks direktur utama PT Mugi Rekso Abadi.

Garuda Indonesia merugi Rp 8,8 triliun setelah maskapai pelat merah itu melakukan pengadaan pesawat Bombardier CRJ 1000 NG dan ATR 72-600 sebanyak 23 unit.

Menurut Burhanuddin, penetapan tersangka Emirsyah dan Soetikno dilakukan melalui ekspose oleh tim penyidik pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejagung.

Dua nama tersebut pernah diproses hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat. Emirsyah divonis delapan tahun penjara, sedangkan Soetikno dihukum enam tahun penjara.

Keduanya juga masih menjalani hukuman penjara di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin. Karena itu, Kejagung tidak menahan mereka berdua meski sudah diumumkan sebagai tersangka.

Lebih lanjut, Burhanuddin menyampaikan, dalam menangani kasus-kasus di badan usaha milik negara (BUMN), Kejagung tidak hanya melakukan tindakan represif. Mereka juga membantu pemerintah membersihkan BUMN dari praktik curang seperti korupsi.

”Kami, selain represif, juga melakukan restrukturisasi perusahaan-perusahaan yang menimbulkan kerugian,” katanya. ’’Contohnya, PT Jiwasraya dan PT ASABRI,” lanjutnya.

Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi kolaborasi antara Kejaksaan Agung dan kementerian yang dirinya pimpin yang kembali berhasil mengungkap kasus di BUMN.

”Ini bukti bahwa kita mau berkolaborasi dengan baik antarinstansi pemerintah. Dengan dikelola secara profesional dan transparan, mampu menghasilkan yang terbaik bagi negara,” ujarnya.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/