alexametrics
24.3 C
Gorontalo
Sunday, May 22, 2022

Penularan Omicron Tinggi, WHO Kembali Ingkatkan Pandemi Belum Berakhir

GORONTALOPOST.ID – Badan Kesehatan Dunia atau WHO kembali mengingatkan bahwa pandemi belum berakhir.

Pejabat senior WHO Dr Bruce Aylward memperingatkan, penularan Omicron yang begitu tinggi memberi virus tersebut lebih banyak kesempatan untuk bereplikasi dan bermutasi. Itu memperbesar risiko adanya varian baru yang bakal muncul.

’’Kami mendengar banyak orang menyatakan bahwa Omicron adalah varian terakhir dan setelahnya (pandemi) berakhir. Itu tidak akan terjadi karena virus ini beredar pada tingkat yang sangat intens di seluruh dunia,’’ terang Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis Covid-19 WHO, menegaskan pernyataan Aylward.

Sepanjang pekan lalu, ada 19 juta penularan baru yang diyakini dipicu Omicron. Itu naik 20 persen dari pekan sebelumnya. Data riil di lapangan mungkin bisa jauh lebih banyak karena banyak kasus yang tidak dilaporkan.

Omicron kerap menimbulkan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala. Hal itu membuat orang lengah.

Pernyataan Van Kerkhove tersebut mungkin menanggapi penelitian para ilmuwan di Afrika. Mereka menyatakan bahwa kelompok yang tertular Omicron akan membangun kekebalan terhadap varian Delta.

Dengan adanya Omicron yang bergejala ringan dan kekebalan pada varian Delta yang ganas, mereka menyimpulkan pandemi mungkin segera berakhir.

WHO meminta tiap negara kembali menegakkan aturan jaga jarak dan pemakaian masker. Harapannya, itu bisa membuat penularan virus terkontrol dan mengurangi beban rumah sakit. Jika tidak, krisis selanjutnya akan terjadi. Pemerintah juga didorong untuk berinvestasi ke sistem pelacakan virus dan mutasinya.

’’Jangan abaikan ilmu pengetahuan,’’ tegas Van Kerkhove. (Jawa Pos)

GORONTALOPOST.ID – Badan Kesehatan Dunia atau WHO kembali mengingatkan bahwa pandemi belum berakhir.

Pejabat senior WHO Dr Bruce Aylward memperingatkan, penularan Omicron yang begitu tinggi memberi virus tersebut lebih banyak kesempatan untuk bereplikasi dan bermutasi. Itu memperbesar risiko adanya varian baru yang bakal muncul.

’’Kami mendengar banyak orang menyatakan bahwa Omicron adalah varian terakhir dan setelahnya (pandemi) berakhir. Itu tidak akan terjadi karena virus ini beredar pada tingkat yang sangat intens di seluruh dunia,’’ terang Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis Covid-19 WHO, menegaskan pernyataan Aylward.

Sepanjang pekan lalu, ada 19 juta penularan baru yang diyakini dipicu Omicron. Itu naik 20 persen dari pekan sebelumnya. Data riil di lapangan mungkin bisa jauh lebih banyak karena banyak kasus yang tidak dilaporkan.

Omicron kerap menimbulkan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala. Hal itu membuat orang lengah.

Pernyataan Van Kerkhove tersebut mungkin menanggapi penelitian para ilmuwan di Afrika. Mereka menyatakan bahwa kelompok yang tertular Omicron akan membangun kekebalan terhadap varian Delta.

Dengan adanya Omicron yang bergejala ringan dan kekebalan pada varian Delta yang ganas, mereka menyimpulkan pandemi mungkin segera berakhir.

WHO meminta tiap negara kembali menegakkan aturan jaga jarak dan pemakaian masker. Harapannya, itu bisa membuat penularan virus terkontrol dan mengurangi beban rumah sakit. Jika tidak, krisis selanjutnya akan terjadi. Pemerintah juga didorong untuk berinvestasi ke sistem pelacakan virus dan mutasinya.

’’Jangan abaikan ilmu pengetahuan,’’ tegas Van Kerkhove. (Jawa Pos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/