alexametrics
26.5 C
Gorontalo
Tuesday, August 9, 2022

TANGIS HISTERIS Ibunda Brigadir J, Teriak Nama Jokowi dan Panglima TNI: Tolong Kami, Anakku Disiksa

GORONTALOPOST.ID – Rosti Simanjuntak tak kuasa menahan emosi dan air mata ketika mengikuti proses ekshumasi jenazah putranya, Brigadir Polisi Nopriansyah Yosua Hutabarat. Kemarin (27/7) pagi ekshumasi jenazah Yosua berjalan sesuai rencana.

Doa bersama yang disiapkan oleh pihak keluarga juga terlaksana. Sejak pukul 06.00, keluarga Brigadir Yosua sudah berdatangan ke Tempat Pemakaman Umum Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi.

Samuel Hutabarat, ayah mendiang Yosua, mendampingi Rosti. Mereka berdua ditemani oleh satu kakak dan dua adik Yosua. Selain itu, sejumlah kerabat turut menyaksikan proses ekshumasi. Mereka ikut mendoakan mendiang Yosua sebelum diangkat dari pemakamannya. Doa bersama berlangsung mulai pukul 06.50. Ibadah kebaktian menjelang pengangkatan jenazah dipimpin oleh pendeta yang sudah disiapkan keluarga.

Rosti tampak berusaha tegar. Namun, menjelang doa bersama selesai, dia tumbang. Tubuhnya lemas. Dia hanya bisa berteriak histeris. ”Tolong kami Yesus, tolong keadilan untuk anakku ini,” ratapnya. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rosti.

Adik Brigadir Yosua berusaha menenangkan sang ibunda. Namun, kesedihan yang begitu dalam membuat Rosti terus menjerit. Berbagai kalimat permohonan keluar dari mulut guru SD di Muaro Jambi tersebut. ”Tolong kami, tunjukkan kebenaran untuk anakku ini. Pak Presiden Jokowi, dengar ratapan anakku yang terakhir,” pintanya.

Rosti tidak terima mendengar anaknya ditembak karena melakukan pelecehan kepada istri Irjen Ferdy Sambo. ”Anakku menderita difitnah, disiksa, dianiaya. Ohhh, tolong panglima TNI. Bantu kami,” pintanya. Serupa dengan seluruh keluarga lainnya, Rosti ingin kasus yang menyeret nama Irjen Ferdy Sambo itu diselesaikan.

Lemas tubuhnya, kalut pikirannya tidak lantas membuat Rosti lupa bahwa Yosua adalah anak yang begitu dia kasihi. Dia didik, dia besarkan dengan penuh kasih sayang. ”Aku mengandung, mengasuh anakku. Tulus, tulus anakku lakukan tugas. Tolong bantu, tolong anakku,” imbuhnya. Jeritan Rosti saat proses ekshumasi menunjukkan betapa dirinya masih sangat terluka.

Hanya suami, anak, dan keluarga dekat yang bisa menjadi penguat. Menjadi pelipur lara bagi Rosti. Roslin Simanjuntak, adik Rosti, mengaku bahwa ibunda Yosua yang paling terakhir mengetahui temuan sejumlah luka di tubuh Yosua.

Keluarga besarnya sepakat tidak memberi tahu Rosti. ”Kami menjaga karena ibunya (Brigadir Yosua) masih syok,” imbuhnya. Namun, tetap saja Rosti akhirnya tahu. Dia mendengar dan melihat berita.

Dari sana Rosti kemudian bertanya. Benarkah luka-luka itu ada? ”Baru dua hari (sebelum ekshumasi) kami lihatkan. Nangislah dia,” ucap Roslin.

Sebelumnya, Rosti hanya melihat luka-luka di wajah Yosua. Dia tidak melihat langsung luka-luka lain di tubuh putra kedua di antara empat bersaudara itu. Tidak heran, begitu tahu, pikirannya langsung ke mana-mana. Dia yakin Yosua tidak meninggal dunia akibat baku tembak.

Setelah otopsi dilakukan dan jenazah akan dimakamkan kembali, Rosti lagi-lagi histeris. Pun demikian saat pemakaman Yosua dilakukan kemarin sore. Rosti kembali berteriak dan meminta tolong agar peristiwa yang menyebabkan putranya meninggal dunia diungkap sampai tuntas. Serupa Rosti, adik bungsu Yosua yang juga berdinas di Polri tidak kuasa menahan air matanya. Dalam proses pemakaman itu, sang adik tampak menitikkan air mata.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID – Rosti Simanjuntak tak kuasa menahan emosi dan air mata ketika mengikuti proses ekshumasi jenazah putranya, Brigadir Polisi Nopriansyah Yosua Hutabarat. Kemarin (27/7) pagi ekshumasi jenazah Yosua berjalan sesuai rencana.

Doa bersama yang disiapkan oleh pihak keluarga juga terlaksana. Sejak pukul 06.00, keluarga Brigadir Yosua sudah berdatangan ke Tempat Pemakaman Umum Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi.

Samuel Hutabarat, ayah mendiang Yosua, mendampingi Rosti. Mereka berdua ditemani oleh satu kakak dan dua adik Yosua. Selain itu, sejumlah kerabat turut menyaksikan proses ekshumasi. Mereka ikut mendoakan mendiang Yosua sebelum diangkat dari pemakamannya. Doa bersama berlangsung mulai pukul 06.50. Ibadah kebaktian menjelang pengangkatan jenazah dipimpin oleh pendeta yang sudah disiapkan keluarga.

Rosti tampak berusaha tegar. Namun, menjelang doa bersama selesai, dia tumbang. Tubuhnya lemas. Dia hanya bisa berteriak histeris. ”Tolong kami Yesus, tolong keadilan untuk anakku ini,” ratapnya. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rosti.

Adik Brigadir Yosua berusaha menenangkan sang ibunda. Namun, kesedihan yang begitu dalam membuat Rosti terus menjerit. Berbagai kalimat permohonan keluar dari mulut guru SD di Muaro Jambi tersebut. ”Tolong kami, tunjukkan kebenaran untuk anakku ini. Pak Presiden Jokowi, dengar ratapan anakku yang terakhir,” pintanya.

Rosti tidak terima mendengar anaknya ditembak karena melakukan pelecehan kepada istri Irjen Ferdy Sambo. ”Anakku menderita difitnah, disiksa, dianiaya. Ohhh, tolong panglima TNI. Bantu kami,” pintanya. Serupa dengan seluruh keluarga lainnya, Rosti ingin kasus yang menyeret nama Irjen Ferdy Sambo itu diselesaikan.

Lemas tubuhnya, kalut pikirannya tidak lantas membuat Rosti lupa bahwa Yosua adalah anak yang begitu dia kasihi. Dia didik, dia besarkan dengan penuh kasih sayang. ”Aku mengandung, mengasuh anakku. Tulus, tulus anakku lakukan tugas. Tolong bantu, tolong anakku,” imbuhnya. Jeritan Rosti saat proses ekshumasi menunjukkan betapa dirinya masih sangat terluka.

Hanya suami, anak, dan keluarga dekat yang bisa menjadi penguat. Menjadi pelipur lara bagi Rosti. Roslin Simanjuntak, adik Rosti, mengaku bahwa ibunda Yosua yang paling terakhir mengetahui temuan sejumlah luka di tubuh Yosua.

Keluarga besarnya sepakat tidak memberi tahu Rosti. ”Kami menjaga karena ibunya (Brigadir Yosua) masih syok,” imbuhnya. Namun, tetap saja Rosti akhirnya tahu. Dia mendengar dan melihat berita.

Dari sana Rosti kemudian bertanya. Benarkah luka-luka itu ada? ”Baru dua hari (sebelum ekshumasi) kami lihatkan. Nangislah dia,” ucap Roslin.

Sebelumnya, Rosti hanya melihat luka-luka di wajah Yosua. Dia tidak melihat langsung luka-luka lain di tubuh putra kedua di antara empat bersaudara itu. Tidak heran, begitu tahu, pikirannya langsung ke mana-mana. Dia yakin Yosua tidak meninggal dunia akibat baku tembak.

Setelah otopsi dilakukan dan jenazah akan dimakamkan kembali, Rosti lagi-lagi histeris. Pun demikian saat pemakaman Yosua dilakukan kemarin sore. Rosti kembali berteriak dan meminta tolong agar peristiwa yang menyebabkan putranya meninggal dunia diungkap sampai tuntas. Serupa Rosti, adik bungsu Yosua yang juga berdinas di Polri tidak kuasa menahan air matanya. Dalam proses pemakaman itu, sang adik tampak menitikkan air mata.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/