alexametrics
28.8 C
Gorontalo
Friday, July 1, 2022

Tak Hanya UAS, Ini Deretan Penceramah yang Ditolak Masuk Singapura

GORONTALOPOST.ID–Singapura menolak penceramah Ustad Abdul Somad (UAS) untuk masuk. Singapura menyebut UAS menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura. Sebenarnyanya tak hanya UAS yang ditolak oleh Singapura. Sejumlah penceramah lainnya juga pernah ditolak masuk Singapura.

JawaPos.com merangkum sejumlah penceramah yang sempat ditolak masuk Singapura selain UAS. Mereka adalah penceramah dari Zimbabwe dan Malaysia. Yakni Ismail Menk lebih dikenal sebagai Mufti Menk dari Zimbabwe, serta Haslin Baharim dari Malaysia.

Ismail Menk (Zimbabwe)

Mufti Menk atau Ismail Menk dilarang berkhotbah di Singapura sejak 2015. Mengutip situs Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA), Menk dinilai kerap berceramah yang berpotensi memecah belah umat beragama dan menimbulkan segregasi.

Menk disebut telah berceramah bahwa adalah dosa dan kejahatan terbesar bagi seorang Muslim untuk mengucapkan Selamat Natal atau Selamat Deepavali dengan non-Muslim. Menk pun dilarang memasuki Singapura.

“Ismail Menk telah ditolak aplikasi Miscellaneous Work Pass untuk berdakwah di Singapura. Mereka tidak akan diizinkan untuk menyiasati larangan dengan berkhotbah meski di kapal pesiar yang beroperasi dari dan ke Singapura,” kata Kemnterian Dalam Negeri Singapura (MHA) dalam pernyataannya seperti dilansir Straits Times.

Haslin Baharim (Malaysia)

Singapura menolak Haslin Baharim karena dianggap ceramahnya bisa mengganggu ketidakharmonisan antarumat beragama. MHA meyebut Haslin telah menyatakan pandangan yang bisa memecah belah umat Muslim dan non-Muslim.

Aplikasi izin kerja Haslin pun ditolak oleh Singapura pada awal 2017. “Haslin tidak akan diizinkan untuk berdakwah di kapal pesiar yang beroperasi ke dan dari Singapura,” kata MHA saat itu.

Ustad Abdul Somad (Indonesia)

Kementerian Dalam Negeri (MHA) Singapura menjelaskan alasan menolak kedatangan UAS. Singapura menyebut UAS menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama di Singapura.

Singapura membenarkan bahwa UAS tiba di Terminal Feri Tanah Merah Singapura pada 16 Mei 2022 dari Batam dengan enam pendamping. UAS kemudian diwawancarai pihak imigrasi, setelah itu kelompok tersebut ditolak masuk ke Singapura dan ditempatkan di feri dan kembali ke Batam pada hari yang sama.

“UAS dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura,” sebut pernyataan MHA Singapura.

Pemerintah Singapura juga memberikan contoh-contoh kasus penggalan ceramah UAS. Salah satunya soal konflik Israel dan Palestina.

“Misalnya, UAS telah berceramah bahwa bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dianggap sebagai operasi syahid. Dia juga membuat komentar yang merendahkan komunitas agama lain, seperti Kristen, dengan menggambarkan salib sebagai tempat tinggal jin (roh/setan) kafir. Selain itu, UAS secara terbuka menyebut non-Muslim sebagai kafir,” kata MHA.

Pemerintah Singapura menegaskan masuknya pengunjung ke Singapura tidak otomatis atau hak. Setiap kasus dinilai berdasarkan kategorinya sendiri.

“Sementara UAS berusaha memasuki Singapura dengan pura-pura untuk kunjungan sosial, Pemerintah Singapura memandang serius siapa pun yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ajaran ekstremis dan segregasi. UAS dan teman perjalanannya ditolak masuk ke Singapura,” tegas MHA.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID–Singapura menolak penceramah Ustad Abdul Somad (UAS) untuk masuk. Singapura menyebut UAS menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura. Sebenarnyanya tak hanya UAS yang ditolak oleh Singapura. Sejumlah penceramah lainnya juga pernah ditolak masuk Singapura.

JawaPos.com merangkum sejumlah penceramah yang sempat ditolak masuk Singapura selain UAS. Mereka adalah penceramah dari Zimbabwe dan Malaysia. Yakni Ismail Menk lebih dikenal sebagai Mufti Menk dari Zimbabwe, serta Haslin Baharim dari Malaysia.

Ismail Menk (Zimbabwe)

Mufti Menk atau Ismail Menk dilarang berkhotbah di Singapura sejak 2015. Mengutip situs Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA), Menk dinilai kerap berceramah yang berpotensi memecah belah umat beragama dan menimbulkan segregasi.

Menk disebut telah berceramah bahwa adalah dosa dan kejahatan terbesar bagi seorang Muslim untuk mengucapkan Selamat Natal atau Selamat Deepavali dengan non-Muslim. Menk pun dilarang memasuki Singapura.

“Ismail Menk telah ditolak aplikasi Miscellaneous Work Pass untuk berdakwah di Singapura. Mereka tidak akan diizinkan untuk menyiasati larangan dengan berkhotbah meski di kapal pesiar yang beroperasi dari dan ke Singapura,” kata Kemnterian Dalam Negeri Singapura (MHA) dalam pernyataannya seperti dilansir Straits Times.

Haslin Baharim (Malaysia)

Singapura menolak Haslin Baharim karena dianggap ceramahnya bisa mengganggu ketidakharmonisan antarumat beragama. MHA meyebut Haslin telah menyatakan pandangan yang bisa memecah belah umat Muslim dan non-Muslim.

Aplikasi izin kerja Haslin pun ditolak oleh Singapura pada awal 2017. “Haslin tidak akan diizinkan untuk berdakwah di kapal pesiar yang beroperasi ke dan dari Singapura,” kata MHA saat itu.

Ustad Abdul Somad (Indonesia)

Kementerian Dalam Negeri (MHA) Singapura menjelaskan alasan menolak kedatangan UAS. Singapura menyebut UAS menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama di Singapura.

Singapura membenarkan bahwa UAS tiba di Terminal Feri Tanah Merah Singapura pada 16 Mei 2022 dari Batam dengan enam pendamping. UAS kemudian diwawancarai pihak imigrasi, setelah itu kelompok tersebut ditolak masuk ke Singapura dan ditempatkan di feri dan kembali ke Batam pada hari yang sama.

“UAS dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura,” sebut pernyataan MHA Singapura.

Pemerintah Singapura juga memberikan contoh-contoh kasus penggalan ceramah UAS. Salah satunya soal konflik Israel dan Palestina.

“Misalnya, UAS telah berceramah bahwa bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dianggap sebagai operasi syahid. Dia juga membuat komentar yang merendahkan komunitas agama lain, seperti Kristen, dengan menggambarkan salib sebagai tempat tinggal jin (roh/setan) kafir. Selain itu, UAS secara terbuka menyebut non-Muslim sebagai kafir,” kata MHA.

Pemerintah Singapura menegaskan masuknya pengunjung ke Singapura tidak otomatis atau hak. Setiap kasus dinilai berdasarkan kategorinya sendiri.

“Sementara UAS berusaha memasuki Singapura dengan pura-pura untuk kunjungan sosial, Pemerintah Singapura memandang serius siapa pun yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ajaran ekstremis dan segregasi. UAS dan teman perjalanannya ditolak masuk ke Singapura,” tegas MHA.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/