24.5 C
Gorontalo
Sunday, November 27, 2022

Laskar Manguni Indonesia Tolak Penceramah Radikal, Singgung Kasus UAS dan…

GORONTALOPOST.ID – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPD) Laskar Manguni Indonesia (LMI) Pdt Hanny Pantouw STh mengeluarkan pernyataan sikap.

Bahwa ditegaskan Pantouw, LMI menolak kehadiran ataupun keberadaan penceramah dari agama apapun yang dalam isi ceramahnya membawa perpecahan dan ujaran kebencian. Sehingga bisa mengancam kerukunan antar umat beragama di Sulawesi Utara (Sulut) yang terkenal akan semboyan hidup rukun dan damai.

“Kami menolak penceramah radikal. Agar jangan sampai karena ceramah-ceramah radikal kemudian membuat warga Sulut yang berbeda agama merasa saling curiga,” tegas Pantouw kepada Manado Post, Sabtu (21/5/2022).

Pantouw menegaskan, LMI dan LSM lainnya di Sulut akan berada di garda terdepan untuk melakukan penolakan apabila ada penceramah-penceramah radikal di Sulut.

Termasuk menolak kedatangan penceramah radikal untuk datang di Bumi Nyiur Melambai.
Karena menurut Pantouw, selama ini kerukunan antar umat beragama di Sulut sudah terpelihara dengan baik.

Sebagai contoh, ungkap Pantouw, saat bulan Ramadhan beberapa waktu lalu dirinya diundang oleh beberapa pengurus Masjid di Sulut untuk bersilaturahmi.

“Kami saling menjaga tali silaturahmi dan kerukunan. Karena dengan hidup rukun dan damai, berkat pasti mengalir kepada kita semua,” ujar Pantouw.

Adapun pernyataan tegas Pantouw sebagai bentuk warning akan adanya penolakan terhadap Ustaz Abdul Somad (UAS) di Singapura beberapa waktu lalu. Di mana penolakan di Singapura terhadap UAS dengan beberapa alasan di antaranya karena UAS dianggap menyebarkan ajaran ekstrimis dan segregasi.

Hal itu dinilai tidak menghargai Singapura yang multi ras dan agama. Hal ini kemudian membuat Pantouw sebagai Ketua LMI menolak adanya penceramah yang menyerupai ceramah UAS yang berpotensi memecah kerukunan di Sulut. (gre/can)

GORONTALOPOST.ID – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPD) Laskar Manguni Indonesia (LMI) Pdt Hanny Pantouw STh mengeluarkan pernyataan sikap.

Bahwa ditegaskan Pantouw, LMI menolak kehadiran ataupun keberadaan penceramah dari agama apapun yang dalam isi ceramahnya membawa perpecahan dan ujaran kebencian. Sehingga bisa mengancam kerukunan antar umat beragama di Sulawesi Utara (Sulut) yang terkenal akan semboyan hidup rukun dan damai.

“Kami menolak penceramah radikal. Agar jangan sampai karena ceramah-ceramah radikal kemudian membuat warga Sulut yang berbeda agama merasa saling curiga,” tegas Pantouw kepada Manado Post, Sabtu (21/5/2022).

Pantouw menegaskan, LMI dan LSM lainnya di Sulut akan berada di garda terdepan untuk melakukan penolakan apabila ada penceramah-penceramah radikal di Sulut.

Termasuk menolak kedatangan penceramah radikal untuk datang di Bumi Nyiur Melambai.
Karena menurut Pantouw, selama ini kerukunan antar umat beragama di Sulut sudah terpelihara dengan baik.

Sebagai contoh, ungkap Pantouw, saat bulan Ramadhan beberapa waktu lalu dirinya diundang oleh beberapa pengurus Masjid di Sulut untuk bersilaturahmi.

“Kami saling menjaga tali silaturahmi dan kerukunan. Karena dengan hidup rukun dan damai, berkat pasti mengalir kepada kita semua,” ujar Pantouw.

Adapun pernyataan tegas Pantouw sebagai bentuk warning akan adanya penolakan terhadap Ustaz Abdul Somad (UAS) di Singapura beberapa waktu lalu. Di mana penolakan di Singapura terhadap UAS dengan beberapa alasan di antaranya karena UAS dianggap menyebarkan ajaran ekstrimis dan segregasi.

Hal itu dinilai tidak menghargai Singapura yang multi ras dan agama. Hal ini kemudian membuat Pantouw sebagai Ketua LMI menolak adanya penceramah yang menyerupai ceramah UAS yang berpotensi memecah kerukunan di Sulut. (gre/can)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/