alexametrics
24.7 C
Gorontalo
Saturday, November 27, 2021

1.346 Anak Idap Diabetes Melitus, Orang Tua Wajib Baca Ini!

GORONTALOPOST.ID– Menurut data yang dimiliki oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ada 1346 anak yang mengidap diabetes melitus. Dari jumlah itu, 167 anak mengidap diabetes tipe 2. Jumlah ini diyakini merupakan fenomena gunung es.

Ketua Umum IDAI dr Piprim B Yanuarso SpA(K) menjelaskan bahwa Indonesia memiliki masalah dalam pencatatan jumlah kasus riil. Dia meyakini bahwa di luar data yang dimiliki, masih banyak anak yang mengidap diabetes. Mereka tidak tercatat entah karena tidak ke layanan kesehatan atau malah meninggal dunia sebelum diobati.

”Diperlukan peran orang tua dalam edukasi,” ujarnya. Hal ini karena pemeriksaan dan perawatan anak yang mengalami diabetes lebih sulit jika dibandingkan orang dewasa yang mengidap. Untuk itu orang tua harus menyadari bahwa diabetes mellitus tidak hanya diderita oleh orang yang sudah lanjut usia, tapi juga bisa terjadi pada anak.

Menjaga pola makan sangat diperlukan. Piprim menyatakan bahwa hal yang paling mudah dan murah adalah mengontrol asupan makanan si kecil daripada mengobatinya. Sebab penyakit ini berlangsung tahunan dan hanya bisa dikendalikan.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Endrokirnologi IDAI dr Muhammad Faizi SpA mengatakan bahwa anak yang mengidap diabetes tipe 1 acap kali tidak bergejala. ”Ada pasien yang datang sudah dalam keadaan koma,” tuturnya. Diabetes tipe ini merupakan kerusakan pada sel beta pankreas. Sehingga tubuh kekurangan insulin.

Selanjutnya diabetes tipe 2 acap kali dialami oleh anak obesitas. Bisa juga terjadi pada anak yang kurang gerak. Yang mengkhawatirkan adalah 70 persen anak penyandang diabetes pernah mengalami kadar guula yang tinggi, sesak napas, hingga koma.

Sementara itu Executive Director International Pediatric Association (IPA) Prof dr Aman Pulungan SpA(K) menjelaskan bahwa akses insulin di tanah air masih belum merata. Bahkan bisa dikatakan masih rendah. Padahal insulin ini diperlukan oleh penyandang diabetes tipe 1. ”Akses insulin ini tidak merata padahal pasien ada di mana-mana,” ujarnya.

Akses insulin biasanya mudah ditemukan pada rumah sakit tipe A atau B. Tapi pada rumah sakit tipe C dan D sulit ditemukan. Salah satu alasannya bahwa rumah sakit tipe C dan D dianggap tidak kompeten dalam memberikan insulin. ”Insulin hanya di kota besar di Pulau Jawa,” kata Aman. (jawapos)

GORONTALOPOST.ID– Menurut data yang dimiliki oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ada 1346 anak yang mengidap diabetes melitus. Dari jumlah itu, 167 anak mengidap diabetes tipe 2. Jumlah ini diyakini merupakan fenomena gunung es.

Ketua Umum IDAI dr Piprim B Yanuarso SpA(K) menjelaskan bahwa Indonesia memiliki masalah dalam pencatatan jumlah kasus riil. Dia meyakini bahwa di luar data yang dimiliki, masih banyak anak yang mengidap diabetes. Mereka tidak tercatat entah karena tidak ke layanan kesehatan atau malah meninggal dunia sebelum diobati.

”Diperlukan peran orang tua dalam edukasi,” ujarnya. Hal ini karena pemeriksaan dan perawatan anak yang mengalami diabetes lebih sulit jika dibandingkan orang dewasa yang mengidap. Untuk itu orang tua harus menyadari bahwa diabetes mellitus tidak hanya diderita oleh orang yang sudah lanjut usia, tapi juga bisa terjadi pada anak.

Menjaga pola makan sangat diperlukan. Piprim menyatakan bahwa hal yang paling mudah dan murah adalah mengontrol asupan makanan si kecil daripada mengobatinya. Sebab penyakit ini berlangsung tahunan dan hanya bisa dikendalikan.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Endrokirnologi IDAI dr Muhammad Faizi SpA mengatakan bahwa anak yang mengidap diabetes tipe 1 acap kali tidak bergejala. ”Ada pasien yang datang sudah dalam keadaan koma,” tuturnya. Diabetes tipe ini merupakan kerusakan pada sel beta pankreas. Sehingga tubuh kekurangan insulin.

Selanjutnya diabetes tipe 2 acap kali dialami oleh anak obesitas. Bisa juga terjadi pada anak yang kurang gerak. Yang mengkhawatirkan adalah 70 persen anak penyandang diabetes pernah mengalami kadar guula yang tinggi, sesak napas, hingga koma.

Sementara itu Executive Director International Pediatric Association (IPA) Prof dr Aman Pulungan SpA(K) menjelaskan bahwa akses insulin di tanah air masih belum merata. Bahkan bisa dikatakan masih rendah. Padahal insulin ini diperlukan oleh penyandang diabetes tipe 1. ”Akses insulin ini tidak merata padahal pasien ada di mana-mana,” ujarnya.

Akses insulin biasanya mudah ditemukan pada rumah sakit tipe A atau B. Tapi pada rumah sakit tipe C dan D sulit ditemukan. Salah satu alasannya bahwa rumah sakit tipe C dan D dianggap tidak kompeten dalam memberikan insulin. ”Insulin hanya di kota besar di Pulau Jawa,” kata Aman. (jawapos)

Must read

More articles

Latest article